<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1741614431014675042</id><updated>2012-02-03T13:26:13.534+07:00</updated><category term='Ekonomi'/><category term='Pertanyaan'/><category term='Mijen'/><category term='2009'/><category term='Hindu'/><category term='Download'/><category term='Astrologi Bali'/><category term='Makrab'/><category term='Bhakti'/><category term='Seni'/><category term='Sains'/><category term='Artikel'/><category term='Wallpaper'/><category term='Tuhan'/><category term='Kejahatan'/><category term='Alam'/><category term='Agama'/><category term='Spiritual'/><category term='Senam'/><category term='Tari'/><category term='bhagawad gita'/><category term='KMHS'/><category term='Jadwal'/><category term='Lokha Sabha'/><category term='Giri Natha'/><category term='Kembali Ke Hindu'/><category term='Ramalan'/><category term='Lobha'/><category term='Meditasi'/><category term='Pancawara'/><category term='Wuku'/><category term='Dosa'/><category term='Vedic'/><category term='Marga'/><category term='Moha'/><category term='17an'/><category term='Penyakit'/><category term='Kalender Bali'/><category term='Tahun Baru'/><category term='Karma'/><category term='Kunjungan'/><category term='Kebenaran'/><category term='Website Hindu'/><category term='Mantra'/><category term='Yoga'/><category term='Foto'/><category term='Pura'/><category term='Dharma'/><category term='Siwa'/><category term='Krisis'/><category term='Mind'/><category term='Tirta Yatra'/><category term='Peradah'/><category term='Saptawara'/><category term='Kemah'/><category term='software'/><category term='Veda'/><category term='Organisasi'/><category term='Kegiatan'/><category term='Rohani'/><title type='text'>PERADAH INDONESIA KOTA SEMARANG</title><subtitle type='html'>Explore The Spirit Of Hindu Youth</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://peradah-semarang.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1741614431014675042/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://peradah-semarang.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Peradah Indonesia Kota Semarang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03051917880292458968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_QfiMQ_o3mBM/SVcyOJLGmKI/AAAAAAAAAA8/ofE6lUHNEp4/S220/logo_peradah.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>78</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1741614431014675042.post-2161704137950673297</id><published>2012-02-03T13:22:00.001+07:00</published><updated>2012-02-03T13:24:00.046+07:00</updated><title type='text'>Sejarah dan Makna Hari Raya Galungan</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-LrTocQnSvzY/Tyt8oNSYLaI/AAAAAAAAAKo/ojqlPei5YBs/s1600/421579_2535060307119_1571915344_31946886_78721169_n.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-LrTocQnSvzY/Tyt8oNSYLaI/AAAAAAAAAKo/ojqlPei5YBs/s320/421579_2535060307119_1571915344_31946886_78721169_n.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kata “Galungan” berasal dari bahasa Jawa Kuna yang artinya menang  atau bertarung. Galungan juga sama artinya dengan Dungulan, yang juga  berarti menang. Karena itu di Jawa, wuku yang kesebelas disebut Wuku  Galungan, sedangkan di Bali wuku yang kesebelas itu disebut Wuku  Dungulan. Namanya berbeda, tapi artinya sama saja. Seperti halnya di  Jawa dalam rincian pancawara ada sebutan Legi sementara di Bali disebut  Umanis, yang artinya sama: manis.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Agak sulit untuk memastikan  bagaimana asal-usul Hari Raya Galungan ini. Kapan sebenarnya Galungan  dirayakan pertamakali di Indonesia, terutama di Jawa dan di daerah lain  khususnya di Bali.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Drs. I Gusti Agung Gede Putra (mantan Dirjen  Bimas Hindu dan Buddha Departemen Agama RI) memperkirakan, Galungan  telah lama dirayakan umat Hindu di Indonesia sebelum hari raya itu  populer dirayakan di Pulau Bali. Dugaan ini didasarkan pada lontar  berbahasa Jawa Kuna yang bernama Kidung Panji Amalat Rasmi.&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tetapi,  kapan tepatnya Galungan itu dirayakan di luar Bali dan apakah namanya  juga sama Galungan, masih belum terjawab dengan pasti. Namun di Bali,  ada sumber yang memberikan titik terang. Menurut lontar Purana Bali  Dwipa, Galungan pertama kali dirayakan pada hari Purnama Kapat, Budha  Kliwon Dungulan, tahun Saka 804 atau tahun 882 Masehi. Dalam lontar itu  disebutkan:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Punang aci Galungan ika ngawit, Bu, Ka, Dungulan sasih kacatur, tanggal 15, isaka 804. Bangun indria Buwana ikang Bali rajya.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Artinya:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perayaan  (upacara) Hari Raya Galungan itu pertama-tama adalah pada hari Rabu  Kliwon, (Wuku) Dungulan sasih kapat tanggal 15, tahun 804 Saka. Keadaan  Pulau Bali bagaikan Indra Loka.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sejak itu Galungan terus dirayakan  oleh umat Hindu di Bali secara meriah. Setelah Galungan ini dirayakan  kurang lebih selama tiga abad, tiba-tiba — entah apa dasar  pertimbangannya — pada tahun 1103 Saka perayaan hari raya itu  dihentikan. Itu terjadi ketika Raja Sri Ekajaya memegang tampuk  pemerintahan. Galungan juga belum dirayakan ketika tampuk pemerintahan  dipegang Raja Sri Dhanadi. Selama Galungan tidak dirayakan, konon  musibah datang tak henti-henti. Umur para pejabat kerajaan konon menjadi  relatif pendek.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika Sri Dhanadi mangkat dan digantikan Raja  Sri Jayakasunu pada tahun 1126 Saka, barulah Galungan dirayakan kembali,  setelah sempat terlupakan kurang lebih selama 23 tahun. Keterangan ini  bisa dilihat pada lontar Sri Jayakasunu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam lontar tersebut  diceritakan bahwa Raja Sri Jayakasunu merasa heran mengapa raja dan  pejabat-pejabat raja sebelumnya selalu berumur pendek. Untuk mengetahui  penyebabnya, Raja Sri Jayakasunu mengadakan tapa brata dan samadhi di  Bali yang terkenal dengan istilah Dewa Sraya — artinya mendekatkan diri  pada Dewa. Dewa Sraya itu dilakukan di Pura Dalem Puri, tak jauh dari  Pura Besakih.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karena kesungguhannya melakukan tapa brata, Raja Sri  Jayakasunu mendapatkan pawisik atau “bisikan religius” dari Dewi  Durgha, sakti dari Dewa Siwa. Dalam pawisik itu Dewi Durgha menjelaskan  kepada raja bahwa leluhurnya selalu berumur pendek karena tidak lagi  merayakan Galungan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karena itu Dewi Durgha meminta kepada Raja Sri  Jayakasunu supaya kembali merayakan Galungan setiap Rabu Kliwon  Dungulan sesuai dengan tradisi yang pernah berlaku. Di samping itu  disarankan pula supaya seluruh umat Hindu memasang penjor pada hari  Penampahan Galungan (sehari sebelum Galungan).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Disebutkan pula,  inti pokok perayaan hari Penampahan Galungan adalah melaksanakan byakala  yaitu upacara yang bertujuan untuk melepaskan kekuatan negatif (Buta  Kala) dari diri manusia dan lingkungannya. Semenjak Raja Sri Jayakasunu  mendapatkan bisikan religius itu, Galungan dirayakan lagi dengan hikmat  dan meriah oleh umat Hindu di Bali.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Makna Filosofis Galungan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Galungan adalah suatu upacara sakral yang memberikan kekuatan spiritual  agar mampu membedakan mana dorongan hidup yang berasal dari adharma dan  mana dari budhi atma yaitu berupa suara kebenaran (dharma) dalam diri  manusia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selain itu juga memberi kemampuan untuk membeda-bedakan  kecendrungan keraksasaan (asura sampad) dan kecendrungan kedewaan (dewa  sampad). Harus disadari bahwa hidup yang berbahagia atau ananda adalah  hidup yang memiliki kemampuan untuk menguasai kecenderungan keraksasaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Galungan  adalah juga salah satu upacara agama Hindu untuk mengingatkan manusia  secara ritual dan spiritual agar selalu memenangkan Dewi Sampad untuk  menegakkan dharma melawan adharma. Dalam lontar Sunarigama, Galungan dan  rincian upacaranya dijelaskan dengan mendetail. Mengenai makna Galungan  dalam lontar Sunarigama dijelaskan sebagai berikut:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Budha Kliwon Dungulan Ngaran Galungan patitis ikang janyana samadhi, galang apadang maryakena sarwa byapaning idep&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Artinya:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rabu  Kliwon Dungulan namanya Galungan, arahkan ber-satunya rohani supaya  mendapatkan pandangan yang terang untuk melenyapkan segala kekacauan  pikiran. Jadi, inti Galungan adalah menyatukan kekuatan rohani agar  mendapat pikiran dan pendirian yang terang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bersatunya rohani dan  pikiran yang terang inilah wujud dharma dalam diri. Sedangkan segala  kekacauan pikiran itu (byaparaning idep) adalah wujud adharma. Dari  konsepsi lontar Sunarigama inilah didapatkan kesimpulan bahwa hakikat  Galungan adalah merayakan menangnya dharma melawan adharma.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untuk  memenangkan dharma itu ada serangkaian kegiatan yang dilakukan sebelum  dan setelah Galungan. Sebelum Galungan ada disebut Sugihan Jawa dan  Sugihan Bali. Kata “Jawa” di sini sama dengan “Jaba”, artinya luar.  Sugihan Jawa bermakna menyucikan bhuana agung (bumi ini) di luar dari  manusia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sugihan Jawa dirayakan pada hari Wrhaspati Wage Wuku  Sungsang, enam hari sebelum Galungan. Dalam lontar Sundarigama  disebutkan bahwa pada hari Sugihan Jawa itu merupakan Pasucian dewa  kalinggania pamrastista batara kabeh (Penyucian Dewa, karena itu hari  penyucian semua bhatara).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pelaksanaan upacara ini adalah dengan  membersihkan segala tempat dan peralatan upacara di masing-masing tempat  suci. Sedangkan pada hari Jumat Kliwon Wuku Sungsang disebutkan:  Kalinggania amretista raga tawulan (Oleh karenanya menyucikan badan  jasmani masing- masing).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karena itu Sugihan Bali disebutkan  menyucikan diri sendiri. Kata “bali” dalam bahasa Sansekerta berarti  kekuatan yang ada di dalam diri. Dan itulah yang disucikan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada  Redite Paing Wuku Dungulan diceritakan Sang Kala Tiga Wisesa turun  mengganggu manusia. Karena itulah pada hari tersebut dianjurkan anyekung  jñana, artinya: mendiamkan pikiran agar jangan dimasuki oleh Butha  Galungan. Dalam lontar itu juga disebutkan “nirmalakena” (orang yang  pikirannya selalu suci) tidak akan dimasuki oleh Butha Galungan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada  hari Senin Pon Dungulan disebut Penyajaan Galungan. Pada hari ini orang  yang paham tentang yoga dan samadhi melakukan pemujaan. Dalam lontar  disebutkan, “Pangastawaning sang ngamong yoga samadhi.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada hari  Anggara Wage wuku Dungulan disebutkan Penampahan Galungan. Pada hari  inilah dianggap sebagai hari untuk mengalahkan Butha Galungan dengan  upacara pokok yaitu membuat banten byakala yang disebut “pamyakala lara  melaradan”. Umat kebanyakan pada hari ini menyembelih babi sebagai  binatang korban. Namun makna sesungguhnya adalah pada hari ini hendaknya  membunuh sifat-sifat kebinatangan yang ada pada diri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Demikian  urutan upacara yang mendahului Galungan. Setelah hari raya Galungan  yaitu hari Kamis Umanis wuku Dungulan disebut Manis Galungan. Pada hari  ini umat mengenang betapa indahnya kemenangan dharma. Umat pada umumnya  melampiaskan kegembiraan dengan mengunjungi tempat-tempat hiburan  terutama panorama yang indah. Juga mengunjungi sanak saudara sambil  bergembira-ria.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hari berikutnya adalah hari Sabtu Pon Dungulan  yang disebut hari Pemaridan Guru. Pada hari ini, dilambangkan dewata  kembali ke sorga dan meninggalkan anugrah berupa “kadirghayusaan” yaitu  hidup sehat panjang umur. Pada hari ini umat dianjurkanmenghaturkan  canang meraka&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;dan “matirta gocara”. Upacara tersebut barmakna, umat menikmati waranugraha Dewata.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1741614431014675042-2161704137950673297?l=peradah-semarang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1741614431014675042/posts/default/2161704137950673297'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1741614431014675042/posts/default/2161704137950673297'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://peradah-semarang.blogspot.com/2012/02/sejarah-dan-makna-hari-raya-galungan.html' title='Sejarah dan Makna Hari Raya Galungan'/><author><name>Peradah Indonesia Kota Semarang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03051917880292458968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_QfiMQ_o3mBM/SVcyOJLGmKI/AAAAAAAAAA8/ofE6lUHNEp4/S220/logo_peradah.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-LrTocQnSvzY/Tyt8oNSYLaI/AAAAAAAAAKo/ojqlPei5YBs/s72-c/421579_2535060307119_1571915344_31946886_78721169_n.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1741614431014675042.post-7093618306476292699</id><published>2011-12-28T07:26:00.001+07:00</published><updated>2012-02-03T13:26:13.546+07:00</updated><title type='text'>from Hukum Hindu</title><content type='html'>&lt;div class="gmail_quote"&gt;&lt;div&gt;&lt;h2&gt;&lt;a href="http://www.hukumhindu.com/panca-satya/" target="_blank"&gt;Panca Satya&lt;/a&gt;&lt;/h2&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Panca berarti lima, Satya berarti sikap menjungjung tinggi kebenaran, kesetiaan, dan kejujuran. Dalam sloka satya Hindu disebutkan semboyan "Satyam evam jayate na nrtam" artinya hanya kebenaranlah yang menang bukan kejahatan. Ada 5 macam sikap Satya yaitu : a. Satya Wacana ,Satya wacana adalah setia, jujur dan benar dalam berkata-kata. Tidak mengucapkan kata-kata yang tidak sopan yang disebut "wak purusya". b. Satya Hredaya Satya hredaya adalah setia terhadap kebenaran dan kejujuran kat &lt;a href="http://www.hukumhindu.com/panca-satya/" target="_blank"&gt;Baca Selengkapnya..&lt;/a&gt;&lt;span class="HOEnZb"&gt;&lt;span style="color: #888888;"&gt;   &lt;i&gt;Hukum Hindu &lt;span title="Wed, 07 Dec 2011 14:41:22 +0000"&gt;07 Dec, 2011&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="HOEnZb"&gt;&lt;span style="color: #888888;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="HOEnZb"&gt;&lt;span style="color: #888888;"&gt;--&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="HOEnZb"&gt;&lt;span style="color: #888888;"&gt;Source: &lt;a href="http://www.hukumhindu.com/panca-satya/" target="_blank"&gt;http://www.hukumhindu.com/panca-satya/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;~&lt;br /&gt;&lt;a href="http://rssforward.com/subscriptions/810b86870a2cece55ee5cde0579bb21b/edit" target="_blank"&gt;Manage subscription&lt;/a&gt; | Powered by &lt;a href="http://rssforward.com/?footer" target="_blank"&gt;rssforward.com&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1741614431014675042-7093618306476292699?l=peradah-semarang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1741614431014675042/posts/default/7093618306476292699'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1741614431014675042/posts/default/7093618306476292699'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://peradah-semarang.blogspot.com/2011/12/from-hukum-hindu.html' title='from Hukum Hindu'/><author><name>Peradah Indonesia Kota Semarang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03051917880292458968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_QfiMQ_o3mBM/SVcyOJLGmKI/AAAAAAAAAA8/ofE6lUHNEp4/S220/logo_peradah.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1741614431014675042.post-888257598044587372</id><published>2011-12-28T07:17:00.001+07:00</published><updated>2011-12-28T07:17:35.086+07:00</updated><title type='text'>Guru Belog Megandong, Krama Bali Angkih-Angkih – Bagian 2</title><content type='html'>&lt;div class="gmail_quote"&gt;&lt;div&gt; Para pendatang sangat senang merebut sumber-sumber rejekinya Krama Bali karena daya saing Krama Bali lumpuh. Sumber rejeki yang ada di depan hidungnya tidak dihiraukannya sehingga kaum pendatang dengan mudah mengambil alih. Krama Bali selalu sibuk diajak berkorban untuk para Bhuta Kala agar "somya" katanya. Bukannya "somya" (damai) yang didapat, tetapi yang didapat malah berbagai penyimpangan prilaku [...] &lt;p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;i&gt;ngarayana &lt;span title="Tue, 27 Dec 2011 06:00:14 +0000"&gt;27 Dec, 2011&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="HOEnZb"&gt;&lt;font color="#888888"&gt;&lt;br&gt;    &lt;p&gt;&lt;/p&gt; &lt;br&gt;--&lt;br&gt;Source: &lt;a href="http://narayanasmrti.com/2011/12/27/guru-belog-megandong-krama-bali-angkih-angkih-bagian-2/" target="_blank"&gt;http://narayanasmrti.com/2011/12/27/guru-belog-megandong-krama-bali-angkih-angkih-bagian-2/&lt;/a&gt;&lt;br&gt; ~&lt;br&gt;&lt;a href="http://rssforward.com/subscriptions/08c0b92b0b7f98892c1e904b1729945d/edit" target="_blank"&gt;Manage subscription&lt;/a&gt; | Powered by &lt;a href="http://rssforward.com/?footer" target="_blank"&gt;rssforward.com&lt;/a&gt;&lt;/font&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;br&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1741614431014675042-888257598044587372?l=peradah-semarang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1741614431014675042/posts/default/888257598044587372'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1741614431014675042/posts/default/888257598044587372'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://peradah-semarang.blogspot.com/2011/12/guru-belog-megandong-krama-bali-angkih.html' title='Guru Belog Megandong, Krama Bali Angkih-Angkih – Bagian 2'/><author><name>Peradah Indonesia Kota Semarang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03051917880292458968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_QfiMQ_o3mBM/SVcyOJLGmKI/AAAAAAAAAA8/ofE6lUHNEp4/S220/logo_peradah.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1741614431014675042.post-1732541018977293800</id><published>2011-11-26T07:41:00.001+07:00</published><updated>2011-11-26T07:49:21.083+07:00</updated><title type='text'>Daftar Pura Di Semarang dan Sekitarnya</title><content type='html'>&lt;br /&gt;JAWA TENGAH&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kota Semarang&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Pura Agung Giri Natha&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Jl. Sumbing No.12, Semarang&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-zX-pBM2vDC0/TtAyQK2seII/AAAAAAAAAJk/e5pKEe898zY/s1600/bunga.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="245" src="http://4.bp.blogspot.com/-zX-pBM2vDC0/TtAyQK2seII/AAAAAAAAAJk/e5pKEe898zY/s320/bunga.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;2&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Pura Amertha Sari&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;Jl. Udan Riris Perum. Tlogosari, Pedungan Semarang&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;3&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Pura Widya Saraswati&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Komplek AKPOL, Semarang&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://k.minus.com/jNa5PMJw0aZkO.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="245" src="http://k.minus.com/jNa5PMJw0aZkO.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;4&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Pura Satya Dharma&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;Dk. Kongkong, Ds. Ngadirgo, Kec. Mijen, Semarang&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://k.minus.com/jYYGaurd4aP3z.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="245" src="http://k.minus.com/jYYGaurd4aP3z.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;5&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Pura Buana Mandala&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;Wonoplembon, Mijan, Semarang&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://k.minus.com/j9eAm9nl0YzNE.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="245" src="http://k.minus.com/j9eAm9nl0YzNE.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kab. Semarang&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;6&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Pura Giri Suci&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;Jl. Raya Bendungan Km. 1.5 Ambarawa, Semarang&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;7&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Pura Surya Loka&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Jl. Sukirno Dk.. Garung Desa Ngempin Rt.Rw. 06 Kec. Ambarawa&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;8&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Pura Tirta Loka&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;Desa Asinan Rt. 05 Rw. 02, Kec.Bawen, Semarang&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kab. Kendal&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;9&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Pura Dharma Eka Jati&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Suking, Ds. Sumberejo, Kec. Kaliwungu, Kendal&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;10&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Pura Sita Nirmala Jati&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Kalipiru, Kalirejo Kec. Singorojo&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;11&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Pura Sari Asta Sakti&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;Dk. Ngandong, Ds. Plososari, Kec. Patean&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;12&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Pura Wisnu Sakti&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;Dk. Blimbing, Ds. Mlatiharjo, Kec. Patehan&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1741614431014675042-1732541018977293800?l=peradah-semarang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1741614431014675042/posts/default/1732541018977293800'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1741614431014675042/posts/default/1732541018977293800'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://peradah-semarang.blogspot.com/2011/11/daftar-pura-di-semarang-dan-sekitarnya.html' title='Daftar Pura Di Semarang dan Sekitarnya'/><author><name>Peradah Indonesia Kota Semarang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03051917880292458968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_QfiMQ_o3mBM/SVcyOJLGmKI/AAAAAAAAAA8/ofE6lUHNEp4/S220/logo_peradah.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-zX-pBM2vDC0/TtAyQK2seII/AAAAAAAAAJk/e5pKEe898zY/s72-c/bunga.JPG' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1741614431014675042.post-3334964972176158272</id><published>2011-11-25T22:33:00.001+07:00</published><updated>2011-11-25T22:39:33.587+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dharma'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Spiritual'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rohani'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hindu'/><title type='text'>Sadhana sederhana ala tetua Bali by Rumah Dharma - Hindu Indonesia</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; text-align: left;"&gt;&lt;em&gt;Dalam kehidupan sehari-hari, pikiran dapat dimurnikan dengan keramahan dan kehangatan kepada mereka yang sedang bahagia, welas asih dan kebaikan kepada mereka yang sedang sengsara, mendukung dan membantu orang-orang yang baik hati, serta tidak menghakimi dan menilai [bersikap netral] kepada orang-orang yang kita rasa jahat atau salah.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; text-align: left;"&gt;[Yoga Sutra 1.33]&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/227202_10150188654879454_297283204453_6663298_7298527_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/227202_10150188654879454_297283204453_6663298_7298527_n.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ada seorang sahabat di Facebook yang datang kepada saya dan berkata, ”saya kurang memahami ajaran dharma, tolong berikan kepada saya cara sadhana [disiplin religius] yang sederhana dan mudah diingat, tapi sekaligus mendalam. Biar saya praktek-kan secara sungguh-sungguh setiap saat”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjawab pertanyaan seperti ini, sangat layak bila kita menengok kembali pedoman sederhana dari tetua kita di Pulau Bali. Jaman dahulu &amp;nbsp;sarana komunikasi tidaklah semudah sekarang. Tidak ada percetakan yang dalam sekejap bisa mencetak ribuan buku, tidak ada tv, tidak ada internet, dll. Terlebih lagi jaman dahulu banyak sekali orang yang buta huruf dan pola pikirnya sederhana. Sehingga oleh para tetua kita yang bijak, dalam berbagai segi ajaran dharma berusaha diajarkan sesederhana mungkin agar mudah dipahami dan diingat, sehingga mudah juga dilaksanakan.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya di banyak desa-desa tua di Bali, sadhana disimpulkan sebagai tiga hal saja, yaitu : kesabaran mendalam, baik hati dan selalu tersenyum pada apapun yang terjadi. Sederhana dan mudah diingat, tapi kalau dilaksanakan dengan tekun dan sungguh-sungguh setiap saat, ini ajaran dharma yang mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;-KESABARAN MENDALAM-&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://a8.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/230989_10150189083534454_297283204453_6666224_5827328_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="271" src="http://a8.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/230989_10150189083534454_297283204453_6666224_5827328_n.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam banyak kejadian, kesabaran tidak cukup kuat untuk meniadakan kemarahan dan kebencian, sehingga terperosoklah manusia ke dalam roda lingkaran kebencian yang tidak mengenal musim. Bagi yang tersakiti, ia menumbuhkan luka bathin dan energi dendam yang sewaktu-waktu bisa meledak. Bagi yang menyakiti, ia menghadirkan ancang-ancang kebencian juga, karena merasa akan dibalas. Yang paling menyedihkan, ia menumbuhkan rasa tidak percaya dan saling mencurigai dalam jangka waktu panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia umumnya rindu kebahagian dan menolak penderitaan untuk kemudian kehilangan dua kesempatan emas dalam hidup. Pertama kehilangan kekuatan yang sangat besar dari dalam diri bernama kesabaran dan kerelaan. Kedua, justru melalui tempaan-tempaan penderitaan itulah bathin manusia bisa ditempa menjadi kuat dan tangguh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penderitaan tidaklah seburuk yang kita kira. Bahkan di jalan dharma, penderitaan adalah pembuka jalan menuju penerangan, karena :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Penderitaan adalah kesempatan untuk membayar hutang karma. Salah satu sebab kita lahir ke dunia adalah karena kita harus membayar hutang karma. Jatuh sakit, kena musibah dan disakiti orang lain adalah kesempatan untuk membayar hutang karma. Hutang karma kita kepada orang lain, mahluk lain, alam semesta dan kesalahan2 masa lalu. Siapa saja yg melawannya dengan protes dan kemarahan, tidak saja gagal membayar hutang karma, tapi bisa jadi malah membuat hutang karma yg baru. Sebaliknya siapa saja yang bisa menyambutnya dengan damai, penuh welas asih dan hati yang bersih, ia sedang membayar hutang karma untuk kemudian bebas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Penderitaan adalah kesempatan untuk memurnikan bathin. Tidak mungkin kita menjadi sabar dan bijaksana dengan hanya sebatas paham dan hafal buku suci. Tidak mungkin kita menjadi sabar dan bijaksana dengan hanya sebatas belajar dari satguru. Kesabaran dan kebijaksanaan paling mungkin diajarkan oleh kehidupan yang berat-sulit atau oleh orang-orang yang mencaci dan menyakiti kita. Tapi dengan syarat, kita bisa diam dan tidak marah.&amp;nbsp;Rasa sakit hati, marah, tidak puas, benci, apalagi iri hati adalah sebuah pertanda alamiah bahwa bathin kita masih banyak kerak-kerak kotornya.&amp;nbsp;Kualitas bathin kita tidak mungkin bisa bertambah bersih kalau kita tidak pernah menderita, kesusahan, dicaci, dihina dan disakiti. Rasa terganggu, rasa sakit, kesedihan dan penderitaan bukan alasan untuk memicu kemarahan dan ketidakpuasan, melainkan latihan dan pembersihan yang membuat bathin kita semakin jernih, sabar, tenang dan bijaksana dari hari ke hari. Sehingga segala bentuk penderitaan bukanlah racun dalam kehidupan kita, tapi kekuatan kebaikan yang membukakan cahaya kesadaran di dalam diri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak yang salah memahami kesabaran sebagai sebuah kelemahan dan kesalahan, padahal kesabaran merupakan sebuah kekuatan “dari dalam” yang dapat membuat bathin manusia demikian kuat dan tangguh, yang membuka jalan guna merealisasi pikiran tenang-seimbang. Karena dari kesabaran inilah kemudian kejernihan, keheningan dan kedamaian mulai bisa bersemi dalam bathin. Ini bukanlah satu pilihan hidup bagi orang yang berhati lemah, melainkan bagi para pemberani. Karena kalau bisa damai, sejuk dan tidak menyakiti saat dipuji dan dihormati itu anak TK juga bisa. Tapi kalau bisa tetap damai, sejuk dan tidak menyakiti saat dicerca dan dilecehkan, itulah mereka yang memiliki bathin dewa [daiwa sampad], sekokoh batu karang dan sejernih mata air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesabaran itu terbatas atau tidak terbatas ? Terserah diri kita sendiri. Kalau kesabaran kita terbatas, kita sedang membuat diri kita menjadi manusia. Tapi kalau kita bisa membuat kesabaran kita tidak terbatas, kita sedang membuat diri kita mendekati sifat-sifat Brahman. Karena salah satu ciri Brahman itu adalah tidak terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;-BAIK HATI -&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://a3.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/230718_10150189079209454_297283204453_6666201_3065928_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="201" src="http://a3.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/230718_10150189079209454_297283204453_6666201_3065928_n.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup kita, seluruh eksistensi kita sebagai mahluk, mulai dari lahir sampai mati, sesungguhnya dipenuhi oleh welas asih dan kebaikan orang lain dan mahluk lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita sering-sering bertengkar dengan orang tua, tidak cocok dengan tetangga, konflik dengan keluarga, dll, itu pertanda kita "sakit" secara spiritual. Dan obat penyembuhan terbaik di jalan dharma adalah welas asih dan kebaikan kita untuk orang lain dan mahluk lain. Manah shanti [peace of mind] baru bisa muncul tunasnya di dalam bathin ketika kita mulai menemukan kebahagiaan dalam membahagiakan orang lain. Ketika kita dengan tekun mempraktekkan welas asih dan kebaikan dalam keseharian, kita tidak saja sedang menyegarkan bathin orang lain, tapi kita juga sedang menyegarkan bathin kita sendiri. Dan sesungguhnya welas asih dan kebaikan [karma baik] inilah sumber keselamatan yg berlaku abadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umumnya sebagian besar hidup kita isi dengan kegiatan untuk untuk MENDAPAT [uang, jabatan, kasih sayang, berkah, kepuasan seks, makan, masuk surga, dll]. Tapi langkah pertama di jalan dharma adalah MEMBERI [tidak hanya materi, tapi senyuman, pertolongan, kerelaan, kebaikan, dll juga pemberian]. Memberi, memberi dan memberi. Karena dengan memberi kita akan mengalami tahap-tahap pemurnian bathin. Dalam logika orang duniawi, memberi akan membuat kita tidak mendapat apa-apa. Tapi dalam pengalaman para yogi, kita justru menjadi kaya secara spiritual setelah banyak memberi. Karena dengan memberi kita belajar memperkecil ke-aku-an [ahamkara], belajar melepaskan dan belajar terhubung secara kosmik dengan segala yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita ingin bahagia, praktek-kan welas asih dan kebaikan. Kalau kita ingin orang lain bahagia, praktek-kan welas asih dan kebaikan. Pelindung dan sumber keselamatan terbaik dalam hidup ini dan dalam roda samsara adalah welas asih dan kebaikan yang telah dilaksanakan. Karena setiap perbuatan, perkataan atau pikiran yang keluar akan bergaung ke dalam bathin, sekaligus membuka pintu baru dalam hidup. Bila perbuatan, perkataan atau pikiran yang bergaung adalah kebencian, maka pintu yang terbuka untuk kita juga adalah kebencian. Bila perbuatan, perkataan atau pikiran yang bergaung adalah welas asih, maka pintu yang terbuka untuk kita juga adalah welas asih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita melakukan kebaikan, kita tidak saja sedang menolong orang lain tapi kita juga sedang membangunkan sifat-sifat baik di dalam diri kita. Siapa saja yang tekun dan rajin melakukan kebaikan, melakukan kebaikan dan melakukan kebaikan, suatu hari kelak akan benar-benar menjadi baik. Walaupun awalnya terpaksa atau hanya ikut-ikutan, kalau tekun dilaksanakan kelak kita akan benar-benar menjadi orang yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebaikan adalah membantu orang lain atau membuat orang lain merasa lebih bahagia atau senang. Wujud kebaikan bisa dimulai dalam hal-hal kecil, misalnya kita melihat ada sampah tidak dibuang di tong sampah, kita bantu masukkan ke tong sampah. Atau ada keran yang airnya sudah penuh dan melimpah, kita bantu matikan. Atau tersenyum ramah kepada orang lain, itu juga suatu bentuk kebaikan. Kelihatannya sepele, tapi itu adalah bagian dari mendidik diri untuk penuh dengan kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebaikan adalah mengurangi penderitaan para mahluk. Bisa dimulai secara sederhana setiap saat : tidak membalas bentakan orang tua, tidak marah pada suami atau istri yang marah, tidak menyakiti anak yang nakal, tidak melawan pada yang merendahkan kita, dll. Itu semua sudah mengurangi penderitaan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebaikan yang kita lakukan tidak selalu mendapat respon berupa kebaikan. Kadang-kadang malah kebaikan dibalas dengan kejahatan. Dan ini adalah hukum alam. Seperti kalau kita menanam rumput jepang di halaman rumah kita, tidak semuanya tumbuh rumput jepang, ada juga ikut tumbuh rumput liar dan tanaman liar. Dan kita musti selalu sadar dengan hukum alam ini. Apapun yang terjadi, terimalah dengan senyuman damai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebaikan kadang diikuti oleh nasib buruk, tapi nasib buruk bukan alasan untuk menghentikan kebaikan. Terutama karena perjalanan menuju penerangan dan pembebasan memerlukan dua syarat, tabungan karma baik yang berlimpah serta kebijaksanaan yang mendalam. Sehingga selalulah ingat dan jangan pernah ragu, setiap kali ada yang memerlukan uluran tangan kita atau setiap kali kita bisa membuat orang lain lebih bahagia, lega, terhibur atau senang, katakan ke diri sendiri : KESEMPATAN MEMBANTU ITU SEDIKIT, JARANG KITA BISA MEMILIKINYA, JADI LAKUKANLAH TANPA SEDIKITPUN RASA ENGGAN ATAU KERAGUAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;-BANYAK TERSENYUM-&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://a5.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/228306_10150188658184454_297283204453_6663312_3840131_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="192" src="http://a5.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/228306_10150188658184454_297283204453_6663312_3840131_n.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senyuman memiliki nilai penting di dalam upaya untuk merealisasi keseimbangan bathin dan melampaui dualitas. Siapapun yang datang dan muncul dalam perjalanan kehidupan, apapun yang terjadi, tugas kita adalah tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba rasakan beda antara kondisi bathin kita sedang stress, depresi, sedih atau marah dibandingkan dengan kondisi bathin ketika kita tersenyum. Sangat berbeda bukan ? Dalam kondisi bathin kita sedang stress, depresi, sedih atau marah semua ingatan akan dharma beserta keluhurannya lenyap, menghilang, terlupakan. Dalam senyuman yang tulus, ikhlas dan penuh rasa syukur, bathin cenderung damai, tenang-seimbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak sekali manfaatnya kalau kita bisa mendidik diri untuk selalu tersenyum dalam setiap keadaan, apapun yang terjadi. Punya uang disambut dengan senyum damai, tidak punya uang juga disambut dengan senyum damai. Lagi sehat disambut dengan senyum damai, lagi sakit juga disambut dengan senyum damai. Dipuji orang disambut dengan senyum damai, difitnah dan dicaci orang juga disambut dengan senyum damai. Dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apapun sembahyang, mantram, upakara atau yajna kita, selalu ditutup dengan mantram paramashanti : semoga semua damai damai damai. Seolah tidak henti-hentinya mengingatkan bahwa dalam hidup ini, apapun yang terjadi kita harus selalu sejuk dan damai. Karena hanya mereka yang bathinnya sejuk dan damai, hidupnya damai dan matinya juga damai dan penuh keindahan.&amp;nbsp;Mengapa senyuman sangat penting ? Karena ia tidak hanya berguna bagi yang melihatnya, ia malah lebih berguna bagi pemilik senyuman itu. Karena senyuman menjadi jembatan antara sang diri dengan mahluk lain dan kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apapun alasannya, senyuman selayaknya selalu bersemi. Ibarat mobil yang rusak mengkarat karena tidak pernah dipakai, senyuman juga demikian. Tanpa digunakan, ia akan merusak hubungan kita dengan orang lain, membuat pintu hati kita tertutup rapat dan membuat kehidupan menjadi penuh karat, berdebu dan kurang bermanfaat.&amp;nbsp;Awalnya memang penuh rasa terpaksa. Tapi begitu menjadi kebiasaan dalam hidup, bunganya akan mekar, bersemi dan bercahaya menerangi semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PEMURNIAN BATHIN YANG MENDASAR&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaman dahulu di Bali kebanyakan orang bathinnya bersih. Walaupun ketelanjangan dimana-mana, bahkan mandi-pun bersama-sama ramai-ramai, tapi tidak ada orang selingkuh dan tidak ada prostitusi [pelacuran]. Tuntutan hidup tidak banyak dan mayoritas petani, sehingga tidak ada yang korupsi dan mencuri. Tidak ada perebutan posisi dan jabatan, yang ada malah orang menolak-nolak diberikan posisi dan jabatan karena tanggung jawabnya besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi mereka yang bathinnya bersih dan dalam hidupnya tidak tertarik melakukan hal yang aneh-aneh [selingkuh, korupsi, mencuri, berkelahi berebut posisi jabatan, dll], cukup hanya dengan sadhana sederhana yang dilaksanakan secara sungguh-sungguh : kesabaran mendalam, baik hati dan selalu tersenyum pada apapun yang terjadi, ketika meninggal dia bisa memasuki alam-alam luhur [menjadi dewa hyang] dan besar kemungkinan bisa bebas dari roda samsara [tidak terlahir kembali].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi di jaman modern ini kondisinya sudah berbeda, godaan diluar banyak sekali. Mulai dari godaan narkoba, godaan seks, godaan perselingkuhan, godaan uang [korupsi, penipuan, pencurian, dll], godaan kekuasaan dan banyak lagi lainnya.&amp;nbsp;Walaupun demikian, sadhana sederhana ala tetua Bali ini masih tetap berlaku dan layak untuk diterapkan : kesabaran mendalam, baik hati dan selalu tersenyum pada apapun yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita bisa melaksanakannya secara tekun dan sungguh-sungguh, kita akan mengalami banyak sekali pembersihan-pembersihan bathin yang sangat penting. Karena ini akan membuat kita menyelesaikan tugas pertama kita [paling penting mendasar] di jalan dharma, yaitu : memadamkan api kemarahan, rasa tidak-suka, ketersinggungan, kebencian, dendam dan iri hati, serta menyalakan cahaya welas asih dan kebaikan di dalam bathin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PENUTUP&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kesedihan dan penderitaan datang dalam hidup kita, kita memerlukan kekuatan untuk kesabaran, kerelaan dan pengorbanan diri. Ketika kebahagiaan datang dalam hidup kita, kita juga memerlukan kekuatan untuk bisa berbagi kebahagiaan dengan yg lain. Karena kesabaran menimbulkan ketenangan, rajin melakukan kebaikan menimbulkan kesejukan dan senyuman menimbulkan kedamaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini cara sederhana tapi sangat efektif. Kalau kita tekun melaksanakan semua ini dalam keseharian, tidak saja evolusi bathin kita akan maju pesat, tapi juga ini yang akan membimbing bathin merealisasi manah shanti dan sekaligus kita juga akan banyak diselamatkan dari bahaya-bahaya kehidupan yang menjerumuskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita tidak punya banyak kesempatan untuk belajar dharma atau sulit memahami ajaran dharma, cukup ingatlah satu hal saja :&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"kapan saja dan dimana saja, kita harus selalu sadar, selalu eling [ingat], selalu disiplin di dalam melaksanakan sadhana [disiplin religius] sederhana ala tetua Bali ini : kesabaran mendalam, baik hati dan selalu tersenyum pada apapun yang terjadi".&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga pikiran yang damai-harmonis-tenang-seimbang [manah shanti] itu dapat mulai terealisasi. Aum Shanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah Dharma - Hindu Indonesia alamat di&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.facebook.com/notes/rumah-dharma-hindu-indonesia/sadhana-sederhana-ala-tetua-bali/10150184614081722"&gt;http://www.facebook.com/notes/rumah-dharma-hindu-indonesia/sadhana-sederhana-ala-tetua-bali/10150184614081722&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Wraspati Pahing Kulantir, 19 Mei 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1741614431014675042-3334964972176158272?l=peradah-semarang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1741614431014675042/posts/default/3334964972176158272'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1741614431014675042/posts/default/3334964972176158272'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://peradah-semarang.blogspot.com/2011/11/sadhana-sederhana-ala-tetua-bali-by.html' title='Sadhana sederhana ala tetua Bali by Rumah Dharma - Hindu Indonesia'/><author><name>Peradah Indonesia Kota Semarang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03051917880292458968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_QfiMQ_o3mBM/SVcyOJLGmKI/AAAAAAAAAA8/ofE6lUHNEp4/S220/logo_peradah.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1741614431014675042.post-716456756444404495</id><published>2011-11-23T06:48:00.001+07:00</published><updated>2011-11-23T06:57:26.257+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kebenaran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Spiritual'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rohani'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hindu'/><title type='text'>Mengapa di pura banyak terdapat figur-figur menyeramkan ?</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://a1.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/316022_10150370705964454_297283204453_7955363_1536186812_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://a1.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/316022_10150370705964454_297283204453_7955363_1536186812_n.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;- Di dalam pura-pura di Bali tidak hanya ada figur Hyang Acintya [yang tidak terpikirkan] dan dewa-dewi, tapi juga banyak ada figur-figur menyeramkan.&lt;br /&gt;- Di Penataran Agung Pura Besakih palinggih kiwa [kegelapan, keburukan] dan tengen [kesucian, kebaikan] diletakkan sejajar dan kedudukannya sama.&lt;br /&gt;- Kita mebanten tidak hanya ke "alam-alam luhur" tapi juga ke "alam bawah. Kalau orang yang tidak paham tattva yang termuat di dalamnya, kita bisa dikira memuja setan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;Pura secara fisik memang sarat dengan simbol-simbol seram, tapi bagai sadhaka yang bathinnya sudah terdisiplinkan dari sad ripu dan dari dualitas pikiran, akan dapat melihat rahasianya, untuk kemudian terkagum-kagum. Karena ciri manusia yang sudah menyatu dalam keheningan sempurna adalah tidak ada lagi yang perlu dilawan dan ditendang. Semuanya sudah mengalir sempurna sesuai dengan putaran waktunya. Bathinnya serupa ruang yang menyediakan tempat pada apa saja dan siapa saja untuk bertumbuh, serupa langit yang memayungi semuanya, serupa matahari yang menyinari semua tanpa memilih. Sehingga tidak saja manusia dan mahluk baik yang diberi tempat dan ruang, tapi semuanya diberikan tempat dan ruang.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENJELASAN Salah satu penggerak pikiran untuk bekerja adalah ketika ada dualitas. Pikiran bekerja dengan sangat sibuk ketika Tuhan berkelahi dengan setan, benar berkelahi dengan salah, baik berkelahi dengan buruk, dihormati berkelahi dengan direndahkan, dll. Dimana ada dualitas, disana pikiran bekerja. Dualitas menyebabkan pikiran kita tidak pernah bebas. Dualitas menyebabkan pikiran kita bergerak dari satu ketidakpuasan menuju ketidakpuasan yang lain, dari satu kemarahan menuju kemarahan yang lain, dari satu konflik menuju konflik yang lain, dari satu kebencian menuju kebencian yang lain. Rasa permusuhan tinggi, konflik, tersinggung, perkelahian dan perang tidak pernah berakhir. Para maharsi yang sudah sadar, serta dalam berbagai teks-teks, bahkan secara gamblang menyebut dualitas sebagai bentuk avidya [ketidak-tahuan, kebodohan] paling berbahaya yang membuat hukum karma bekerja dan sebagai akibatnya siklus kelahiran berulang-ulang [samsara] terus terjadi. Hindu memulai perjalanan spiritual langsung di jantung persoalan pembebasan, yaitu memotong akar kelahiran. Dengan cara memotong akar kesengsaraan ini : seluruh dualitas hanya ada dalam pikiran manusia yang masih picik dan sempit. Itu sebabnya dalam ajaran Hindu kita dibekali dengan tattva ring Rwa Bhinneda, yaitu melampaui dualitas. Tidak ada kegelapan yang ditendang, tidak ada keburukan yang diajak perang. Kesucian maupun kegelapan, kebaikan maupun keburukan, keduanya diletakkan sama sejajar, serta dihormati dan disayangi secara sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan keutamaan berada diatas dualitas kiwa-tengen [baik-buruk]. Terlalu lama manusia kelelahan dalam pencarian religius dengan cara membuat Tuhan berperang dengan setan, kesucian bertempur dengan kegelapan, salah berbenturan dengan benar. Dan ketika semua peperangan, pertempuran dan benturan ini dihentikan, bathin langsung sampai kepada hakikat diri yang sejati : paramashanti. Disinilah semua unsur kehidupan dan alam semesta diolah menjadi welas asih, kedamaian dan kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks sadhana : Setiap mahluk di alam semesta ini adalah jiwatman yang mahasuci, percikan-percikan Brahman. Manusia, seekor semut, burung-burung dan termasuk mahluk-mahluk bhur loka [alam bawah], seperti bhuta kala, ashura, preta, dll. Yang membedakannya adalah putaran karma dan kualitas kesadaran masing-masing.  Rasa hormat, welas asih dan kebaikan ke keseluruhan alam semesta [kepada bhur bvah svah, tiga alam semesta dan semua mahluk di dalamnya] sangat basis dan fundamental sebagai praktek religius terpenting dan ajaran religius terpenting. Karena tanpa rasa hormat, kasih sayang dan kebaikan ke keseluruhan alam semesta, semua jalan religius menjadi berbahaya. Dan tanpa rasa hormat, kasih sayang dan kebaikan ke keseluruhan alam semesta, semua praktek religius akan menemui kegagalan.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam roda samsara, jiwa-jiwa yang terlahir di bhur loka, adalah jiwa-jiwa yang kekotoran bathinnya pekat dan karma buruknya banyak. Pahami mereka sebagai mahluk-mahluk menderita dan bukan mahluk jahat. Mereka sangat memerlukan welas asih dan kebaikan kita. Dan siapa tahu yang kita sebut bhuta kala atau ashura itu, beberapa kelahiran sebelumnya pernah menjadi orang tua kita. Tapi kebetulan karena karena kekotoran bathinnya pekat dan karma buruknya banyak, mereka mengalami kejatuhan dalam roda samsara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Mahluk-mahluk alam bawah adalah mahluk menderita yang sangat memerlukan welas asih dan kebaikan kita.&lt;br /&gt;- Orang-orang jahat adalah mahluk menderita yang sangat memerlukan welas asih dan kebaikan kita.- Dan mereka juga bagian dari "tubuh semesta" yang sama dengan kita, yaitu : Brahman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks jnana : Tidak hanya kesucian yang layak kita hormati, kegelapan juga layak kita hormati. Tidak hanya yang baik layak kita hormati, yang jahat juga layak kita hormati. Karena kegelapan atau orang jahat :&lt;br /&gt;&amp;nbsp;- Mereka sesungguhnya sedang memberikan kita kesempatan untuk membayar hutang karma. Membebaskan kita dari beban hutang karma buruk.&lt;br /&gt;- Mereka sesungguhnya sedang menyediakan dirinya untuk menjadi guru dharma tertinggi untuk kita secara gratis. Karena mereka sesungguhnya sedang melatih kita, guna membuat kita menjadi tenang, sabar dan bijaksana. &lt;br /&gt;- Dan demi seluruh sebab-sebab diatas, mereka rela menanggung karma buruk atau masuk neraka dari perbuatan mereka tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya kesucian dan kegelapan berasal dari apa yang kita pikirkan. Jika ingin damai dan sadar, selalulah berpikir positif [suci] dan menyimak baik-baik pesan-makna dari setiap kejadian. Di balik hal-hal yang kita sebut buruk, tersimpan pesan-pesan dan bimbingan semesta yang indah. Inilah tattva ring RWA BHINNEDA dalam bathin yang berkesadaran sempurna, bahwa dualitas baik-buruk suci-gelap itu sama, hanya pikiran kitalah yang membuatnya menjadi berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks kesadaran kosmik : Ajaran Hindu menyebutkan bahwa keseluruhan alam semesta [langit, matahari, bintang, bulan, bumi manusia, binatang, tetumbuhan, dewa, ashura, bhuta kala, dll], terangkai rapi kedalam jejaring kosmik yang tidak terbatas, yang tidak terpikirkan [Brahman]. Kalau sudah paham semua ini, sadar tentang hakikat ini, kita mau membenci siapa ? Mau perang dengan siapa ? Sehingga kita bisa memasuki puncak ajaran dharma, yaitu : KEHENINGAN SEMPURNA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://a8.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/383709_10150370724314454_297283204453_7955443_1243386831_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://a8.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/383709_10150370724314454_297283204453_7955443_1243386831_n.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya semuanya Brahman. Setiap atom, setiap wujud materi, setiap bentuk kehidupan. Tidak ada yang namanya dualitas kesucian-kegelapan, keburukan-kebaikan, itu hanya cara PIKIRAN mengerti dan bukan realita sebenarnya. HUKUM ALAM SEMESTA Sebagian orang memahami dharma sebagai yang benar ditegakkan dan yang salah dihancurkan. Tapi perlu diketahui bahwa ada banyak peperangan [bahkan sebagian peperangan begitu sia-sia], muncul dari orang yang menganggap dirinya dharma kemudian menganggap orang lain adharma demikian mudahnya. Brahman ada diatas dualitas benar-salah dan tentu saja tidak memihak. Salah-benar dan memihak, itu hanyalah bahasa-bahasa pikiran. Brahman adalah Hyang Acintya [yang tidak terpikirkan].&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan catatan ada hukum mutlak alam semesta yang bekerja :&lt;br /&gt;- Kalau keseharian kita bersih [penuh welas asih, penuh kebaikan, jujur, polos, dll] kita akan mudah terhubung dengan bagian dari Brahman yang mahasuci, sebaliknya kalau keseharian kita penuh kegelapan [korupsi, selingkuh, suka marah, benci, dll] kita akan mudah terhubung dengan bagian dari Brahman yang juga gelap.&lt;br /&gt;- Kalau hidup kita penuh kebaikan maka kebahagiaan dan pembebasan yang datang, kalau hidup kita di jalan adharma maka kesengsaraan yang akan datang. Benar-salah sesungguhnya ada dalam pilihan manusia. Dan putaran karma kitalah yang memihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;PENUTUP Om Bhur Bvah Svah, demikian mantra yang sering kita ucapkan. Ketiga kelompok alam semesta, beserta seluruh mahluk dan isi di dalamnya, adalah OM [Brahman]. Hal ini juga disimbolikkan pada bangunan padmasana [sebagai stana Hyang Acintya], dimana di bagian bawahnya ukiran seram-seram [lambang alam bhur], di tengahnya biasa [lambang alam bvah] dan diatasnya yang suci-suci [lambang alam svah]. Itulah sebabnya tempat suci dalam ajaran Hindu bukanlah tempat yang hanya ada yang suci-suci saja, melainkan semuanya ada disitu. Bhur, bvah, svah adalah sebuah tatanan kosmik yang menyatu rapi dalam diam dan hening. Tidak ada yang perlu ditambahkan, tidak ada yang perlu dikurangi. Semuanya sudah menyatu rapi dalam kesatuan semesta yang manunggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;Rumah Dharma - Hindu Indonesia03 November 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1741614431014675042-716456756444404495?l=peradah-semarang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1741614431014675042/posts/default/716456756444404495'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1741614431014675042/posts/default/716456756444404495'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://peradah-semarang.blogspot.com/2011/11/mengapa-di-pura-banyak-terdapat-figur.html' title='Mengapa di pura banyak terdapat figur-figur menyeramkan ?'/><author><name>Peradah Indonesia Kota Semarang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03051917880292458968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_QfiMQ_o3mBM/SVcyOJLGmKI/AAAAAAAAAA8/ofE6lUHNEp4/S220/logo_peradah.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1741614431014675042.post-4229440549022838815</id><published>2011-11-21T08:05:00.001+07:00</published><updated>2011-11-21T08:06:38.792+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kalender Bali'/><title type='text'>Kalender Bali 2012</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;img style="vertical-align: middle;" src="http://a5.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/389782_2355298675946_1054572122_32130440_276044944_n.jpg" alt="kalender bali 2012" width="480" height="360" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size: medium; font-family: 'andale mono', times;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: #333333; line-height: 14px; background-color: #ffffff;"&gt;dijual kalender bali ,bbagi yg membutuhkan silahkan hub arya wibbawa 085291381557&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size: medium; font-family: 'andale mono', times;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: #333333; line-height: 14px; background-color: #ffffff;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #333333; line-height: 14px; text-align: left; background-color: #ffffff;"&gt;atau bisa dibeli disekre peradah tiap hari minggu - Pura Agung Giri Natha smg&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size: medium; font-family: 'andale mono', times;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br style="color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 14px; text-align: left; background-color: #ffffff;" /&gt;&lt;span style="font-size: medium; font-family: 'andale mono', times;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: #333333; line-height: 14px; text-align: left; background-color: #ffffff;"&gt;cukup dengan membayar 10rb anda akan mendapat 1 kalender &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size: medium; font-family: 'andale mono', times;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: #333333; line-height: 14px; text-align: left; background-color: #ffffff;"&gt;&lt;br /&gt;murah kannn...ayoo beli..&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1741614431014675042-4229440549022838815?l=peradah-semarang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1741614431014675042/posts/default/4229440549022838815'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1741614431014675042/posts/default/4229440549022838815'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://peradah-semarang.blogspot.com/2011/11/dijual-kalender-bali-bbagi-yg.html' title='Kalender Bali 2012'/><author><name>Peradah Indonesia Kota Semarang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03051917880292458968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_QfiMQ_o3mBM/SVcyOJLGmKI/AAAAAAAAAA8/ofE6lUHNEp4/S220/logo_peradah.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1741614431014675042.post-2890659324974191853</id><published>2011-11-21T07:54:00.001+07:00</published><updated>2011-11-21T23:13:32.197+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tuhan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Spiritual'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hindu'/><title type='text'>Kutipan dari Ashtavakara Gita : Kesadaran Murni by Rumah Dharma - Hindu Indonesia</title><content type='html'>&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;em&gt;Ashtavakara Gita atau Ashtavakara Samhita adalah salah satu kitab suci Hindu, yang ditulis dalam bentuk dialog antara Ashtavakara [seorang yogi yang sudah sadar] dan Janaka [raja Kerajaan Mithila].&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;em&gt;&amp;nbsp;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;JANAKA BERTANYA&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;: Wahai yang maha mulia, bagaimanakah cara mencapai kebijaksanaan ? Dan bagaimanakah cara pembebasan terjadi ? Dan bagaimanakah ketidakterikatan dapat dicapai ? Tolong jelaskan kepadaku.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;strong&gt;ASHTAVAKRA MENJAWAB&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;: Wahai yang tersayang,&amp;nbsp;jika kau ingin terbebaskan dari racun&amp;nbsp;kesengsaraan yang disebabkan oleh berbagai nafsu, maka minumlah madu yang terbuat dari memaafkan,&amp;nbsp;kepolosan, welas asih dan kebaikan, rasa syukur serta kejujuran dan kebenaran. Kau bukan bumi [prthivi], bukan udara [vayu], bukan api [agni], bukan air [apah] dan bukan ruang [akasha]. Untuk mencapai pembebasan, maka sadarilah dirimu sebagai "sang saksi", yang selalu menyadari segala sesuatu tanpa terikat olehnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;Wahai yang berkesadaran luas, agama dan tidak beragama, kebahagiaan dan&amp;nbsp;penderitaan : semua itu berasal dari pikiran. Semua hal itu bukanlah&amp;nbsp;untukmu. Kau bukanlah subjek atau objek. Sejak semula kau telah berada&amp;nbsp;dalam keadaan terbebaskan. Kau adalah "sang saksi"&amp;nbsp;yang menyaksikan segala sesuatu. Dan pada&amp;nbsp;hakekatnya kau selalu bebas. Kau menjadi terikat karena kau selalu&amp;nbsp;melihat bahwa "sang saksi"&amp;nbsp;itu berada di luar dirimu, bukan di dalam&amp;nbsp;dirimu sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;Jika kau berkata : "AKU adalah sang pelaku", maka berarti kau telah&amp;nbsp;membiarkan ular hitam ego atau ke-AKU-an [ahamkara] mematuk dirimu. Dan jika &lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;kau sadar hakikat bahwa : "aku bukanlah sang pelaku", maka berarti kau telah meminum madu kesadaran&amp;nbsp;serta selalu hidup dalam kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;Dunia khayal ini diproyeksikan oleh pikiranmu seperti seutas tali&amp;nbsp;yang disangka sebagai seekor ular. Jika kau menyadari hal ini, maka&amp;nbsp;kau akan terberkati dengan kedamaian, kebahagiaan paripurna dan&amp;nbsp;selanjutnya kau akan mengembara dengan gembira. Orang yang menyadari&amp;nbsp;dirinya bebas, maka dia telah terbebaskan. Orang yang menganggap dirinya&amp;nbsp;terikat, maka dia selalu hidup dalam keterikatan. Dunia ini seperti&amp;nbsp;yang diungkapkan oleh sebuah pepatah kuno : "kau akan menjadi seperti&amp;nbsp;apa yang kau pikirkan".&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;Jangan katakan : "AKU adalah individu yang diproyeksikan oleh&amp;nbsp;kehidupan". Letakkan ilusi ini, letakkan juga perasaan berada di dalam&amp;nbsp;dan di luar, dan bangunlah ke dalam pemikiranmu bahwa kau adalah Yang&amp;nbsp;Tak Berubah, Kesadaran-Murni tanpa dualitas.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;Alam semesta ini meluas ke segenap penjuru oleh dirimu. Alam semesta&amp;nbsp;ini terus meluas di dalam dirimu. Pada hakekatnya kau adalah&amp;nbsp;Kesadaran-Murni. Maka, janganlah kau berpandangan sempit. Kau tidaklah&amp;nbsp;terikat, tak berubah, tanpa bentuk, tak terpecah dalam pasangan yang&amp;nbsp;saling bertentangan, tak dapat diduga, bijaksana, dan tak pernah&amp;nbsp;gelisah. Maka, cukuplah kau hanya sadar kepada Kesadaran-Murni yang&amp;nbsp;ada di dalam dan di luar dirimu.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;Ketahuilah bahwa setiap yang berbentuk adalah palsu, dan ketahuilah&amp;nbsp;pula Yang Tanpa Bentuk sebagai Yang Tak Berubah dan Abadi. Mengetahui&amp;nbsp;kebenaran dari pelajaran ini akan mengakhiri siklus kelahiran kembali&amp;nbsp;ke dunia ini [siklus samsara]. Sama halnya seperti bayangan dari sebuah cermin, yang&amp;nbsp;terbayang di dalam dengan di luar cermin adalah sama, maka Brahman yang&amp;nbsp;sama juga ada di dalam dan di luar badan ini. Begitu pula halnya,&amp;nbsp;Brahman meliputi semua yang ada di langit dan juga&amp;nbsp;meliputi benda-benda di bumi, Brahman yang kekal abadi juga meliputi&amp;nbsp;segala sesuatu.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;strong&gt;PENJELASAN&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;-Bagaimanakah cara mencapai kesadaran murni ini ?-&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;strong&gt;1. Pondasi dasar yang menentukan dalam keseharian.&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;- Memaafkan [bebas dari kemarahan, kebencian, dendam].&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;- Kepolosan [bebas dari rasa prasangka, rasa curiga. Berarti selalu berpikiran baik dan positif saja].&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;- Welas asih dan kebaikan [jalan spiritual apapun akan dangkal dan tidak akan mencapai kesempurnaan, kalau tanpa diawali pondasi dasar bathin yang penuh welas asih dan kebaikan kepada semua mahluk].&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;- Rasa syukur [bebas dari keserakahan dan ketidakpuasan].&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;- Kejujuran dan kebenaran [bebas dari tindak kejahatan].&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;strong&gt;2. Menjadi saksi.&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;Dalam kitab suci tertua, yaitu Rig Veda, pada sloka 1.164.20 tertulis :&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;em&gt;Dva suparna sayuja sakhaya&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;em&gt;samanam vrksam pari sasvajate&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;em&gt;Tayor anyah pippalam svadu-atti&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;em&gt;anasnan anyo abhi cakasiti&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;Terjemahan :&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;Ada dua ekor burung yang dipersatukan dengan ikatan persahabatan, bertempat tinggal di atas pohon yang sama. Salah satu dari mereka menikmati buah matang yang manis, sedangkan yang lainnya menjadi saksi tanpa menikmati buah-buahnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;Makna :&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;Sebelumnya perlu diketahui bahwa Veda sebagian isinya ditulis dalam bentuk prosa yang puitis, seperti halnya sloka ini. Maksud [analogi] sloka ini adalah ada dua type kesadaran [dua ekor burung] yang tinggal di tubuh yang sama [pohon yang sama]. Salah satu kesadaran ini atau "sang aku" menikmati kehidupan duniawi [buah matang yang manis] melalui badan dan pikiran [type kesadaran pada realitas material atau prakriti], sedangkan satu kesadaran yang lainnya hanya menjadi saksi [type kesadaran pada realitas absolut atau purusha].&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;Bagaimana cara menjadi saksi ?&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;strong&gt;- Penjelasan bagi orang biasa [orang yang tidak belajar meditasi] -&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;Berlatih untuk menghadapi segala keadaan dalam kehidupan ini, dengan secara terus-menerus belajar melihat sisi baik dari semua kejadian [bebas dari dualitas secara mendasar], mengembangkan bathin yang welas asih dan keseharian yang penuh dengan kebaikan. Karena semua ini akan membawa ketenangan-keseimbangan bathin.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;Ketika dipuji tersenyum damai, ketika dicaci juga tersenyum damai.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;Ketika mendapat uang tersenyum damai, ketika banyak hutang juga tersenyum damai.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;Ketika sehat tersenyum damai, ketika sakit juga tersenyum damai.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;Ketika naik jabatan tersenyum damai, ketika di-PHK juga tersenyum damai.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;Dst-nya.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;Demikian salah satu metode menjadi saksi bagi orang biasa. Dengan demikian kita tidak terlibat dengan kejadian-kejadian "luar" dan "di dalam" bathin tetap sejuk, tenang-seimbang dan penuh welas asih. Ini akan membawa ketenangan-keseimbangan bathin, yang menuntun kita menjadi "sang saksi".&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;strong&gt;- Penjelasan bagi para yogi -&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;Umumnya perasaan-pikiran [iri hati, marah, benci, sakit hati, rasa senang, dll] dan kesadaran menjadi satu. Itu sebabnya ketika marah kita bertengkar, ketika benci kita mengeluarkan kata-kata menyakitkan, ketika bahagia kita tidak ingin hal itu berakhir, dst-nya. Karena kesadaran kita diseret jauh oleh perasaan-pikiran.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;Melalui praktek meditasi mendalam tentang kesadaran, perasaan-pikiran perlahan-lahan berpisah dengan kesadaran.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;Kita tidak mungkin melepaskan diri dari kemarahan, keserakahan, kesombongan, kesenangan, dll. Karena semua itu adalah bagian dari diri kita sendiri. Tidak berbeda, tidak terpisah dari diri sendiri.&amp;nbsp;Hanya dengan memahami fakta itu sedalam-dalamnya, ke-AKU-an [ahamkara] mungkin lenyap dan bersama dengan itu lenyap pula kemarahan, keserakahan, kesombongan, kesenangan, dll.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;Ketika kita marah, saksikan pikiran marah tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;Ketika kita sedih, saksikan pikiran sedih tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;Ketika kita senang, saksikan pikiran senang tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;Ketika kita hawa nafsu, saksikan pikiran hawa nafsu tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;Dst-nya.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;Dari latihan kesadaran ini, akan ada ruang diantara perasaan-pikiran dengan kesadaran. Semakin dalam praktek kesadaran, semakin lebar ruang diantara keduanya. Kembali ke hakikat sang diri, menjadi "sang saksi".&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;strong&gt;KESADARAN MURNI&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;Seorang yogi yang lama istirahat dalam meditasi kesadaran yang rapi, suatu saat akan mengalami pengalaman kebersatuan kosmik. Keseluruhan alam semesta [langit, matahari, bintang, bulan, bumi manusia, binatang, tetumbuhan], terangkai rapi kedalam jejaring kosmik yang tidak terbatas, tidak terpikirkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;Ini terjadi karena ke-AKU-an [ahamkara] telah lenyap atau nirahamkarah, lenyapnya sang aku. Ketika ke-aku-an lenyap, sang yogi menyatu rapi dengan segala yang ada.&amp;nbsp;Menyadari bahwa ada bagian dari dirinya yang tidak pernah lahir dan tidak pernah mati. Menyadari bahwa segala yang ada adalah manunggal. Inilah yang disebut dengan moksha.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;-[Sampai disini sang yogi menjadi berhenti total menyakiti dan amat rindu menyayangi. Karena ketika menyakiti mahluk lain sesungguhnya sedang menyakiti diri sendiri, saat menyayangi mahluk lain sesungguhnya sedang menyayangi diri sendiri].-&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;em&gt;Semoga tercapai tujuan tertinggi dari agama Hindu, yaitu “moksartham jagadhita ya ca iti dharma”. Dengan dharma kita mewujudkan kebahagiaan-keharmonisan bagi semua mahluk &amp;amp; alam semesta [jagadhita], serta tercapainya pembebasan [moksha]. Aum shanti shanti shanti.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;Rumah Dharma - Hindu Indonesia&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1741614431014675042-2890659324974191853?l=peradah-semarang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1741614431014675042/posts/default/2890659324974191853'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1741614431014675042/posts/default/2890659324974191853'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://peradah-semarang.blogspot.com/2011/11/ashtavakara-gita-atau-ashtavakara.html' title='Kutipan dari Ashtavakara Gita : Kesadaran Murni by Rumah Dharma - Hindu Indonesia'/><author><name>Peradah Indonesia Kota Semarang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03051917880292458968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_QfiMQ_o3mBM/SVcyOJLGmKI/AAAAAAAAAA8/ofE6lUHNEp4/S220/logo_peradah.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1741614431014675042.post-3419799836056513444</id><published>2011-11-21T07:50:00.001+07:00</published><updated>2011-11-21T23:15:30.504+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hindu'/><title type='text'>SEMUA KARENA KARMA By Siva Nataraja</title><content type='html'>&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;strong&gt;Ilustrasi&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;Mungkin bukan hanya saya yang pernah diiming-imingi hadiah yang luar biasa yaitu&amp;nbsp; dijanjikan ‘masuk sorga’ jika mau beralih agama. Ini bukan cerita yang mengada-ada, ketika pada satu kesempatan teman saya mengajak berdiskusi seputar masalah keyakinan masing masing. Banyak topik yang ditanyakan oleh teman saya mulai dari simbol-simbol keagamaan, ritual dan sedikit filsafat. Pertanyaannya kritis juga menurut saya, ya pantaslah begitu karena dia seorang aktivis yang berbau keagamaan. Penampilan teman saya yang bernama Slamet ini agak lain, celana panjangnya hanya sampai 5 cm di atas mata kaki, dan jidatnya bertanda hitam (maaf…mungkin hanya kebetulan saja mirip tanda di jidat para pelaku bom Bali), entahlah… mungkin karena terlalu sering sujud atau memang itu adalah salah satu tanda sektarian seperti dalam Hindu yang menggunakan pasta cendana (simbol kaki padma).&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;lj-cut text="Read more..."&gt;&lt;/lj-cut&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;Dengan pengetahuan yang ‘pas-pasan’ atau mungkin kurang, saya mencoba untuk memberikan sedikit penjelasan seputar masalah-masalah itu. Teman saya manggut-manggut entah mengerti atau tidak, yang jelas diskusi kami pun semakin ‘seru’,&amp;nbsp; sampai kemudian teman saya berkata, “Yan, apakah kamu sudah mantap di agamamu?”&amp;nbsp; Saya yang belum paham maksud pertanyaan itu kemudian balik bertanya, “maksudmu?” Raut wajah teman saya kemudian berubah menjadi sangat serius. Katanya, “Yan, kalau kamu mau… ikutlah agama saya, kamu bakalan masuk sorga lho”.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;Saya yang tidak menyangka pembicaraan ini akan menyerempet ke sana jadi agak kaget juga, “Ah yang benar Met, masak sih?” Saya pura-pura ikut serius. Dia kemudian semakin bersemangat untuk menjelaskan bahwa agamanyalah yang paling sempurna. Jangan heran katanya, apa yang ada di Hindu ada juga di agamanya karena agamanya merupakan rangkuman dari kebenaran semua agama di dunia. Pendeknya semua sudah ada dalam dua kitab sucinya, kemudian dia sempat juga mengemukakan perumpamaan yang bagus bahwa produk apa pun yang keluar belakangan sudah pasti lebih baik kualitasnya, seperti itu juga agamanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;Saya yang mulai sedikit tersinggung kemudian mengeluarkan tantangan, “Oke… Met, mungkin keyakinan saya akan bisa goyah dan saya bisa saja ikut agamamu jika kamu dapat menjawab, “Mengapa ada orang kaya dan orang miskin?” Sengaja saya pilih pertanyaan yang tampaknya sangat sederhana namun berkait mutlak dengan&amp;nbsp;&lt;strong&gt;Panca Sradha&lt;/strong&gt;. Teman saya dengan berseri-seri (mungkin karena pertanyaannya dianggap terlalu mudah) kemudian menjawab, “Itu karena kehendak Tuhan, karena Beliau tahu apa yang terbaik bagi umatNya. Mendapat jawaban itu, saya katakan, “kasihan benar ya nasibnya orang yang lahir miskin dan cacat, yang karena kemiskinannya sering kelaparan, terus… karena keadaan itu dan untuk bertahan hidup kemudian menjadi jahat (pencopet, pencuri, perampok, pembunuh), terus… ditangkap polisi dan diadili, terus…dijatuhi hukuman 15 tahun penjara, terus…meninggal di penjara, terus…kalau sudah begitu rohnya akan masuk neraka yang menurut kamu&amp;nbsp;&lt;em&gt;neraka jahanam&lt;/em&gt;&amp;nbsp;itu kekal selamanya (abadi). Yah...sungguh kasihan, sudah sengsara di dunia, dapat neraka pula di akhirat. Lalu, di mana keadilan Tuhan kepada ciptaanNya? Jika begitu, bukankah Tuhan sudah berbuat semena-mena terhadap umatNya? Coba kamu berikan jawaban yang logislah sedikit! Teman saya kemudian berkata, “Ya, itu rahasia Tuhan…, kajian ini masuk pada pokok bahasan yang tidak boleh diperdebatkan, yang penting kita harus yakin, serahkan urusan seperti itu kepada Tuhan.” Beliau tahu apa yang terbaik bagi umatNya.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;“Met, saya mungkin bukan orang suci, tetapi saya begitu menikmati indahnya ‘luapan logika’ yang yang mengalir dari agama yang saya anut, sebab menurut saya ajaran agama itu harus logis.&amp;nbsp; Ajaran agama yang saya anut semuanya masuk akal. Kami orang-orang Hindu bukan semacam ‘keranjang sampah dogma’ juga kami tidak mengenal ‘kultus individu’. Teman saya kemudian bungkam. Saya tepuk pundaknya, Oke Met, jika besok atau lusa kamu sudah dapat jawaban yang logis, kita diskusi lagi ya?”&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;Ilustrasi di depan hanyalah sebuah bentuk penyadaran bahwa kita jangan goyah karena iming-iming atau propaganda murahan sebab ajaran Hindu sudah maha sempurna, karena sesungguhnya Weda mengandung semua ajaran moral dan cita-cita suci, sebagaimana&amp;nbsp; diamanatkan dalam sebuah mantra berikut.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;Sarvam Vedat Prasidhyati,&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;Vedokhilo Dharmamulam&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;Artinya: Segala sesuatu dapat dibuktikan melalui Weda, Weda adalah akar atau sumber dari semua dharma.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Maharsi&amp;nbsp; Wararuci dalam bukunya Sarasamucchaya dengan bangga menyatakan, “Apa yang terdapat di luar Hinduisme sudah pasti terdapat dalam Hinduisme, tetapi apa yang terdapat dalam Hinduisme belum tentu terdapat di luar Hinduisme”.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;Nah, kalau begitu mengapa ada pemeluk Hindu yang masih mudah goyah oleh iming-iming? Salah satu jawabannya adalah mereka tidak mampu menikmati logika yang ada dalam Hinduisme. Mengapa mereka tidak mampu menikmati logika Hinduisme? Itu karena mereka tidak mempunyai dasar (paling tidak Itihasa atau Purana) yang dapat dijadikan&amp;nbsp;&lt;em&gt;background knowledge&lt;/em&gt;&amp;nbsp;untuk menerima logika Hindu pada tingkatan yang lebih tinggi selanjutnya. Mengapa mereka tidak mempunyai dasar? Itu karena tidak mendapat pembelajaran agama yang layak di bangku SLTP/SMU (terutama di daerah transmigrasi). Mengapa tidak mendapat pembelajaran yang layak? Ya, karena tidak ada guru agama Hindunya, perlu dicatat bahwa banyak sekolah di daerah transmigrasi yang 40-50% siswanya beragama Hindu tetapi tidak ada guru agama Hindunya, sedangkan guru agama lain di sekolah yang sama bisa kelebihan (dua atau tiga orang). Mengapa tidak ada guru agama Hindu sedangkan lulusan IHD/UNHI begitu banyak?”&amp;nbsp; Ini tentu politik yang dapat menjawabnya. Lagi-lagi kita tidak punya corong (pengeras suara/penyambung lidah) untuk menyampaikan kepentingan Hindu kepada pemerintah. Kita kalah (bukan karena minoritas jumlahnya, tetapi minoritas orientasinya). Maaf…saya terbawa emosi, kok jadi ngelantur ya?&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;Baiklah agar lebih relevan dengan judul tulisan ini, saya kembali kepada ilustrasi di depan. Satu pertanyaan yang belum dapat dijawab oleh Si Slamet, atau bahkan mungkin oleh sebagian dari penganut Hindu (terutama yang masih awam/kurang pendidikan), “Mengapa ada orang kaya dan orang miskin?”&amp;nbsp; Sebenarnya pertanyaan ini bisa diperluas menjadi, “mengapa ada orang cantik dan ada orang jelek? Mengapa ada orang sempuna fisiknya dan ada pula yang cacat? Mengapa banyak orang baik pekerja keras tetapi hidupnya melarat dan berumur pendek, sedangkan yang jahat yang pemalas selalu bergelimang kemewahan dan berumur panjang, dan seterusnya…&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;Inilah ajaran Hindu. Kita punya jawaban yang logis&amp;nbsp; untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu yaitu ‘Hukum Karma’. Ini merupakan ajaran fundamental. Bagaimana bekerjanya hukum karma? Apapun yang kita tanam, demikian juga yang akan kita petik. Jika kita melakukan perbuatan jahat maka kita akan memetik penderitaan nantinya, begitu juga kalau kita berbuat baik kita akan memperoleh kebahagiaan. Tak ada kekuatan di dunia ini yang dapat menghentikan perbuatan yang menghasilkan buah. Setiap pemikiran, perkataan dan perbuatan ditimbang dengan&amp;nbsp;&lt;em&gt;neraca abadi&amp;nbsp;&lt;/em&gt;yaitu keadilan Tuhan. Hukum karma tidak mengenal ampun. Tidak ada suap menyuap atau keputusan yang salah dalam hukum karma.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;Benda-benda di alam semesta ini tak akan terjadi secara kebetulan atau dengan cara di luar aturan. Mereka terjadi dalam rangkaian yang beraturan. Ada hubungan yang jelas antara apa yang kita lakukan dengan apa yang akan terjadi nanti. Setiap kegiatan menghasilkan akibat, yang memberi kita ganjaran (hasil) atau buah yang sepantasnya, yang juga mempengaruhi karakter kita. Ia tertinggal berupa kesan dalam pikiran kita, dan kesan ini akan mendorong kita untuk mengulangi kegiatan itu lagi. Kesan ini akan mengambil bentuk riak-riak gelombang pemikiran dalam pikiran karena rangsangan dari luar maupun dari dalam.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;Karma bukan saja berarti perbuatan, tetapi juga hasil dari perbuatan. Sesungguhnya akibat dari perbuatan bukanlah sesuatu yang terpisah dari perbuatan itu sendiri. Bernafas, berpikir, berbicara, melihat, mendengar, makan dan sebagainya adalah karma. Suatu perbuatan atau pemikiran yang menyebabkan suatu akibat itulah karma. Pendeknya, hukum karma maksudnya adalah hukum yang mendatangkan akibat. Ibarat pohon menghasilkan benih dan menjadi penyebab adanya benih.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;Bagaimana karma dibentuk? Manusia memiliki tiga sifat dalam dirinya yaitu&amp;nbsp;&lt;strong&gt;icca&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;(keinginan perasaan),&lt;strong&gt;jnana&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;(tahu) dan&amp;nbsp;&lt;strong&gt;kriya&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;(kehendak), yang ketiganya ini membentuk karma. Kita mengetahui benda-benda seperti meja, kursi, pohon. Kita merasakan kebahagiaan atau kesedihan. Kita juga berkehendak untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu dan sebagainya.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;Di balik kegiatan, terdapat keinginan dan pikiran. Keinginan akan sebuah mobil misalnya muncul dalam suatu pemikiran, lalu kita berpikir untuk memilikinya, keinginan, pemikiran dan kegiatan berjalan bersama-sama bagaikan tiga utas benang yang diplinti (dipintal) menjadi tali dari karma.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;Keinginan menghasilkan karma. Kita bekerja dan berusaha untuk mencari benda-benda yang menjadi keinginan kita. Karma menghasilkan buah berupa kesenangan atau penderitaan.&amp;nbsp;&lt;em&gt;Konsekuensinya adalah Roh/Atman yang merupakan percikan dari Brahman harus lahir berulang-ulang (reinkarnasi) untuk memetik buah karma. Inilah hukum karma&lt;/em&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;Bila kita menanam sebutir benih, ia akan tumbuh menjadi kecambah, lalu tumbuh daun-daunnya, kemudian bunga dan berkembang menjadi buah yang juga mengandung benih di dalamnya. Benih mangga akan menghasilkan mangga juga. Tak akan ada semangka berbuah durian! Benih yang sama akan menghasilkan jenis buah yang sama.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;Apapun yang kita taburkan dengan perbuatan, semua itu akan kembali kepada kita. Bila kita membuat orang lain senang melalui pelayanan, amal dan perbuatan-perbuatan baik, kita menaburkan kebahagiaan seperti sebutir benih, maka hal itu akan memberi kita buah kebahagiaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;Bagaimana dengan istilah&lt;strong&gt;&amp;nbsp;‘nasib’?&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;Pemikiran membentuk karakter kita. Bila kita menunjukkan pemikiran mulia, kita akan mengembangkan karakter mulia, dan jika kita menunjukkan pemikiran jahat maka kita mengembangkan karakter nista. Ini merupakan hukum karma yang tidak dapat diubah. Oleh karena itu, kita dapat mempertimbangkannya dalam membentuk karakter kita dengan mengusahakan pemikiran yang luhur. Ingat, pemikiran merupakan cikal bakal perbuatan. Bila kita memperturutkan pikiran untuk merenungkan kebaikan kita akan melakukan perbuatan terpuji dan tentu saja baik. Prilaku atau adat istiadat menunjukkan karakter kita. Pengusahaan prilaku baik memerlukan disiplin dan kewaspadaan terus menerus.&amp;nbsp;&lt;em&gt;Kita menaburkan perbuatan dan memetik kebiasaan, kita menaburkan kebiasaan dan memetik karakter, kita menebarkan karakter&lt;/em&gt;&amp;nbsp;&lt;em&gt;dan memetik nasib.&lt;/em&gt;&amp;nbsp;Oleh karena itu nasib merupakan tatanan kita sendiri yang kita bangun. Hal yang paling penting adalah bahwa kita dapat melepaskannya dengan menunjukkan pemikiran mulia dan melakukan perbuatan bajik serta mengubah cara berpikir kita.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;Ada tiga macam karma yaitu&amp;nbsp;&lt;strong&gt;sancita&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;(timbunan karma),&amp;nbsp;&lt;strong&gt;prarabdha&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;(karma menyuburkan) dan&lt;strong&gt;kryamana&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;(rangkaian karma).&amp;nbsp;&lt;strong&gt;Sancita&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;adalah semua timbunan karma masa lalu yang terlihat pada karakter manusia, pada kecenderungan-kecenderungannya, pembawaan, kemampuan dan keinginan-keinginannya.&amp;nbsp;&lt;strong&gt;Prarabdha&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;adalah bagian dari karma masa lalu yang harus dipertanggungjawabkan oleh tubuh sekarang ini yaitu bagian dari sancita karma yang mempengaruhi kehidupan manusia pada inkarnasinya yang sekarang, yang siap untuk dipetik dan tak dapat dihilangkan atau diubah.&amp;nbsp;&lt;strong&gt;Prarabdha&lt;/strong&gt;karma adalah karma yang telah dimulai dan benar-benar memikul buahnya, dan dipilih dari timbunan sancita karma.&amp;nbsp;&lt;strong&gt;Kriyamana&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;adalah karma yang sekarang sedang dibuat untuk masa depan.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;Dalam kepustakaan Weda terdapat pengandaian yang indah. Pemanah baru saja melepaskan anak panahnya dan telah mengistirahatkan tangannya. Ia tak dapat menarik kembali anak panah tersebut. Ia baru saja akan menembakkan anak panah yang lain. Kumpulan anak panah dalam tabung panah dipunggungnya adalah&amp;nbsp;&lt;strong&gt;sancita&lt;/strong&gt;. Anak panah yang telah dilepaskan adalah&amp;nbsp;&lt;strong&gt;prarabdha&lt;/strong&gt;. Anak panah yang baru akan dilepaskan adalah&amp;nbsp;&lt;strong&gt;kriyamana&lt;/strong&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;Pengandaian lain yang juga indah adalah gudang sembako (dolog) merupakan&amp;nbsp;&lt;strong&gt;sancita&lt;/strong&gt;, sembako yang diambil dan dibawa ke warung pengecer untuk dijual saat itu juga adalah&amp;nbsp;&lt;strong&gt;prarabdha&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;dan sembako yang di bawa ke warung pengecer untuk dijual nantinya merupakan&amp;nbsp;&lt;strong&gt;kriyamana&lt;/strong&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;Keseluruhan timbunan karma (sancita) dapat dihancurkan dengan pencapaian pengetahuan dari Brahman yang abadi.&amp;nbsp;&lt;strong&gt;Sancita&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;dapat diubah sama sekali dengan menunjukkan pemikiran-pemikiran Ilahi yang luhur serta berbuat bajik.&amp;nbsp;&lt;strong&gt;Kriyamana&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;karma dapat dihancurkan dengan penebusan dosa upacara prayascitta, dan dengan melepaskan pemikiran tentang badan melalui&amp;nbsp;&lt;strong&gt;Nimitta Bhawa&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;(sikap bahwa seseorang merupakan alat di tangan Tuhan), dan&amp;nbsp;&lt;strong&gt;Saksi Bhawa&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;(sikap bahwa seseorang merupakan saksi bisu dari perbuatan, indriya dan pikiran) ***&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1741614431014675042-3419799836056513444?l=peradah-semarang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1741614431014675042/posts/default/3419799836056513444'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1741614431014675042/posts/default/3419799836056513444'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://peradah-semarang.blogspot.com/2011/11/ilustrasi-mungkin-bukan-hanya-saya-yang.html' title='SEMUA KARENA KARMA By Siva Nataraja'/><author><name>Peradah Indonesia Kota Semarang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03051917880292458968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_QfiMQ_o3mBM/SVcyOJLGmKI/AAAAAAAAAA8/ofE6lUHNEp4/S220/logo_peradah.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1741614431014675042.post-5527354693800099735</id><published>2011-11-21T07:47:00.001+07:00</published><updated>2011-11-21T23:15:56.392+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><title type='text'>Keunggulan Sanatana Dharma Dalam Ajaran Hindu</title><content type='html'>&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;Pertama.:&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;Dalam falsafah Ketuhanan,,, Hindu percaya dgn Tuhan yang Maha Ada, Maha Tak Terbatas, yg ada di dalm dan di luar ciptaan. Bahkan ada sangat dekat dgn manusia di dlm hatinya. Tuhan yg dpt mewujudkan dirinya sesuai &amp;nbsp;dgn kemampuan persepsi umatnya. &amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;Orang-orang dgn kemampuan intelektual rendah, dan kosong dr spiritualitas, tentu tdk mampu memahami ini. Hindu tdk menganut Tuhan yg hanya mampu memiliki satu bentuk, dan diam di satu tempat yg amat sangat jauh, menjauhkan diri dgn manusia, yg disebut monotheisme.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;Kedua:&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;Tuhan yg disembah org Hindu, bersifat adil dlm kasih sayangNya kpd setiap makhluk, tanpa membedakan suku, ras atu keyakinan. Seperti matahari yg menyinari semua tempat. Falsafah ketuhanan ini, melahirkan etika penghormatan terhadap setiap manusia, tanpa membedakan karena keyakinan (Tat Tvam Asi) yg mengajarkan bahwa semua makhluk adalah satu keluarga. Terkait hal tersebut, Hindu jg mengajarkan ahimsa, non-kekerasan. Sebab kekerasan terhadap org lain sama dengan kekerasan terhadap diri sendiri atau keluarga sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;Beda dgn ajaran yg lain, dmn Tuhan hanya berpihak kpd satu kelompok kecil manusia/suku, yg membagi kemanusiaan menjadi dua bagian bermusuhan: (org beriman versus org kafir). &amp;nbsp;Pembagian ini mengajarkan kesombongan tanpa dasar kpd pemeluknya, dan merendahkan pengikut agama lain yg disebut org kotor/kafir dan akan masuk neraka. Paham ini akan menimbulkan kebencian dan kekerasan kpd org lain, perang-perang atas nama agama, penghancuran manusia dan budaya, bahkan banjir darah.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;Ketiga:&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;Ajaran Hindu mampu berdaptasi dgn perobahan, bersifat spiritual dan filosofis, dgn bahasa dialog atau pengajaran rohani yg sopan dan halus. Bukan ajaran dogma dan hukum dgn bahasa polemik, permusuhan, caci maki, kutukan dan ancaman. Hindu mengajarkan konsep diri yg luas, diri yg ekspansif. Bahwa diri kt, tdk hanya terbatas pd satu tubuh ini, tetapi terkait dgn diri (jiwa) yg ada pd org lain. Hal ini jg mengajarkan kt utk slalu instropeksi, mulat sarira. Tujuan tertinggi manusia menurut Hindu adalah persatuan jiwa dgn Brahman (moksha). Bukan sorga tempat memuaskan nafsu badan, terutama seks, secara tak terbatas.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;Sebaliknya monotheisme mengajarkan konsep diri terbatas, dgn memupuk pemusatan kpd kepentingan sendiri /golongan saja, hanya mau menerima tidak mau memberi. Merasa superior, merasa paling benar dan paling sempurna semata-mata karena keyakinan, bukan karena tindakan, hal ini menimbulkan kebiasaan negatif utk selalu mencari dan melemparkan kesalahan kepada pihak lain. Ajaran monotheisme sekalipun pada suatu saat besar, pada saat yg lain akan hancur oleh sorotan akal, dan seperti dinosaurus, karena tidak mampu beradaptasi atas perobahan.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1741614431014675042-5527354693800099735?l=peradah-semarang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1741614431014675042/posts/default/5527354693800099735'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1741614431014675042/posts/default/5527354693800099735'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://peradah-semarang.blogspot.com/2011/11/pertama.html' title='Keunggulan Sanatana Dharma Dalam Ajaran Hindu'/><author><name>Peradah Indonesia Kota Semarang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03051917880292458968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_QfiMQ_o3mBM/SVcyOJLGmKI/AAAAAAAAAA8/ofE6lUHNEp4/S220/logo_peradah.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1741614431014675042.post-1833806963213240757</id><published>2011-11-21T07:44:00.001+07:00</published><updated>2011-11-21T23:16:20.704+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><title type='text'>Ceramah Provokatif, ”Ustadz” Diamankan</title><content type='html'>&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;KULONPROGO - Seorang ustadz mualaf, Abdul Aziz alias Ida Bagus Erit Budi Winarno (38) diamankan ke Polres Kulonprogo setelah memberi ceramah di Masjid Agung Wates, Rabu (16/11) malam. Pengamanan itu dilakukan karena ada forum masyarakat yang menilai ceramahnya bisa memecah kerukunan.&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;Pemeriksaan terhadap ustadz tersebut dilakukan intensif oleh penyidik hingga Kamis (17/11) sore. Kasatreskrim Polres Kulonprogo, AKP Hario Duto Pamungkas mengatakan, penyidikan dilakukan terkait dua dugaan. Yakni Pasal 156a KUHP terkait penebar permusuhan dan penodaan agama serta Undang-Undang Sisdiknas tentang penggunaan gelar akademik Sarjana Agama (SAg) yang diduga palsu.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;”Pasal 156a masih dalam penyidikan terkait penebar per-musuhan, penodaan agama, masih kami lakukan pendalaman. Selain itu juga Undang-Undang Sisdiknas tentang penggunaan gelar palsu,” katanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;Diperiksa Barang Selain meminta keterangan pada yang bersangkutan, penyidik juga memeriksa barang milik ustadz tersebut berupa laptop, handphone, berkas-berkas tulisan, serta video ceramah yang dilakukan di Masjid Agung Wates. Menurut Hario, beberapa hari sebelum pelaksanaan ceramah di Masjid Agung, pihak kepolisian telah memberi-tahukan pada panitia penyelenggara bahwa yang bersangkutan dalam memberikan ceramah harus diwaspadai. ”Ada beberapa yang sifatnya provokatif. Untuk menjaga kamtibmas, daripada malah menjadi runyam karena Kulonpro-go yang sudah tenteram aman jangan sampai malah menjadi bubrah, makanya ini kita tindak tegas. Kita tidak melarang orang berkhutbah tapi materi khutbahnya yang harus diwas-padai,” jelasnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;Dari hasil penyidikan, ustadz tersebut tidak memiliki KTP dan hanya mempunyai SIM. Lelaki kelahiran Blitar itu juga mempunyai dua alamat yakni Sumber Manggis, Desa Sumber Urip, Kecamatan Doko, Blitar, dan alamat kedua Desa Salam-rejo, Kecamatan/Kabupaten Blitar, Jawa Timur.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;Setelah dilakukan penyidikan intensif, terbukti gelar Sag ustadz tersebut palsu. Kapolres Kulonprogo AKBP K Yani Sudarto mengatakan, nama Ida Bagus yang dipakainya juga hanya rekaan sendiri karena yang bersangkutan tidak mempu-nyai keluarga dari Bali. Menurutnya, terhadap ustadz tersebut tidak dilakukan penahanan karena statusnya masih sebagai saksi. Dia dipulangkan sekitar pukul 16.30.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1741614431014675042-1833806963213240757?l=peradah-semarang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1741614431014675042/posts/default/1833806963213240757'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1741614431014675042/posts/default/1833806963213240757'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://peradah-semarang.blogspot.com/2011/11/kulonprogo-seorang-ustadz-mualaf-abdul.html' title='Ceramah Provokatif, ”Ustadz” Diamankan'/><author><name>Peradah Indonesia Kota Semarang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03051917880292458968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_QfiMQ_o3mBM/SVcyOJLGmKI/AAAAAAAAAA8/ofE6lUHNEp4/S220/logo_peradah.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1741614431014675042.post-7917763068259944218</id><published>2011-11-21T07:41:00.001+07:00</published><updated>2011-11-21T23:19:26.469+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kembali Ke Hindu'/><title type='text'>INDAHNYA PERJALANAN HIDUPKU UNTUK MEMELUK HINDU, semarang 4 november 2011</title><content type='html'>&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;PENGALAMAN PRIBADI&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;om swastyastu......&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;masih terlintas keanehan dalam diriku hingga aku memeluk agama hindu,secara logika aku tidak tahu menahu tentang agama tirta ini.sejak kecilpun aku juga tidak pernah dibekali sedikitpun pengetahuan agama hindu.jadi sangat mustahil sampai detik ini saya berganti agama dari islam ke hindu.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;sedikit perjalanan hidupku hingga aku menemukan berlian yang sangat luar biasa dalam kehidupan ini,setelah pencarian jati diri selama kurang lebih 25 tahun.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;aku dilahirkan di tempat yang indah ,dan penuh dengan tradisi budaya jawa tepatnya di kota solo/surakarta hadiningrat di tanah keraton pajang hadiwijaya.&lt;lj-cut text="Read more..."&gt;&lt;/lj-cut&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;keluargaku dari keluarga yang sangat sederhana,dan kakek nenekku seorang pemeluk kejawen murni.tapi setelah diberlakukan&amp;nbsp; KTP oleh pemerintah maka kakek nenekku&amp;nbsp; mau tidak mau harus memilih agama.dan,merekapun terpaksa memilih islam sebagai agama di ktp.tapi kenyataannya mereka tidak bisa beribadah secara islam.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;kakekku dari ibu dahulu seorang dalang wayang kulit dan penabuh gamelan jawa/niaga.dan kakek dari bapak seorang abdi dalem kraton kasunanan surakarta,dari merekalah semua anak dan cucunya diberi bekal pengetahuan tentang budaya jawa.tapi sayangnya waktu&amp;nbsp; beliau memberi wejangan pada anak cucunya ,aku masih dalam kandungan ibu.sehingga aku belum dapat melihat wajah kakekku yang seorang dalang.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;dalam keluargaku sampai sekarang masih dilestarikan ajaran-ajaran jawa terutama keluargaku.hanya keluargakulah satu-satunya yang masih melestarikan petuah dari kakek.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;sejak kecil aku di sekolahkan di lingkungan mayoritas muslim,tanpa ada kejanggalan dalam diriku aku selalu berusaha menjadi anak yang baik,patuh pada orang tua, menurut pada kakak,dan bisa menjadi panutan untuk adik.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;ya,sejakkecil aku benci dengan rokok dan alkohol aku tidak suka barang itu,sehingga aku menjadi anak yang terlihat baik di mata keluargaku,begitupun&amp;nbsp; teman bermainku aku lebih senang bergaul dengan teman-teman di masjid.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;setiap sore,apalagi pada waktu bulan puasa aku paling rajin beribadah di masjid,entah kenapa aku senang dan nyaman di masjid.sholat,mendengarkan khotbah&amp;nbsp; dan senang mengikuti pengajian.Dan ikut mengajar anak -anak menbaca alquran.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;keanehan lama-kelamaan mulai mendatagiku sewaktu SMP,ada hati kecilku yang berkata tapi hanya aku anggap sebagai kata-kata pembohong.tapi lama kelamaan bisikan dalam hati&amp;nbsp; nuraniku makin kuat,dan mengusik hidupku.entah kenapa aku makin benci dengan pelajaran agama,&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;setiap hari jumat aku senang sholat jumat,setiap minggu aku selalu diajak mengikuti ritual/sembahyang di petilasan kraton&amp;nbsp; pengging bersama bapakku.dua cara menggapai sang pencipta ditunjukkan olehku,dari agama islam dan dari cara sembahyang bapakku.semua membuatku makin binggung memilih yang mana tapi semuanya dapat berjalan dengan lancar dan aku nyaman memakai keduanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;menjelang kelas 3 SMP hal yang paling menakutkan terjadi padaku,aku hanya sekedar BERKHAYAL,'&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;"aku tidak mau sekolah yang temen -temenku berjilbab"&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;entah karena karama atau nasib ternyata aku dimasukkan ibuku ke sekolah islam,tepatnya di sekolah yang dulu tempat sekolahnya PAK AMIEN RAIS.SMA MUHAMMADIYAH 2 SURAKARTA,semua perjalanan hidupku mulai&amp;nbsp; menapaki kehidupan yang baru di sini.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;lingkungan yang muslim tata cara yang islam dan segala sesuatu harus sesuai alquran dan&amp;nbsp; al hadist,setiap hari aku harus membaca al quran 15' setiap pagi.pelajaran agama islam juga sangat kuat,mungkin di sekolah negeri agama islam cuma&amp;nbsp; agama islam saja.tapi di sma muhammadiyah agama islam dibagi menjadi bermacam-macam jenisnya,hingga mengalahkan pelajaran yang lain.akhlaq,aqoid,tarikh,alquran,bahasa arab,ibadah,kemuhammadiyahan.dalam benakku kenapa kok belajar sejarah negeri orang,kenapa kok tidak belajar sejarah kemegahan majaphit.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;dari SMAlah jiwa militan mulai kebentuk,cara berfikirku hanya islam yang benar dan yang lainnya salah.sungguh ironis menimpa otakku,kemanapun aku pergi&amp;nbsp; alquran tidak boleh lepas dari dalam diriku,hingga kemanapun aku melangkah di dalam tas ranselku bukan rokok ato alkohol tetapi&amp;nbsp; kitab suci alquran yang wajib ada.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;i love alquran,karena alquranlah yang menerangi jalanku waktu itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;kelas 2 sma,ada kegiatan khusus untuk semua siswa yaitu baitul arqom semacam pondok pesantren bertempat DI ASRAMA HAJI solo.jadi aku dan teman-teman di isolasi dari kehidupan luar disitulah kami semua diberi pengetahuan tentang agama islam,dari pagi hingga pagi lagi kami harus belajar agama islam&amp;nbsp; dan waktu luang kami gunakan untuk membaca kitab suci alquran.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;tapi entah kenapa semakin aku belajar islam semakin penasaran aku dengan kepercayaan yang dianut oleh bapakku,tata caranya kelihatan sangat jawa,sangat sederhana ,sangat cinta kasih.akirnya aku putuskan untuk belajar tentang aliran kepercayaan dari bapak.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;kelas 3 sma,aku makin tertarik memahami ajaran bapakku,tapi hanya diberitahu SEKILAS.konon karena aku belum cukup umur,trerlalu dini.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;pada waktu acara STUDY TOUR ke PULAU BALI aku merasakan aura yang berbeda,seakan aku menemukan siapa aku dan dimana aku.aku serasa telah kembali ke rumah,dan telah kembali ke masa majapahit zaman dahulu.tapi begitu aku tahu bali orang hindu, aku merasakan&amp;nbsp; wah ini kafir semua.tapi aku merasakan sesuatu hal yang berbeda dengan&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;orang -orang hindu,mereka sangat terbuka pada semua agama.selama&amp;nbsp; di bali ,pas hari ke 3&amp;nbsp; aku makin penasaran dan makin cinta dengan hindu.tapi itu juga hanya sekilas saja.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;setelah seminggu di bali akirnya waktunya kembali ke jawa,ada kejanggalan lagi dalam diriku dalam 1 bus&amp;nbsp; yang semua muslim semua bergembira karena akan kembali ke rumah.justru aku bersedih meninggalkan bali,pulau mayoritas hindu,aku menagis sejadi-jadinya air mata tak bisa di tahan lagi.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;aku cuma bisa bertanya dalam hati ALLAH ada apa ini....&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;Kenapa sangat berat meninggalkan pulau ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;aneh memang...tapi ini mungkin masih rahasia dari sang pencipta.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;setelah lulus sma,baru aku mendalami ajaran&amp;nbsp; kepercayaan dari bapak,aku disuruh sembahyang 3x dalam sehari.aku jadi heran setahuku sholat 5x sehari,kenapa kok disuruh&amp;nbsp; hanya 3x sehari.tapi,karena aku mantap dengan ajaran dari bapak apapun aku lakukan ,aku memutuskan aku tidak akan berfikir sempit seperti dulu lagi.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;lulus sma aku memutuskan&amp;nbsp; sebagai orang yang tak beragama dan tak percaya agama, tapi aku sangat percaya pada tuhan.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;setiap bulan suro atapu pas malem 1 suro selalu melakukan ritual jawa,dan setiap bulanb suro selalu ada selametan kecil di keluargaku.sedikit-demi sedikit aku mulai belajar filosofi kehidupan dari bapak.sejak aku kecil bapak sering memberi wejangan pada teman-temannya,dan pada saat memberi wejangan aku selalu tidur pulas dipangkuan bapak.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;dan sejak aku kecil sebelum tidur,bapak selalu dongeng&amp;nbsp; padaku tentang cerita rakyat,si kancil,joko kendil sangat indah...&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;dari situlah aku suka dengan budaya jawa,filosofi jawa.krena sekarang filosofi jawa sudah diputar-balikkan oleh oknum tertentu.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;tahun-berganti tahun pemahamanku tentang spiritual jawa selalu mulai bertambah hingga aku mengenal internet dan facebook.dahulu aku yang&amp;nbsp; sholat 5x sehari, kini sudah tak pernah sholat,dulu di dalam tas ada alquran kini&amp;nbsp; kemana-mana tanpa bawa apa-apa kecuali apa yang ada dalam diriku itulah yang aku punya.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;i believe with my self...&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;entah kenapa tahun 2006 aku mendapat karma untuk bekerja di KOTA SEMARANG,aku mendapatkan kesempatan yang luar bisa akirnya dengan berat hati aku berangkat ke semarang&amp;nbsp; dan meninggallkan keluragaku di solo.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;datang sendirian tanpa keluarga,sebatangkara aku di semarang, berjuang demi hidup dan sejuta harapan,mengais rejeki demi masa depan.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;bulan pertama sangat ringan,tapi lama-kelamaan makin berat.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;dan aku goyah.........!!!&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;aku binggung,karena teman kos dan teman kerja mayoritas islam aku jadi minder,aku binggung kalo ditanya tentang agama.aku benci jika ada orang yang tanya tentang agama...&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;karena aku&amp;nbsp; memang tidak beragama dan tak suka dengan agama....!!!&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;tahun 2007 aku kos dengan temanku yang alumni pondok pesantren dari weleri , kendal.aku dibimbing untuk belajar islam lagi,diajak sholat,dll.ya itu memang sedikit membuatku tenang,tapi batinku yang tidak menerimanya.karena memang ini bukan aku yang sebenarnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;disaat aku krisis kepercayaan aku ingat kata-kata bapakku sembahyang 3 x sehari.aku mulai melihat di internet cari info sembahyang 3x sehari.begitu&amp;nbsp; aku memasukkan ke google dan langsung keluar daftarnya,aku langsung terkejut...!!!&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;terkejut karena sembahyang 3x sehari itu adalah sembahyang agama hindu.setengah percaya tidak percaya karena bapakku mengajarkan agama hindu padaku sejakkecil,tapi kenapa bapakku tidak ngomong kalo itu sembahyang agama hindu.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;mulai sejak itulah aku suka belajar sembunyi-sembunyi tentang agama hindu,agama ,ritual,budaya,adat semua bisa indah menjadi satu.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;tanggal 22 desember 2009, saking semangatnya belajar agama hindu dari internet aku sampai menghafalkan lantunan&amp;nbsp; gayatri mantra di youtube&amp;nbsp; dari jam 1 dini hari sampai jam 5 pagi,aku putar ulang-ulang&amp;nbsp; supaya cepat hafal ,sampai akirnya menangis sendirian di warnet.gayatri mantram luar biasa vibrasinya...&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;setelah mantap belajar hindu,&amp;nbsp; tahun 2009 aku memberanikan diri untuk memakai hindu sebagai agama di fb ku,berharap aku bisa menemukan teman hindu dan sembahyang ke pura.ya ,akirnya aku dapat,tapi sewaktu berkumpul&amp;nbsp; di jogja bersama, mereka tidak tahu kalo aku muslim.tapi jujur aku mendapatkan manfaat dari cerita teman-teman fbku ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;dan akirnya di tahun 2010 aku diajak sembahyang tawur agung di candi prambanan,aku merasakan inilah yang aku cari.aku makin bahagia telah menemukan rumah ini.minoritas tapi sangat berharga...sembahyang&amp;nbsp; di prambanan pertama kali memakai pakaian hindu,walau identitasku masih islam.dan aku hanya sembahyang dengan memakai bahasa ibu.ya karena aku tidak tahu&amp;nbsp; doa dalam hindu..&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;waktu mulai berjalan hingga aku menemukan teman hindu di semarang,dan aku akirnya diajak ke pura sembahyang dipura dan bersemedi di pura.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;PURA AGUNG GIRI NATHA,SEMARANG. pertama kali aku menginjakkan kaki di pura aku merasakan aura yang lain,aku seakan berada di dunia yang berbeda.tapi seperti tidak asing bagiku,sangat aneh memang aneh tapi mungkin ini sudah karmaku.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;aku ingat waktu pertama kali masuk kedalam pura dan mengikuti sembahyang&amp;nbsp; purnama di&amp;nbsp; PURA AMERTHA SARI,SEMARANG.aku menangis di dalam pura,menangis pada waktu pak mangku mengucapkan mantra -mantra suci,aku merasakan sepertinya&amp;nbsp; aku pernah mendengar suara-suara seperti ini di kehidupan masa laluku.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;beberapa hari setelah aku sembahyang aku pulang ke solo dan mengutarakan niatku untu memeluk agama hindu,bukannya aku langsung disetujui justru aku langsung dimarah-marahin dari semua keluarga.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;kakak perempuanku menagis sejadi-jadinya,adikku tidak terima dengan keputusanku,bapakku pasrah dan terserah padaku,ibuku sangat melarangaku murtad dari islam.karena mayoritas keluarga besar memeluk islam ,dan ibuku&amp;nbsp; juga sangat rajin sholat 5 waktu.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;tak hanya itu banyak teman-temanku sekolah ataupun teman kampung yang memutuskan persahabatanku di dunia nyata dan&amp;nbsp; di fb gara-gara aku beralih ke hindu.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;aku makin putus asa,tapi itu semua membuatku makin bersemangat memperdalam hindu dan akan aku buktikan bahwa aku bisa berubah menjadi lebih baik dengan agama ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;setelah berbulan - bulan,melihat aku makin berbeda&amp;nbsp; setelah mendalami hindu,&lt;strong&gt;&amp;nbsp;akirnya keluargaku dengan berat hati&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;merelakan aku lepas dari islam dan memeluk hindu.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;strong&gt;Dan akirnya tanggal&amp;nbsp; 1 SEPTEMBER 2010&amp;nbsp; DI PURA AMERTHA SARI,SEMARANG.AKU melaksanakan UPACARA WISUDI WADANI yang&amp;nbsp; dibantu&amp;nbsp; oleh&amp;nbsp; PARISADA SEMARANG TIMUR, RESMI MEMELUK AGAMA HINDU DALAM KEHIDUPANKU,&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;Astungkara HYANG WIDHI,sampai saat ini aku masih memeluk hindu,dan justru sekarang keluargaku makin tertarik dengan rasa cinta kasih dan kebersamaan dalam&amp;nbsp; agama hindu.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;terlebih anehnya lagi,ibuku justru minta ikut diajak sembahyang&amp;nbsp; ke pura...&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;ya,berawal dari kota kecil mengadu nasib ke kota besar dan di sinilah aku mendapatkan jalan untuk kembali memeluk hindu,dan menjadi anggota PERADAH KOTA SEMARANG ,PERADAH JAWA TENGAH,dan aktif dalam kegiatan peradah ogoh-ogoh,tirtayatra ato yang lainnya.semua terjadi tanpa aku sangka-sangka...&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;ASTUNGKARA...&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;semua bisa aku lewati semua rintangan ini, walaupun susah payah dan perlu memakan waktu bertahun-tahun tapi akirnya semua dapat terlaksana dengan lancar.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;terima kasih HYANG WIDHI...&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;aku pernah merasakan&amp;nbsp; begitu manisnya menjadi seorang mayoritas,tapi aku juga telah merasakan bagaimana manisnya menjadi&amp;nbsp; seorang minoritas.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;"&lt;strong&gt;emas memang sangat indah, tapi berlianlah yang jauh lebih indah dan lebih berharga dari emas"&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;sekiranya begitulah pengalaman pribadiku,3 jam aku menulis ini...akirnya puas&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;matur sembah nuwun,&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;OM...shanti...shanti...shanti...OM...&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;_/\_&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;ANDRI ASANTO MAHENDRA JAWANE&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin: 0px; text-align: left;"&gt;Semarang 4 november 2011&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1741614431014675042-7917763068259944218?l=peradah-semarang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1741614431014675042/posts/default/7917763068259944218'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1741614431014675042/posts/default/7917763068259944218'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://peradah-semarang.blogspot.com/2011/11/pengalaman-pribadi-om-swastyastu.html' title='INDAHNYA PERJALANAN HIDUPKU UNTUK MEMELUK HINDU, semarang 4 november 2011'/><author><name>Peradah Indonesia Kota Semarang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03051917880292458968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_QfiMQ_o3mBM/SVcyOJLGmKI/AAAAAAAAAA8/ofE6lUHNEp4/S220/logo_peradah.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1741614431014675042.post-1451039896596789158</id><published>2011-08-30T11:55:00.001+07:00</published><updated>2011-08-30T12:03:23.659+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Meditasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Alam'/><title type='text'>Kembali Ke Alam &amp; Meditasi</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.ajnacenter.com/images/man%20meditating.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://www.ajnacenter.com/images/man%20meditating.jpg" width="266" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;BELAKANGAN ini mulai tampak adanya kecenderungan manusia kembali ke alam. Termasuk dalam hal pengobatan. Selain lewat meditasi, ada kecenderungan masyarakat memanfaatkan obat-obatan tradisional yang menggunakan bahan-bahan alami, seperti tumbuh-tumbuhan. Apa sesungguhnya meditasi itu? Apa manfaatnya bagi kesehatan?&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;Ketua Jurusan Usadha Universitas Hindu Indonesia (Unhi) dr. JMD Maitriya, Sp.PD. mengatakan, seseorang disebut sehat menurut WHO tidak hanya jasmani tetapi juga rohani dan sosial. Dikatakan, sejak zaman dulu para leluhur kita telah berusaha menjaga kesehatannya serta mencari cara-cara penyembuhan serta pengobatan suatu penyakit. Cara-cara pengobatan itu masih bisa dilihat sampai sekarang seperti cara pengobatan Cina, India dan Arab, termasuk cara pengobatan tradisional ala Indonesia.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Sementara ilmu kedokteran mulai dikenal sejak zaman Hipokrates, selanjutnya berkembang pesat menjadi ilmu kedokteran modern (Barat) dengan menggunakan peralatan berteknologi sangat canggih seperti alat rontgen, CT Scan, MRI, electron microscope, USG, EMG, EEG, PCR, dll.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Alat itu digunakan untuk mengetahui bagaimana rumitnya serta kompleksnya tubuh manusia. Berbagai jenis panyakit telah banyak ditemukan dan bisa disembuhkan. Tetapi, masih banyak jenis penyakit yang belum bisa diatasi dengan sempurna seperti penyakit jantung, hipertensi, kencing manis (diabetes militus), asma, dan alergi. Di samping itu, penyakit-penyakit virus seperti hepatitis B, C, HIV, SARS, tumor ganas dan kecanduan obat terlarang seperti narkoba dan lain-lain.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Dikatakan, secara spiritual sesungguhnya tubuh manusia terdiri atas badan kasar (jasmani) dan badan halus (jiwa atau rohani). Seseorang dikatakan betul-betul sehat kalau manusia itu sehat dalam tiga hal -- jasmani, rohani dan sosial. Manusia sebagai makhluk sosial, kata Maitriya, akan hidup dengan sesamanya, dengan lingkungannya dan hubungannya dengan Sang Pencipta (Tri Hita Karana). Manusia yang terdiri atas Panca Mahabuta (buana alit atau mikrokosmos) hidup pada alam lingkungannya atau alam jagat semesta (buana agung atau makrokosmos). Jadi, timbulnuya suatu penyakit pada seseorang banyak hubungannya dengan lingkungan atau alam jagat semesta, ujarnya sembari menyebut bahwa salah satu cara pengobatan dan pencegahan penyakit adalah melalui meditasi.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Meditasi, kata Maitriya, secara umum diartikan sebagai suatu daya pemusatan batin ke arah Tuhan untuk mencapai kesempurnaan hidup, baik jasmani maupun rohani. Bahkan, dalam sebuah kitab suci dikatakan, cara terbaik untuk mendekatkan diri dan mengenal Tuhan adalah melalui meditasi.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1741614431014675042-1451039896596789158?l=peradah-semarang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1741614431014675042/posts/default/1451039896596789158'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1741614431014675042/posts/default/1451039896596789158'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://peradah-semarang.blogspot.com/2011/08/kembali-ke-alam-meditasi.html' title='Kembali Ke Alam &amp; Meditasi'/><author><name>Peradah Indonesia Kota Semarang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03051917880292458968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_QfiMQ_o3mBM/SVcyOJLGmKI/AAAAAAAAAA8/ofE6lUHNEp4/S220/logo_peradah.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1741614431014675042.post-4409663281015606903</id><published>2011-08-30T11:50:00.002+07:00</published><updated>2011-08-30T12:06:46.025+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lobha'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kejahatan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dosa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Moha'/><title type='text'>3 Akar Kejahatan</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.thesecretsofyoga.com/Images/clip_image004_0001.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="265" src="http://www.thesecretsofyoga.com/Images/clip_image004_0001.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;Tiga akar kejahatan&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;b&gt;- dicopy paste dari group di Facebook.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Akar kejahatan keserakahan (lobha), akar kejahatan kebencian (dosa), dan akar kejahatan kebodohan batin (moha).&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Lobha adalah kemelekatan yang sangat terhadap sesuatu sehingga membuat pikiran selalu merasa lapar, serakah serta tidak puas dengan apa yang telah dimiliki.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Dosa adalah penolakan yang sangat terhadap sesuatu sehingga membuat pikiran selalu emosi, kesal dan penuh dengan kebencian.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Moha adalah kebodohan batin, yaitu tidak dapat membedakan mana yang buruk dan mana yang baik.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Dari ketiga akar kejahatan inilah seseorang berbuat jahat.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;Lobha&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Setiap orang pasti memiliki keinginan untuk sesuatu. Ini adalah hal yang wajar. Tetapi keinginan akan satu hal yang terus menerus dan ingin lebih dan lebih inilah Lobha.Sebagai contoh: karena kemelekatan yang sangat terhadap kehidupan mewah, seseorang menginginkan kehidupan yang lebih mewah lagi, maka timbullah keserakahan dan agar keinginannya untuk hidup lebih mewah lagi tercapai, ia melakukan berbagai cara termasuk melakukan tindakan kejahatan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;Untuk mencegah timbulnya Lobha dalam diri, maka perlu:&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;- Menggunakan Sati (perhatian,kewaspadaan, kesadaran).&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;- Berusaha untuk tidak selalu menuruti keinginan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;- &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Merenungkan untung dan rugi dengan menggunakan Panna (kebijaksanaa).&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;- &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Membangkitkan Hiri (malu berbuat jahat) dan Ottapa (takut berbuat jahat).&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;- &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Mengembangkan Dhamma yang berlawanan dengan Lobha, seperti berdana.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;(Ajitamanavasa, Solasa panha)&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;Dosa&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Pikiran untuk menyakiti, merusak, menghilangkan, mengingkirkan, memusnahkan sesuatu karena adanya rasa tidak suka yang sangat atau benci terhadap sesuatu tersebut, inilah Dosa.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Dosa ini dapat diibaratkan dengan sebuah titik api yang menyala, dan bila tidak segera dipadamkan maka akan menjadi kobaran api yang lebih besar, sehingga dapat merusak segalanya, dalam hal ini merusak pemikiran, kesehatan fisik dan mental, bahkan dapat membuat seseorang menjadi pembunuh.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Sebagai contoh: karena tidak menyukai seekor lalat, terjadi penolakan yang sangat dan timbul kebencian terhadap lalat tersebut, seseorang menginginkan lalat tersebut tersebut musnah, hilang, menyingkir dari hadapannya, menyakiti, merusak, maka ia melakukan berbagai cara untuk memusnahkan, menghilangkan, menyingkirkannya termasuk dengan melakukan tindakan kejahatan berupa pembunuhan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Untuk menghindari timbulnya Dosa dalam diri, maka diperlukan menjalankan Panca Sila (Lima Sila)&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;Moha&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Kebodohan batin atau kegelapan batin, yaitu tidak dapat membedakan mana yang buruk dan mana yang baik, tidak dapat menembus arti dari empat kebenaran Arya, Hukum Tilakkhana, Hukum Paticcasamuppada, Hukum Kamma.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Jika diibaratkan, Moha seperti kegelapan yang membuat seseorang tidak dapat berbuat-apa-apa bahkan hanya dapat berbuat kesalahan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Sebagai contoh: karena tidak mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk seseorang melakuan pencurian terhadap seorang hartawan untuk dibagian kepada kaum miskin. Ia menganggap mencuri hanya dari orang kaya adalah hal yang baik dan sah-sah saja sehingga ia melakukan pencurian tanpa merasa bersalah.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Untuk mencegah timbulnya Moha dalam diri, maka cara terbaik adalah mengembangkan Panna (kebijaksanaan). Panna (kebijaksanaan dapat dicapai dengan berbagai macam cara, seperti banyak membaca, belajar, dan mendengar.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1741614431014675042-4409663281015606903?l=peradah-semarang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1741614431014675042/posts/default/4409663281015606903'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1741614431014675042/posts/default/4409663281015606903'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://peradah-semarang.blogspot.com/2011/08/3-akar-kejahatan.html' title='3 Akar Kejahatan'/><author><name>Peradah Indonesia Kota Semarang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03051917880292458968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_QfiMQ_o3mBM/SVcyOJLGmKI/AAAAAAAAAA8/ofE6lUHNEp4/S220/logo_peradah.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1741614431014675042.post-1598492645206821074</id><published>2011-08-30T11:44:00.002+07:00</published><updated>2011-08-30T12:17:08.573+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Yoga'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tuhan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Marga'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hindu'/><title type='text'>4 Jalan Menuju Tuhan</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.reportase.com/wp-content/uploads/2010/05/jordan_river_entering_sea_of_galilee_aerial.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://www.reportase.com/wp-content/uploads/2010/05/jordan_river_entering_sea_of_galilee_aerial.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;Om Swastyastu&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;a _mce_href="http://www.babadbali.com/canangsari/pa-catur-marga.htm" href="http://www.babadbali.com/canangsari/pa-catur-marga.htm" rel="nofollow" style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" target="_blank"&gt;http://www.babadbali.com/canangsari/pa-catur-marga.htm&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Hindu mengenal 4 (empat) jalan (Marga) menuju kepada Tuhan (Hyang Widhi) yaitu :&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;Catur Marga&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;Bhakti Marga&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;; Bhakti Marga adalah usaha untuk mencapai Jagadhita dan Moksa dengan jalan sujud bakti kepada Tuhan. Dengan sujud dan cinta kepada Tuhan Pelindung dan Pemelihara semua makhluk, maka Tuhan akan menuntun seorang Bhakta, yakni orang yang cinta, bakti dan sujud kepada- Nya untuk mencapai kesempurnaan. Dengan menambah dan berdoa mohon perlindungan dan ampun atas dosa- dosanya yang pernah dilaksanakan serta mengucap syukur atas perlindungannya, kian hari cinta baktinya kepada Tuhan makin mendalam hingga Tuhan menampakkan diri (manifest) di hadapan Bhakta itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Tuhan memelihara dan melindungi orang yang beriman itu, supaya hidupnya tetap tenang dan tenteram. Jalan yang utama untuk memupuk perasaan bakti ialah rajin menyembah Tuhan dengan hati yang tulus ikhlas, seperti melaksanakan Tri Sandhya yaitu sembahyang tiga kali dalam sehari, pagi, siang, dan sore hari dan bersembahyang hari suci lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;Karma Marga&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;; Karma Marga berarti jalan atau usaha untuk mencapai Jagadhita dan Moksa dengan melakukan kebajikan, tiada terikat oleh nafsu hendak mendapat hasilnya berupa kemasyhuran, kewibawaan, keuntungan, dan sebagainya, melainkan melakukan kewajiban demi untuk mengabdi, berbuat amal kebajikan untuk kesejahteraan umat manusia dan sesama makhluk.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Selain itu Karma Marga berhampiran inti ajarannya dengan Bhakti Marga, yaitu mengarahkan segala usaha, pengabdian kebijaksanaan, amal dan pengorbanan itu bukan dari dirinya sendiri melainkan dari Tuhan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;Jnana Marga&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;; Jnana Marga ialah suatu jalan dan usaha untuk mencapai jagadhita dan Moksa dengan mempergunakan kebijaksanaan filsafat (Jnana). Di dalam usaha untuk mencapai kesempurnaan dengan kebijaksanaan itu, para arif bijaksana (Jnanin) melaksanakan dengan keinsyafan bahwa manusia adalah bagian dari alam semesta yang bersumber pada suatu sumber alam, yang di dalam kitab suci Weda disebut Brahman atau Purusa.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Di dalam Upanishad dijelaskan bahwa Brahman atau Purusa adalah sebagai sumber unsur- unsur rohani maupun jasmani semua makhluk dan sumber segala benda yang terdapat di alam ini. Brahman sebagai sumber segala- galanya mempunyai kekuatan yang dapat dikatakan hukum kodrat, atau sifatnya yang menyebabkan Brahman berubah menjadi serba segala, rohaniah maupun jasmaniah (sekala- niskala). Menginsyafi bahwa segala yang ada, rohani maupun jasmani, benda yang berwujud (Sthula) maupun abstrak (suksma) bersumber pada Brahman, maka para bijaksana (Jnanin) memandang bahwa semua benda jasmaniah (jasad) dan wujud rohani (alam pikiran dan sebagainya) yang timbul dari Brahman adalah benda dan wujud yang bersifat sementara (relatif). Hanya sumbernya yaitu Brahman (Siwa) Yang Maha Agung yang sungguh- sungguh ada dan mutlak (absolut).&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Dengan kebijaksanaan (Jnana) mereka dapat mencapai dharma yang memberikan kebahagiaan lahir batin dalam hidupnya sekarang, di akhirat (Swarga) dan dalam penjelmaan yang akan datang (Swarga Cyuta). Andaikata rahmat melimpah akhirnya mereka dapat menginjak alam Moksa yaitu kebahagiaan yang kekal, yang menyebabkan roh (Atma) bebas dari penjelmaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;Yoga Marga&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;; Raja Yoga Marga ialah suatu jalan dan usaha untuk mencapai Jagadhita dan Moksa melalui pengabdian diri kepada Sang Hyang Widhi Wasa yaitu mulai berlangsung dan berakhir pada konsentrasi.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Dalam arti yang lebih luas yoga ini mengandung pengertian tentang pengekangan diri. Dengan pengendalian diri yang ketat, tekun dalam yoga, maka persatuan Atman dengan Brahman akan tercapai.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;Om Shanti Shanti Shanti Om&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;Oh Hyang Widhi semoga damai di hati, damai di dunia, damai untuk selamanya&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;Satyam Eva Jayate&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;pada saatnya hanya kebenaranlah yang pasti akan menang&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1741614431014675042-1598492645206821074?l=peradah-semarang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1741614431014675042/posts/default/1598492645206821074'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1741614431014675042/posts/default/1598492645206821074'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://peradah-semarang.blogspot.com/2011/08/4-jalan-menuju-tuhan.html' title='4 Jalan Menuju Tuhan'/><author><name>Peradah Indonesia Kota Semarang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03051917880292458968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_QfiMQ_o3mBM/SVcyOJLGmKI/AAAAAAAAAA8/ofE6lUHNEp4/S220/logo_peradah.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1741614431014675042.post-4140102425265744870</id><published>2011-08-30T11:39:00.000+07:00</published><updated>2011-08-30T11:39:34.777+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bhagawad gita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hindu'/><title type='text'>Bhagawad Gita - Bab II</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #333333; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 14px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div id="contentArea" role="main" style="float: left; font-family: 'comic sans ms'; margin-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 20px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; width: 493px; word-wrap: break-word;"&gt;&lt;div data-gt="{&amp;quot;engagement&amp;quot;:{&amp;quot;eng_type&amp;quot;:1,&amp;quot;eng_src&amp;quot;:15,&amp;quot;eng_tid&amp;quot;:null,&amp;quot;eng_data&amp;quot;:[]}}" data-referrer="pagelet_group_doc" id="pagelet_group_doc" style="font-family: 'comic sans ms';"&gt;&lt;div id="fbDocument253500478004029" style="font-family: 'comic sans ms';"&gt;&lt;div class="mtm fbDocument" style="font-family: 'comic sans ms'; margin-top: 10px;"&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;Om Swastyastu&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&amp;nbsp;II. Ringkasan Isi Bhagavad Gita&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&amp;nbsp;==================================================================&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;sañjaya uvāca&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;taṃ tathā kṛpayāviṣṭam aśrupūrṇākulekṣaṇam&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;viṣīdantam idaṃ vākyam uvāca madhusūdanaḥ || 2.1|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"&amp;nbsp; Sanjaya berkata; setelah melihat Arjuna tergugah rasa kasih sayang dan murung, matanya penuh air mata, Madhusudana, krisna, bersabda sebagai berikut."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;-------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;śrībhagavān uvāca&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;kutas tvā kaśmalam idaṃ viṣame samupasthitam&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;anāryajuṣṭam asvargyam akīrtikaram arjuna ||2.2|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda; Arjuna yang baik hati, bagaimana sampai hal-hal yang kotor ini menghinggapi dirimu? Hal-hal ini sama sekali tidak pantas bagi orang yang mengetahui nilai hidup. Hal-hal seperti itu tidak membawa seseorang ke planet-planet yang lebih tinggi. Melainkan menjerumuskan dirinya kedalam penghinaan."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;----------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;klaibyaṃ mā sma gamaḥ pārtha naitat tvayy upapadyate&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;kṣudraṃ hṛdayadaurbalyaṃ tyaktvottiṣṭha paraṃtapa ||2.3|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&amp;nbsp;"Wahai putera prtha, jangan menyerah pada kelemahan yang hina ini. Itu tidak pantas bagimu. Tinggalkanlah kelemahan hati yang remeh itu dan bangunlah. Wahai yang menghukum musuh."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;---------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;arjuna uvāca&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;kathaṃ bhīṣmam ahaṃ sāṅkhye droṇaṃ ca madhusūdana&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;iṣubhiḥ pratiyotsyāmi pūjārhāv arisūdana || 2.4|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"Arjuna berkata; O Pembunuh musuh, o Pembunuh Madhu, bagaimana saya dapat membalas serangan orang seperti Bhisma dan Drona dengan panah pada medan perang, padahal seharusnya saya menyembah mereka?"&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;--------------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;gurūn ahatvā hi mahānubhāvān&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;śreyo bhoktuṃ bhaikṣyam apīha loke&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;hatvārthakāmāṃstu gurunihaiva&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;bhuñjjīya bhogān rudhirapradigdhān ||2.5|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"Lebih baik saya hidup di dunia ini dengan cara mengemis daripada hidup sesudah mencabut nyawa roh-roh mulia seperti itu, yaitu guru-guru saya. Kendatipun mereka menginginkan keuntungan duniawi, mereka tetap atasan. Kalau mereka terbunuh, segala sesuatu yang kita nikmati akan ternoda dengan darah."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;---------------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;na caitad vidmaḥ kataran no garīyo&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;yad vā jayema yadi vā no jayeyuḥ&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;yān eva hatvā na jijīviṣāmas&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;tevasthitāḥ pramukhe dhārtarāṣṭrāḥ ||2.6|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"Kita juga tidak mengetahui mana yang lebih baik-mengalahkan mereka atau dikalahkan oleh mereka. Kalau Kita membunuh para putera Dhrtarastra, kita tidak mau hidup. Namun mereka sekarang berdiri di hadapan kita di medan perang."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;----------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;kārpaṇyadoṣopahatasvabhāvaḥ&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;pṛcchāmi tvāṃ dharmasaṃmūḍhacetāḥ&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;yac chreyaḥ syān niścitaṃ brūhi tan me&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;śiṣyastehaṃ śādhi māṃ tvāṃ prapannam|| 2.7|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"Sekarang hamba kebingungan tentang kewajiban hamba dan sudah kehilangan segala ketenangan karena kelemahan yang picik. Dalam keadaan ini, hamba mohon agar Anda memberi tahukan dengan pasti apa yang paling baik untuk hamba. Sekarang hamba menjadi murid Anda, dan roh yang sudah menyerahkan diri kepada Anda. Mohon memberi pelajaran kepada hamba."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;------------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;na hi prapaśyāmi mamāpanudyād&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;yac chokam ucchoṣaṇam indriyāṇām&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;avāpya bhūmāv asapatnam ṛddhaṃ&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;rājyaṃ surāṇām api cādhipatyam ||2.8|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"Hamba tidak dapat menemukan cara untuk menghilangkan rasa sedih ini yang menyebabkan indria-indria hamba menjadi kering. Hamba tidak akan dapat menghilangkan rasa itu, meskipun hamba memenangkan kerajaan yang makmur yang tiada taranya di bumi ini dengan kedaulatan seperti para dewa di surga."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;sañjaya uvāca&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;evam uktvā hṛṣīkeśaṃ guḍākeśaḥ paraṃtapaḥ&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;na yotsya iti govindam uktvā tūṣṇīṃ babhūva ha ||2.9|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"Sanjaya berkata; Setelah berkata demikian, Arjuna, perebut musuh, menyatakan kepada krsna,’’Govinda,hamba tidak akan bertempur,’’lalu diam."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;----------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;tam uvāca hṛṣīkeśaḥ prahasann iva bhārata&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;senayor ubhayor madhye viṣīdantam idaṃ vacaḥ ||2.10|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"Wahai putera keluarga Bharata, pada waktu itu, krsna, yang tersenyum di tengah-tengah antara tentara-tentara kedua belah pihak, bersabda kepada Arjuna yang sedang tergugah oleh rasa sedih."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;-----------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;śrībhagavān uvāca&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;aśocyān anvaśocas tvaṃ prajñāvādāṃś ca bhāṣase&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;gatāsūn agatāsūṃś ca nānuśocanti paṇḍitāḥ || 2.11|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda; Sambil berbicara dengan cara yang pandai engkau menyesalkan sesuatu yang tidak patut disesalkan. Orang bijaksana tidak pernah menyesal, baik untuk yang masih hidup maupun untuk yang sudah meninggal."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;------------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;natv evāhaṃ jātu nāsaṃ na tvaṃ neme janādhipāḥ&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;na caiva na bhaviṣyāmaḥ sarve vayam ataḥ param ||2.12|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"Pada masa lampau tidak pernah ada suatu saat pun Aku, engkau maupun semua raja ini tidak ada; dan pada masa yang akan datang tidak satupun di antara kita semua akan lenyap."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;dehinosmin yathā dehe kaumāraṃ yauvanaṃ jarā&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;tathā dehāntaraprāptir dhīras tatra na muhyati ||2.13|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"Seperti halnya sang roh terkurung di dalam badan terus menerus mengalami perpindahan, di dalam badan ini, dari masa kanak-kanak sampai masa remaja sampai usia tua, begitu juga sang roh masuk ke dalam badan lain pada waktu meninggal. Orang yang tenang tidak bingung karena penggantian itu."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;---------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;mātrāsparśās tu kaunteya śītoṣṇasukhaduḥkhadāḥ&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;āgamāpāyinonityās tāṃs titikṣasva bhārata ||2.14|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"Wahai putera kunti, suka dan duka muncul untuk sementara dan hilang sesudah beberapa waktu, bagaikan mulai dan berakhirnya musim dingin dan musim panas. Hal-hal itu timbul dari penglihatan indria, dan seseorang harus belajar cara mentolerir hal-hal itu tanpa goyah, Wahai putera keluarga Bharata."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;----------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;yaṃ hi na vyathayanty ete puruṣaṃ puruṣarṣabha&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;samaduḥkhasukhaṃ dhīraṃ somṛtatvāya kalpate ||2.15|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"Wahai manusia yang paling baik (Arjuna), orang yang tidak goyah karena suka ataupun duka dan mantap dalam kedua keadaan itu pasti memenuhi syarat untuk mencapai pembebasan."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;-----------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;nāsato vidyate bhāvo nābhāvo vidyate sataḥ&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;ubhayor api dṛṣṭo.antas tv anayos tattvadarśibhiḥ ||2.16|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"Orang yang melihat kebenaran sudah menarik kesimpulan bahwa apa yang tidak ada (badan jasmani) tidak tahan lama dan yang kekal (sang roh ) tidak berubah. Inilah kesimpulan mereka setelah mempelajari sifat kedua-duanya."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;----------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;avināśi tu tad viddhi yena sarvam idaṃ tatam&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;vināśam avyayasyāsya na kaścit kartum arhati ||2.17|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"Hendaknya engkau mengetahui bahwa&amp;nbsp; apa yang ada dalam seluruh badan tidak dapat dimusnahkan. Tidak seorang pun dapat membinasakan sang roh yang tidak dapat dimusnahka itu."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;-------------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;antavanta ime dehā nityasyoktāḥ śarīriṇaḥ&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;anāśinoprameyasya tasmād yudhyasva bhārata ||2.18|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"Mahluk hidup yang tidak dapat dimusnahkan atau diukur dan bersifat kekal, memiliki badan jasmani yang pasti akan berakhir. Karena itu, bertempurlah, Wahai putera keluarga Bharata."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;------------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;ya enaṃ vetti hantāraṃ yaś cainaṃ manyate hatam&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;ubhau tau na vijānīto nāyaṃ hanti na hanyate|| 2.19|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"Orang yang menganggap bahwa makhluk hidup membunuh ataupun makhluk hidup dibunuh tidak memiliki pengetahuan, sebab sang diri tidak membunuh dan tidak dapat dibunuh."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;----------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;na jāyate mriyate vā kadācin&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;nāyaṃ bhūtvā bhavitā vā na bhūyaḥ&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;ajo nityaḥ śāśvatoyaṃ purāṇo&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;na hanyate hanyamāne śarīre|| 2.20|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"Tidak ada kelahiran maupun kematian bagi sang roh pada saat manapun. Dia tidak diciptakan pada masa lampau, ia tidak diciptakan pada masa sekarang, dan dia tidak akan diciptakan pada masa yang akan datang. Dia tidak dilahirkan,&amp;nbsp; berada untuk&amp;nbsp; selamanya dan bersifat abadi. Dia tidak terbunuh apabila badan dibunuh."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;-----------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;vedāvināśinaṃ nityaṃ ya enam ajam avyayam&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;kathaṃ sa puruṣaḥ pārtha kaṃ ghātayati hanti kam||2.21|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"Wahai Partha, bagaimana mungkin orang yang mengetahui bahwa sang roh tidak dapat dimusnahkan, bersifat kekal, tidak dilahirkan dan tidak pernah berubah dapat membunuh seseorang atau menyebabkan seseorang membunuh?"&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;---------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāya&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;navāni gṛhṇāti naroparāṇi&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇāni&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;anyāni saṃyāti navāni dehī || 2.22|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"Seperti halnya seseorang mengenakan pakaian baru, dan membuka pakaian lama, begitu pula sang roh menerima badan-badan jasmani yang baru, dengan meninggalkan badan-badan lama yang tidak berguna."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;-------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;nainaṃ chindanti śastrāṇi nainaṃ dahati pāvakaḥ&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;na cainaṃ kledayanty āpo na śoṣayati mārutaḥ|| 2.23|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"Sang roh tidak pernah dapat dipotong menjadi bagian-bagian oleh senjata manapun, dibakar oleh api, dibasahi oleh air, atau dikeringkan oleh angin."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;--------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;acchedyoyam adāhyoyam akledyośoṣya eva ca&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;nityaḥ sarvagataḥ sthāṇur acaloyaṃ sanātanaḥ ||2.24|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"Roh yang individual ini tidak dapat dipatahkan dan tidak dapat dilarutkan, dibakar ataupun dikeringkan. Ia hidup untuk selamanya, berada di&amp;nbsp; mana-mana, tidak dapat diubah, tidak dapat dipindahkan dan tetap sama untuk selamanya."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;-----------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;avyaktoyam acintyoyam avikaryoyam ucyate&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;tasmād evaṃ viditvainaṃ nānuśocitum arhasi ||2.25|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"Dikatakan bahwa sang roh itu tidak dapat dilihat, tidak dapat dipahami dan tidak dapat diubah. Mengingat kenyataan itu, hendaknya engkau jangan menyesal karena badan."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;-------------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;atha cainaṃ nityajātaṃ nityaṃ vā manyase mṛtam&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;tathāpi tvaṃ mahābāho naivaṃ śocitum arhasi ||2.26|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"Akan tetapi, kalau engkau berpikir bahwa sang roh (atau gejala-gejala hidup) senantiasa dilahirkan dan selalu mati, toh engkau masih tidak mempunyai alasan untuk menyesal, wahai Arjuna yang berlengan perkasa."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;------------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;jātasya hi dhruvo mṛtyur dhruvaṃ janma mṛtasya ca&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;tasmād aparihāryerthe na tvaṃ śocitum arhasi|| 2.27|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"Orang yang sudah dilahirkan pasti akan meninggal, dan sesudah kematian, seseorang pasti akan dilahirkan lagi. Karena itu, dalam melaksanakan tugas kewajibanmu yang tidak dapat dihindari, hendaknya engkau jangan menyesal."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;-----------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;avyaktādīni bhūtāni vyaktamadhyāni bhārata&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;avyaktanidhanāny eva tatra kā paridevanā ||2.28|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"Semua makhluk yang diciptakan tidak terwujud pada awalnya, terwujud pada pertengahan, dan sekali lagi tidak terwujud pada waktu dileburkan. Jadi apa yang perlu disesalkan?"&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;--------------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;āścaryavat paśyati kaścid enam&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;āścaryavad vadati tathaiva cānyaḥ&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;āścaryavac cainam anyaḥ śṛṇoti&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;śrutvāpy enaṃ veda na caiva kaścit|| 2.29|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"Beberapa orang memandang bahwa sang roh sebagai sesuatu yang mengherankan, beberapa orang menguraikan dia sebagai sesuatu yang mengherankan, dan beberapa orang mendengar tentang dia sebagai sesuatu yang mengherankan juga, sedangkan orang lain tidak dapat mengerti sama sekali tentang sang roh, walaupun mereka sudah mendengar tentang dia."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&amp;nbsp;--------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;--------------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;dehī nityam avadhyoyaṃ dehe sarvasya bhārata&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;tasmāt sarvāṇi bhūtāni na tvaṃ śocitum arhasi|| 2.30|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"O putera keluarga Bharata, dia yang tinggal dalam badan tidak pernah dapat dibunuh. Karena itu, engkau tidak perlu bersedih hati untuk makhluk manapun."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;----------------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;svadharmam api cāvekṣya na vikampitum arhasi&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;dharmyād dhi yuddhāc chreyonyat kṣatriyasya na&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;vidyate ||2.31|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"Mengingat tugas kewajibanmu yang khusus sebagai seorang ksatriya, hendaknya engkau mengetahui bahwa tiada kesibukan yang lebih baik untukmu daripada bertempur berdasarkan prinsip-prinsip dharma; karena itu, engkau tidak perlu ragu-ragu."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;-------------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;yadṛcchayā copapannaṃ svargadvāram apāvṛtam&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;sukhinaḥ kṣatriyāḥ pārtha labhante yuddham īdṛśam&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;||2.32|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"Wahai partha, berbahagialah para ksatriya yang mendapatkan kesempatan untuk bertempur seperti itu tanpa mencarinya-kesempatan yang membuka pintu gerbang planet-planet surga bagi mereka."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;------------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;atha cet tvam imaṃ dhārmyaṃ saṅgrāmaṃ na kariṣyasi&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;tataḥ svadharmaṃ kīrtiṃ ca hitvā pāpam avāpsyasi&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;||2.33|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"Akan tetapi, apabila engkau tidak melaksanakan kewajiban dharmamu, yaitu bertempur, engkau pasti menerima dosa akibat melalaikan kewajibanmu, dan dengan demikian kemasyuranmu sebagai kesatria akan hilang."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;-----------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;akīrtiṃ cāpi bhūtāni kathayiṣyanti tevyayām&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;saṃbhāvitasya cākīrtir maraṇād atiricyate ||2.34|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"Orang akan selalu membicarakan engkau sebagai orang yang hina, dan bagi orang yang terhormat; penghinaan lebih buruk daripada kematian."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;------------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;bhayād raṇād uparataṃ maṃsyante tvāṃ mahārathāḥ&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;yeṣāṃ ca tvaṃ bahumato bhūtvā yāsyasi lāghavam&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;||2.35|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"Jendral-jendral besar yang sangat menghargai nama dan kemasyuranmu akan menganggap engkau meninggalkan medan perang karena rasa takut saja, dan dengan demikian mereka akan meremehkan engkau."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;---------------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;avācyavādāṃś ca bahūn vadiṣyanti tavāhitāḥ&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;nindantas tava sāmarthyaṃ tato duḥkhataraṃ nu kim&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;||2.36|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"Musuh-musuhmu akan menjuluki engkau dengan banyak kata yang tidak baik dan mengejek kesanggupanmu. Apa yang dapat lebih menyakiti hatimu daripada itu?"&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;--------------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;hato vā prāpsyasi svargaṃ jitvā vā bhokṣyase mahīm&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;tasmād uttiṣṭha kaunteya yuddhāya kṛtaniścayaḥ ||2.37|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"Wahai putera kunti, engkau akan terbunuh di medan perang dan mencapai&amp;nbsp; planet-planet&amp;nbsp; surga atau engkau akan menang dan menikmati kerajaan di dunia. Karena itu, bangunlah dan bertempur dengan ketabahan hati."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;-------------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;sukhaduḥkhe same kṛtvā lābhālābhau jayājayau&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;tato yuddhāya yujyasva naivaṃ pāpam avāpsyasi|| 2.38|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"Bertempurlah demi pertempuran saja, tanpa mempertimbangkan suka atau duka, rugi atau laba, menang atau kalah-dengan demikian, engkau tidak akan pernah dipengaruhi oleh dosa."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;------------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;eṣā tebhihitā sāṅkhye buddhir yoge tv imāṃ śṛṇu&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;buddhyā yukto yayā pārtha karmabandhaṃ&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;prahāsyasi ||2.39|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"Sampai sekarang, Aku sudah menguraikan tentang pengetahuan ini kepadamu melalui pelajaran analisis. Sekarang, dengarlah penjelasanku tentang hal ini menurut cara bekerja tanpa mengharapkan hasil atau pahala. Wahai putera prtha, bila engkau bertindak dengan pengetahuan seperti itu engkau dapat membebaskan diri dari ikatan pekerjaan."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;-------------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;nehābhikramanāśosti pratyavāyo na vidyate&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;svalpam apy asya dharmasya trāyate mahato bhayāt&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;||2.40|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"Dalam usaha ini tidak ada kerugian ataupun pengurangan, dan sedikitpun kemajuan dalam menempuh jalan ini dapat melindungi seseorang &amp;nbsp;&amp;nbsp;terhadap&amp;nbsp; rasa takut&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; paling berbahaya."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;----------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;vyavasāyātmikā buddhir ekeha kurunandana&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;bahuśākhā hy anantāś ca buddhayovyavasāyinām|| 2.41|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"Orang yang menempuh jalan ini bertabah hati dengan mantap,&amp;nbsp; dan tujuan mereka satu saja. Wahai putera kesayangan para kuru, kecerdasan orang yang tidak&amp;nbsp; bertabah hati mempunyai banyak cabang."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;-------------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;yām imāṃ puṣpitāṃ vācaṃ pravadanty avipaścitaḥ&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;vedavādaratāḥ pārtha nānyad astīti vādinaḥ|| 2.42|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;kāmātmānaḥ svargaparā janmakarmaphalapradām&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;kriyāviśeṣabahulāṃ bhogaiśvaryagatiṃ prati|| 2.43|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"2.42-43 Orang yang kekurangan pengetahuan sangat terikat pada kata-kata kiasan dari weda, yang menganjurkan berbagai kegiatan yang dimaksudkan untuk membuahkan pahala agar dapat naik tingkat sampai planet-planet surga, kelahiran yang baik sebagai hasilnya, kekuatan dan sebagainya. Mereka menginginkan kepuasan indria-indria dan kehidupan yang mewah, sehingga mereka mengatakan bahwa tiada sesuatu pun&amp;nbsp; yang lebih tinggi dari ini. Wahai putera prtha."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;----------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;bhogaiśvaryaprasaktānāṃ tayāpahṛtacetasām&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;vyavasāyātmikā buddhiḥ samādhau na vidhīyate ||2.44|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"Ketabahan hati yang mantap untuk ber-bakti kepada Tuhan Yang Maha Esa tidak pernah ti&amp;nbsp; mbul di dalam pikiran orang yang terlalu terikat pada kenikmatan indria-indria dan kekayaan material."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;---------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;traiguṇyaviṣayā vedā nistraiguṇyo bhavārjuna&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;nirdvandvo nityasatvastho niryogakṣema ātmavān|| 2.45|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"Veda sebagaian besar menyangkut tiga sifat alam. Wahai Arjuna, lampauilah tiga sifat alam itu.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Bebaskanlah dirimu dari segala hal yang relatif&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; segala kecemasan untuk keuntungan&amp;nbsp; dan keelamatan dan jadilah mantap dalam sang diri."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;---------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;yāvān artha udapāne sarvataḥ saṃplutodake&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;tāvān sarveṣu vedeṣu brāhmaṇasya vijānataḥ ||2.46|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"Segala tujuan yang dipenuhi oleh sumur kecil&amp;nbsp; dapat segera dipenuhi oleh sumber air yang besar. Begitu pula, segala tujuan veda dapat segera dipenuhi bagi&amp;nbsp; orang yang mengetahui maksud dasar veda itu."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;-------------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;karmaṇy evādhikāras te mā phaleṣu kadācana&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;mā karmaphalahetur bhūr mā te saṅgostv akarmaṇi&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;||2.47|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"Engkau berhak melakukan tugas kewajibanmu yang telah ditetapkan, tetapi engkau tidak berhak atas hasil perbuatan. Jangan menganggap dirimu penyebab hasil kegiatanmu, dan jangan terikat&amp;nbsp; pada kebiasaan tidak&amp;nbsp; melakukan kewajibanmu."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;-------------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;yogasthaḥ kuru karmāṇi saṅgaṃ tyaktvā dhanañjaya&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;siddhyasiddhyoḥ samo bhūtvā samatvaṃ yoga ucyate&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;||2.48|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"Wahai Arjuna, lakukanlah kewajibanmu dengan sikap seimbang,&amp;nbsp; lepaskanlah segala ikatan&amp;nbsp; terhadap sukses maupun kegagalan. Sikap seimbang seperti itu disebut yoga."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;----------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;dūreṇa hy avaraṃ karma buddhiyogād dhanañjaya&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;buddhau śaraṇam anviccha kṛpaṇāḥ phalahetavaḥ ||2.49|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"Wahai Dhananjaya, jauhilah segala yang menjijikan melalui bhakti dan dengan kesadaran seperti itu serahkanlah dirimu kepada Tuhan Yang Mha Esa. Orang yang ingin menikmati hasil pekerjaannya adalah orang pelit."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;------------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;buddhiyukto jahātīha ubhe sukṛtaduṣkṛte&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;tasmād yogāya yujyasva yogaḥ karmasu kauśalam ||2.50|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"Orang yang menekuni bhakti membebaskan dirinya dari perbuatan yang baik dan buruk bahkan dalam kehidupan ini pun. Karena itu, berusahalah untuk yoga, ilmu segala pekerjaan."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;-----------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;karmajaṃ buddhiyuktā hi phalaṃ tyaktvā manīṣiṇaḥ&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;janmabandhavinirmuktāḥ padaṃ gacchhanty&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;anāmayam ||2.51|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"Dengan menekuni bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa seperti itu, resi-resi yang mulia dan penyembah-penyembah membebaskan diri dari hasil pekerjaan di dunia material. Dengan cara demikian mereka dibebaskan dari perputaran kelahiran dan kematian dan mencapai keadaan di luar segala kesengsaraan&amp;nbsp; (dengan kembali kepada Tuhan Yang Maha Esa)."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;------------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;yadā te mohakalilaṃ buddhir vyatitariṣyati&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;tadā gantāsi nirvedaṃ śrotavyasya śrutasya ca ||2.52|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"Bila kecerdasanmu&amp;nbsp; sudah keluar dari hutan khayalan yang lebat, engkau akan acuh terhadap segala sesuatu yang sudah didengar dan segala sesuatu yang akan didengar."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;-------------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;śrutivipratipannā te yadā sthāsyati niścalā&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;samādhāv acalā buddhis tadā yogam avāpsyasi ||2.53|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"Bila pikiranmu tidak goyah lagi karena bahasa kiasan veda , dan pikiran mantap dalam semadi keinsafan diri, maka&amp;nbsp; engkau sudah mencapai kesadaran rohani."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;------------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;arjuna uvāca&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;sthitaprajñasya kā bhāṣā samādhisthasya keśava&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;sthitadhīḥ kiṃ prabhāṣeta kim āsīta vrajeta kim ||2.54|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"Arjuna berkata; o Krsna, bagaimanakah ciri-ciri orang yang kesadarannya sudah khusuk dalam kerohanian seperti itu? Bagaimana cara bicaranya serta bagaimana bahasanya? Dan bagaimana ia duduk dan bagaimana ia berjalan?."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;-----------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;śrībhagavān uvāca&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;prajahāti yadā kāmān sarvān pārtha manogatān&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;ātmany evātmanā tuṣṭaḥ sthitaprajñas tadocyate ||2.55|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"Kpribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda; o partha, bila seseorang meninggalkan segala jenis keinginan untuk kepuasan indria-indria, yang muncul dari tafsiran pikiran, dan bila pikirannya yang sudah disucikan dengan cara seperti itu hanya puas dalam sang diri, dikatakan ia sudah berada dalam kesadaran rohani yang murni."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;----------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;duḥkheṣv anudvignamanāḥ sukheṣu vigataspṛhaḥ&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;vītarāgabhayakrodhaḥ sthitadhīr munir ucyate ||2.56|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"Orang yang pikirannya tidak goyah bahkan di tengah-tengah tiga jenis kesengsaraan, tidak gembira pada waktu ada kebahagiaan, dan bebas dari ikatan, rasa takut dan marah, disebut resi yang mantap dalam pikirannya."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;----------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;yaḥ sarvatrānabhisnehas tattatprāpya śubhāśubham&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;nābhinandati na dveṣṭi tasya prajñā pratiṣṭhitā|| 2.57|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"Di dunia material, orang yang tidak dipengaruhi oleh hal yang baik dan hal yang buruk&amp;nbsp; yang diperolehnya, dan tidak memuji&amp;nbsp; maupun mengejeknya, sudah mantap dengan teguh dalam pengetahuan yang sempurna."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;-----------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;yadā saṃharate cāyaṃ kūrmoṅgānīva sarvaśaḥ&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;indriyāṇīndriyārthebhyas tasya prajñā pratiṣṭhitā ||2.58|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"Orang yang dapat menarik indria-indria dari obyek-obyek indria,bagaikan&amp;nbsp; kura-kura yang menarik kakinya ke dalam cangkangnya, mantap dengan teguh dalam kesadaran yang sempurna."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;------------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;viṣayā vinivartante nirāhārasya dehinaḥ&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;rasavarjaṃ rasopy asya paraṃ dṛṣṭvā nivartate|| 2.59|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"Barangkali kepuasan indria-indria sang roh yang berada dalam badan dibatasi, walaupun keinginan terhadap obyek-obyek indria tetap ada. Tetapi bila ia menghentikan kesibukan seperti itu dengan mengalami rasa yang lebih tinggi, kesadarannya menjadi mantap."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;-----------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;yatato hy api kaunteya puruṣasya vipaścitaḥ&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;indriyāṇi pramāthīni haranti prasabhaṃ manaḥ ||2.60|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"Wahai Arjuna, alangkah kuat dan bergeloranya indria-indria sehingga pikiran orang bijaksana yang sedang berusaha untuk mengendalikan indria-indrianya pun dibawa lari dengan paksa oleh indria-indria itu."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;--------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;tāni sarvāṇi saṃyamya yukta āsīta matparaḥ&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;vaśe hi yasyendriyāṇi tasya prajñā pratiṣṭhitā ||2.61|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"Orang yang mengekang dan mengendalikan indria-indria sepenuhnya dan memusatkan kesadarannya sepenuhnya kepada-ku, dikenal sebagai orang yang mempunyai kecerdasan yang mantap."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;-------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;dhyāyato viṣayān puṃsaḥ saṅgas teṣūpajāyate&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;saṅgāt sañjāyate kāmaḥ kāmāt krodhobhijāyate ||2.62|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"Selama seseorang merenungkan obyek-obyek indria-indria, ikatan terhadap obyek-obyek indria itu berkembang. Dari ikatan seperti itu berkembanglah hawa nafsu,dan dari hawa nafsu timbullah amarah."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;----------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;krodhād bhavati saṃmohaḥ saṃmohāt&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;smṛtivibhramaḥ&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;smṛtibhraṃśād buddhināśo buddhināśāt praṇaśyati ||2.63|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"Dari amarah timbullah khayalan yang lengkap , dari khayalan menyebabkan ingatan bingung. Bila ingatan bingung, kecerdasan hilang,&amp;nbsp; bila kecerdasan hilang, seseorang jatuh lagi ke dalam lautan material."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;--------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;rāgadveṣavimuktais tu viṣayān indriyaiś caran&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;ātmavaśyair vidheyātmā prasādam adhigacchati ||2.64|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"Tetapi orang yang sudah bebas dari segala ikatan dan rasa tidak suka serta sanggup mengendalikan indria-indria melalui prinsip-prinsip kebebasan yang teratur dapat memperoleh karunia sepenuhnya dari Tuhan."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;-----------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;prasāde sarvaduḥkhānāṃ hānir asyopajāyate&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;prasannacetaso hy āśu buddhiḥ paryavatiṣṭhate|| 2.65|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"Tiga jenis kesengsaraan kehidupan material tidak ada lagi pada orang yang puas seperti itu (dalam kesadaran Krisna); dengan kesadaran yang puas seperti itu, kecerdasan seseorang mantap dalam waktu singkat."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;---------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;nāsti buddhir ayuktasya na cāyuktasya bhāvanā&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;na cābhāvayataḥ śāntir aśāntasya kutaḥ sukham ||2.66.|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"Orang yang tidak mempunyai hubungan dengan&amp;nbsp; Yang Maha Kuasa(dalam kesadaran Krisna) tidak mungkin memiliki kecerdasan rohani maupun pikiran yang mantap. Tanpa kecerdasan rohani dan pikiran pikiran yang mantap tidak mungkin ada kedamaian. Tanpa kedamaian, bagaimana mungkin ada kebahagiaan?"&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;--------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;indriyāṇāṃ hi caratāṃ yan manonuvidhīyate&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;tad asya harati prajñāṃ vāyur nāvam ivāmbhasi ||2.67|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"Seperti perahu yang berada pada permukaan air dibawa lari oleh angin kencang, kecerdasan seseorang dapat dilarikan bahkan oleh satu saja di antara indria-indria yang mengembara dan menjadi titik pusat untuk pikiran."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;-------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;tasmād yasya mahābāho nigṛhītāni sarvaśaḥ&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;indriyāṇīndriyārthebhyas tasya prajñā pratiṣṭhitā ||2.68|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"Karena itu, orang yang indria-indrianya terkekang dari obyek-obyeknya pasti mempunyai kecerdasan yang mantap, wahai yang berlengan perkasa."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;--------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;yā niśā sarvabhūtānāṃ tasyāṃ jāgarti saṃyamī&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;yasyāṃ jāgrati bhūtāni sā niśā paśyato muneḥ ||2.69|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"Malam hari bagi semua makhluk adalah waktu sadar bagi orang yang mengendalikan diri, dan waktu sadar bagi semua makhluk adalah malam hari bagi resi yang mawas diri."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;---------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;āpūryamāṇam acalapratiṣṭhaṃ&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;samudram āpaḥ praviśanti yadvat&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;tadvat kāmā yaṃ praviśanti sarve&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;sa śāntim āpnoti na kāmakāmī ||2.70|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"Hanya orang yang tidak terganggu oleh arus keinginan yang mengalir terus menerus yang masuk bagaikan sungai-sungai ke dalam lautan,yang senantiasa diisi tetapi selalu tetap tenang , dapat mencapai kedamaian. Bukan orang yang berusaha memuaskan keinginan itu yang dapat mencapai kedamaian."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;--------------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;vihāya kāmān yaḥ sarvān pumāṃś carati niḥspṛhaḥ&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;nirmamo nirahaṃkāraḥ sa śāntim adhigacchhati ||2.71|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;"Hanya orang yang sudah meninggalkan segala jenis keinginan untuk kepuasan indria-indria, hidup bebas dari keinginan, sudah meninggalkan segala rasa ingin memilik sesuatu dan bebas dari keakuan palsu dapat mencapai kedamaian yang sejati"&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;--------------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;eṣā brāhmī sthitiḥ pārtha naināṃ prāpya vimuhyati&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;sthitvāsyām antakālepi brahmanirvāṇam ṛcchati || 2.72|&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;" Itulah cara hidup yang suci dan rohani. Sesudah mencapai kehidupan seperti itu, seseorang tidak dibingungkan. Kalau seseorang mantap seperti itu bahkan pada saat kematian sekalipun, ia dapat masuk ke kerajaan Tuhan."&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;wbr style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-left: -10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;--------------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;Om Shanti Shanti Shanti Om&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;em style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;Oh Hyang Widhi semoga damai di hati, damai di dunia, damai untuk selamanya&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;Satyam Eva Jayate&lt;/strong&gt;Pada akhirnya hanya kebenaranlah yang pasti akan menang&lt;strong style="font-family: 'comic sans ms'; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;Hare OM&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1741614431014675042-4140102425265744870?l=peradah-semarang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1741614431014675042/posts/default/4140102425265744870'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1741614431014675042/posts/default/4140102425265744870'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://peradah-semarang.blogspot.com/2011/08/bhagawad-gita-bab-ii.html' title='Bhagawad Gita - Bab II'/><author><name>Peradah Indonesia Kota Semarang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03051917880292458968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_QfiMQ_o3mBM/SVcyOJLGmKI/AAAAAAAAAA8/ofE6lUHNEp4/S220/logo_peradah.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1741614431014675042.post-7794463658899927485</id><published>2011-08-02T13:17:00.002+07:00</published><updated>2011-08-03T04:30:22.426+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mind'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Spiritual'/><title type='text'>Be Without Mind ( No Translation )</title><content type='html'>&lt;div class="articleIntrotext" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.yogeeshashram.org/blog/be-without-mind"&gt;http://www.yogeeshashram.org/blog/be-without-mind&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Artikel ini sengaja tidak di terjemahkan dikarenakan adanya arti yang hilang bila nanti di terjemahkan. Silahkan dibaca dalam bahasa inggris saja. Trimakasih.&lt;br /&gt;Om Shanti Shanti Shanti Om&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_g9gzXxTkNqM/TRLWjkIVhEI/AAAAAAAABzU/J5vjvgOr8zY/s1600/BRAHMANDA-01.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="215" src="http://4.bp.blogspot.com/_g9gzXxTkNqM/TRLWjkIVhEI/AAAAAAAABzU/J5vjvgOr8zY/s400/BRAHMANDA-01.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;This universe is called Brahmanda – the egg of Brahma. This  universe consists of millions and millions of galaxies. Our own galaxy  consists of thousands of suns. We have not been able to grasp our own  galaxy yet. We don’t even know about our own solar system. Our knowledge  is very limited. But we know that we have been given this human life  after so many lives. Be grateful for this life. This human life gives  you the opportunity to learn. Once you have come this far to acquire  human form you don’t have far to go. It is like coming three quarters of  the way. You have crossed most of the ocean. All you need to do is jump  to get to the other side. It takes courage to jump. You lack courage to  make that jump. Those who don’t follow spirituality will go back to the  beginnings of life and will have to start from the lowest form of life  again, like that of algae or amoeba. Human life presents you with a  great tool, the mind to work with. Animals and plant life do not possess  this tool except when they live with humans and start learning from  them. By being around humans they can develop their mind in order to  create the opportunity to become human one day. Do not lose the  opportunity to learn becausethis life is very precarious. We are born,  we grow up, we get married but we don’t know what tomorrow holds forus.  Mahavira said, this life is like a drop of dew hanging at the end of the  blade of grass. Any moment that drop can fall.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Don’t waste any moment. Make every effort to learn while it is in your hands.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="articleFulltext" style="text-align: justify;"&gt;Angels cannot follow the spiritual life because angels live in too  much luxury. They have no suffering or pain. It is good that you have  reasons to suffer because suffering brings you down and when you are  down you can find the way to raise yourself. People need inspiration  when they are down. When you have difficulties and things pull you down,  suddenly something can inspire you and push you towards the spiritual  life. Actually, suffering is a blessing; it is the door for you to find  your soul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A very wealthy businessman who was very successful at what he did was  dissatisfied that he could not find the time to devote to spirituality.  He went to see a saint to ask for his help. The saint inquired to find  out what it was that he wanted. The man said, ‘I am always busy with  work and work never finishes. I cannot find time to devote to growing  spiritually’. He begged the saint to help finish his work. The saint  agreed to help him and he brought a genie in front of him and said, ‘you  always have to keep him busy otherwise if he has time on his hands he  will kill you’. The man was happy that he was finally getting help. He  gave the genie a task to perform and within minutes the genie was done.  He appeared before the businessman and asked, ‘what shall I do now’? The  man gave him another task. Again, within a few minutes the job was done  and he appeared before him. The businessman was so happy that he was  finishing the tasks so quickly. Once more, the genie demanded another  task and again it was performed within minutes. This went on for a few  days. He sent him overseas to complete jobs and in one week’s time all  his work was finished. He thought to himself, ‘this is a miracle. All my  requirements are completed but I do not have anything more to give  him’.The genie stood before him demanding more work and the businessman  had run out of things to do. He recalled the saint’s instructions but  not knowing what to do next ran to him for help. The saint said, ‘I  cannot help you; you know what you ought to do’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The businessman was afraid for his life. He thought carefully and  suddenly it occurred to him that there was a tall tree outside. He told  the genie, ‘go out in the garden and there you will find a tall tree.  Climb up the tree and when you reach the top come back down and just  keep going up and coming down’. The businessman knew that he was saved.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The mind functions in this way. Just like the genie it always needs  to be kept busy otherwise it will kill the person. The mind never stops;  it generates thought after thought until it drives the person to  madness. The mind is hell.Always keep the mind busy and by doing that  you can bypass it. Once you bypass it, you are liberated from its claws.  The mind has two aspects. One, it is a&amp;nbsp; great tool for learning and the  other side of it is the hell it creates for you. Learning is a slow  process and changes happen gradually. A person, himself or herself, is  unable to see the transformation. Others can see it and recognize it but  it is difficult for the person to&amp;nbsp; observe its effects.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Once there was a humble, lowly bush barren of leaves and full of  thorns. It grew alongside beautiful and tall evergreen trees carrying  hundreds of leaves on their branches. This little bush was very unhappy  because no one noticed it or acknowledged it. Always, passers by would  look and comment on the tall trees and how awesome they were. The bush  became more and more depressed about its state of being. One day, an  angel appeared in front of it. It knew that the bush was sad. It asked  the bush to make a wish. The bush thought about it and decided that it  wanted beautiful and shiny golden leaves that no one could miss. The  angel decided to grant the bush its wish and covered it with exquisite&amp;nbsp;  golden leaves that sparkled in the sunlight. Everyone that passed by it  admired it and picked up a leaf until none was left.The bush became  unhappy again and thought to itself it is not worth having such  beautiful leaves. The angel appeared again and asked the bush to make  another wish. The bush asked that it be covered with shiny glass leaves  thinking that no one will bother to pick up glass leaves. Its wish was  granted and the bush was happy. After a week a strong wind came and blew  away the all the glass leaves off the branches. The bush was wounded  from the sharp glass. The angel appeared again and asked the bush to  make another wish. This time the bush said, ‘give me a lot of leaves’.  The angel granted its wish and the bush became covered with numerous  green leaves. It was happy for two days. The third day a shepherd came  by with a herd of goats. The goats ate every single leaf and the bush  became naked. It was very depressed. The angel returned for the fourth  time and asked the bush to make one more wish. The bush replied, ‘just  give me my barren branches and thorns. It is not worth having those  exquisite golden leaves or shiny glass leaves or beautiful green leaves  because I lost them anyway. I think I am satisfied to be a barren bush  with thorns’.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1741614431014675042-7794463658899927485?l=peradah-semarang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1741614431014675042/posts/default/7794463658899927485'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1741614431014675042/posts/default/7794463658899927485'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://peradah-semarang.blogspot.com/2011/08/be-without-mind-no-translation.html' title='Be Without Mind ( No Translation )'/><author><name>Peradah Indonesia Kota Semarang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03051917880292458968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_QfiMQ_o3mBM/SVcyOJLGmKI/AAAAAAAAAA8/ofE6lUHNEp4/S220/logo_peradah.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_g9gzXxTkNqM/TRLWjkIVhEI/AAAAAAAABzU/J5vjvgOr8zY/s72-c/BRAHMANDA-01.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1741614431014675042.post-2163853707481772846</id><published>2011-08-02T12:57:00.002+07:00</published><updated>2011-08-03T04:31:34.044+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Siwa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mantra'/><title type='text'>Meditasi Mantra / Japa Mantra (Om Nama Siwaya)</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/5/54/Harihara.jpg/220px-Harihara.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/5/54/Harihara.jpg/220px-Harihara.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;(&lt;i&gt;&lt;b&gt;Om Nama Shivaya &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;/ &lt;i&gt;&lt;b&gt;Om Nama Sivaya &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;/ &lt;i&gt;&lt;b&gt;Om Nama Siwaya) &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;merupakan mantra panca aksara yang secara khusus ditunjukan kepada &lt;i&gt;&lt;b&gt;Shiva / Siva / Siwa &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;salah satu deity dalam mitology Hindu. Secara harfiah arti dari mantra ini adalah : &lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;i&gt;i bow to Shiva&lt;/i&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;. &lt;i&gt;&lt;b&gt;Shiva &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;sendiri memiliki 1008 nama (&lt;b&gt;&lt;i&gt;Sahasranama Shiva&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;) dengan berbagai macam arti.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut buku "&lt;i&gt;&lt;b&gt;The Ancient Power of Sanskrit Mantra and Ceremony Vol 1&lt;/b&gt;" &lt;/i&gt;karya Thomas Ashley-Farrand mendeskripsikan "&lt;b&gt;&lt;i&gt;Om Namah Shivaya&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;" sebagai mantra yang tidak memiliki arti secara langsung. akan tetapi vibrasi suara yang dihasilkan terkait langsung dengan lima elemen chakra pertama, &lt;b&gt;&lt;i&gt;Bumi, Air, Api, Udara, dan Ether&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Panca aksara &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"&lt;i&gt;&lt;b&gt;Na&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;" : Gross Body ( Annamayakosa )&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"&lt;i&gt;&lt;b&gt;Ma&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;" : Pranic Body ( Pranamayakosa )&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"&lt;i&gt;&lt;b&gt;Shi / Chi&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;" : Mental Body ( Manomayakosa )&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"&lt;i&gt;&lt;b&gt;Va&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;" : Intellectual Body ( Vignanamayakosa )&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"&lt;i&gt;&lt;b&gt;Ya&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;" : Blissful Body ( Anandamayakosa )&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;dan "&lt;i&gt;&lt;b&gt;Om / Aum&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;" di depan merujuk kepada "&lt;i&gt;the Soul or Life within&lt;/i&gt;" ( Sumber Kehidupan )&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Meditasi mantra / &lt;i&gt;&lt;b&gt;Japa&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; yoga dengan mantra ini dapat dilakukan siapa saja. Biasanya dilakukan sebanyak 108x atau 1 putaran rudraksha. Pengulangan mantra dilakukan dengan penuh keyakinan dan kebijaksanaan, bisa juga dengan membayangkan / memvisualisasikan image &lt;i&gt;&lt;b&gt;Shiva&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; dalam pikiran sembari terus mengulang menyanyikan mantra ini dalam hati.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semoga dengan mengikatkan pikiran kita pada mantra ini kita mendapat vibrasi spiritual setelah melakukan japa dengan mantra ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Om Shanti-Shanti-Shanti Om.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Aum Nama Sivaya&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sumber : Meditation is easy, Wikipedia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1741614431014675042-2163853707481772846?l=peradah-semarang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1741614431014675042/posts/default/2163853707481772846'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1741614431014675042/posts/default/2163853707481772846'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://peradah-semarang.blogspot.com/2011/08/meditasi-mantra-japa-mantra-om-nama.html' title='Meditasi Mantra / Japa Mantra (Om Nama Siwaya)'/><author><name>Peradah Indonesia Kota Semarang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03051917880292458968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_QfiMQ_o3mBM/SVcyOJLGmKI/AAAAAAAAAA8/ofE6lUHNEp4/S220/logo_peradah.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1741614431014675042.post-5063868112840797866</id><published>2011-07-26T09:04:00.001+07:00</published><updated>2011-07-29T04:31:05.835+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wuku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Astrologi Bali'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Saptawara'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pancawara'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kalender Bali'/><title type='text'>Kalender Bali Versi Desktop Untuk Windows , Mac, Dan Linux</title><content type='html'>&lt;b&gt;OM SWASTYASTU&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;The Story&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;It's all started with the idea of the founder, a Balinese guy, to  gentrified the Balinese Calendar. Pretty simple reason: computer was a  common things nowadays. The existance of a Balinese calendar app would  ease the Balinese people, as the modern living were also affecting them.  It's also our passion to conserve our beloved country heritage with our  abilities in Information Technology. The idea was not the first where  some online sites such as &lt;a href="http://www.kalenderbali.org/" title="www.kalenderbali.org"&gt;www.kalenderbali.org&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.babadbali.com/" title="www.babadbali.com"&gt;www.babadbali.com&lt;/a&gt;, and&amp;nbsp;&lt;a href="http://ayubali.awardspace.com/"&gt;ayubali.awardspace.com&lt;/a&gt;&amp;nbsp;have  been providing online Balinese calendar. But we decided for a  diffferent path, by making a desktop app. It make sense while the  internet infrastructure isn't very good in Indonesia, despite of its  number of internet users. We designed the app in the end of 2010.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Balinese Calendar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;What is so special in Balinese calendar anyway? For a simple  description, it's a lunar-solar-aritmethic based calendar, because it  was using lunar-moon cycle, and math in its calculation. In Balinese  socio-cultural life, the calendar plays a very important rule. It helps  people in choosing the right date and time for specific rituals and  ceremony. Back in the old days, the first commercial compilation of the  calendar system was made by I Kt. Bangbang Gde Rawi (Alm) in 1960.  Though some years have passed, this compiled calendar system still lack  on innovations. The guidance (&lt;i&gt;ala ayuning dewasa&lt;/i&gt;) in the  calendar system still full of agrarian life guidance, which may obsolete  in current modern living. Well, we are not an astrology-experts anyway,  but we're still hoping that our opinion may inspire the balinese  astrology&amp;nbsp;(wariga)&amp;nbsp;experts to improve the calendar system.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bibliography&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;We thank Mr. I.B. Putra Manik Aryana, SS., M.Si with his book titled  "Tenung Wariga - Kunci Ramalan Astrologi Bali" and Mr. I.B. Suparta  Ardhana dalam bukunya yang berjudul "Pokok-Pokok Wariga". The BalaBali  Kalender was also tested and compared with three online Balinese  calendar sites: &amp;nbsp;&lt;a href="http://www.babadbali.com/"&gt;www.babadbali.com&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.kalenderbali.org/"&gt;www.kalenderbali.org&lt;/a&gt;, and&amp;nbsp;&lt;a href="http://ayubali.awardspace.com/"&gt;ayubali.awardspace.com&lt;/a&gt;. Great thanks for the sites-maker.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Features&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;BalaBali Kalender packed with some features that also existed in the common printed Balinese calendar, such as:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;   Calculation of &lt;i&gt;wewaran, pawukon (wuku), ingkel, jejepan, pewatekan madya dan alit, eka jala rsi, lintang, pancasuda, pengarasan, rakam, &lt;/i&gt;and&lt;i&gt; &lt;/i&gt;zodiac.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;   Calculation of &lt;i&gt;penanggal/panglong&lt;/i&gt;, and &lt;i&gt;sasih&lt;/i&gt;.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;   Calculation of &lt;i&gt;ala ayuning dewasa&lt;/i&gt; (the good and bad aspect of days).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;   Calculation of &lt;i&gt;baya oton&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(&lt;i&gt;ruwatan)&lt;/i&gt;.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;with also some modern features:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;   Event Maintenance : search, add, edit, and deletion of event with some parameters (Gregorian date, Sasih date, &lt;i&gt;wewaran&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;wuku&lt;/i&gt;, etc).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;   Eye Catching Effects : with some cool transition effects.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;   BalaBali PuniaWall : our program to appreciate our donors by giving  them a testimonials space, that accessible by clicking the PuniaWall  button in BalaBali Kalender.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;   Documentation and Tutorial Video.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;   3 platform release: Microsoft Windows, Apple Mac OS X, dan Linux.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;With lot of features, BalaBali Kalender is not a paid app. &lt;b&gt;Yes, i&lt;/b&gt;&lt;b&gt;ts absolutely free!&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Download BalaBali Kalender&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;BalaBali Kalender is available in Bahasa Indonesia for Microsoft  Windows (tested on Windows XP/Vista/7),&amp;nbsp; Mac OS X (tested versi 10.6.x),  dan Linux (tested on Maverick / 10.10).&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;   &lt;a href="http://www.mediafire.com/?8qfcsypoakga84p"&gt;Download BalaBali Kalender 1.0 for Windows&lt;/a&gt; or&amp;nbsp;&lt;a href="https://dl.dropbox.com/s/yx0idtb80y432r4/BalaBali%20Kalender%201.0.exe?dl=1"&gt;Mirror&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;   &lt;a href="http://www.mediafire.com/?ggr86bjdts6l0kz"&gt;Download BalaBali Kalender 1.0 for Mac OS X&lt;/a&gt;&amp;nbsp;or&amp;nbsp;&lt;a href="https://dl.dropbox.com/s/u73guq78snyz1sv/BalaBali%20Kalender%201.0.dmg?dl=1"&gt;Mirror&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;   &lt;a href="http://www.mediafire.com/?ugnjg89xkjbkh5i"&gt;Download BalaBali Kalender 1.0 for Linux&lt;/a&gt;&amp;nbsp;or&amp;nbsp;&lt;a href="https://dl.dropbox.com/s/k6x73dsif9csmjk/BalaBali%20Kalender%201.0.tar.lzma?dl=1"&gt;Mirror&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;b&gt;Last Words...&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;We believe that BalaBali Kalender is not a perfect app and encourage every comments and ideas to help us improving the app.&lt;br /&gt;Regards,&lt;i&gt; Matur Suksma&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;OM SANTIH, SANTIH, SANTIH, OM&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;source : &lt;a href="http://www.balabali.com/balabali-kalender"&gt;http://www.balabali.com/balabali-kalender&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt; screen shot :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-9AKC-fM6-g4/Ti4gUxeCPQI/AAAAAAAAAJM/iFQ465ejm5U/s1600/bala_bali_calender_1.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-9AKC-fM6-g4/Ti4gUxeCPQI/AAAAAAAAAJM/iFQ465ejm5U/s320/bala_bali_calender_1.JPG" width="301" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-vMaTbsz9XqQ/Ti4gW9lxyrI/AAAAAAAAAJQ/yvyT3hzuibI/s1600/bala_bali_calender2.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-vMaTbsz9XqQ/Ti4gW9lxyrI/AAAAAAAAAJQ/yvyT3hzuibI/s320/bala_bali_calender2.JPG" width="300" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1741614431014675042-5063868112840797866?l=peradah-semarang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1741614431014675042/posts/default/5063868112840797866'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1741614431014675042/posts/default/5063868112840797866'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://peradah-semarang.blogspot.com/2011/07/kalender-bali-versi-desktop-untuk.html' title='Kalender Bali Versi Desktop Untuk Windows , Mac, Dan Linux'/><author><name>Peradah Indonesia Kota Semarang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03051917880292458968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_QfiMQ_o3mBM/SVcyOJLGmKI/AAAAAAAAAA8/ofE6lUHNEp4/S220/logo_peradah.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-9AKC-fM6-g4/Ti4gUxeCPQI/AAAAAAAAAJM/iFQ465ejm5U/s72-c/bala_bali_calender_1.JPG' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1741614431014675042.post-6509818828153179644</id><published>2011-07-20T20:39:00.002+07:00</published><updated>2011-07-21T19:14:42.202+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Yoga'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hindu'/><title type='text'>Raja Guhya, Raja Vidya, Raja Dharma</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150563817000019"&gt;Mengapa Rahasia? (5)&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Raja Guhya, Raja Vidya, Raja Dharma&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;oleh : Rumah Dharma - Hindu Indonesia&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;PENGETAHUAN RAHASIA &amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam ajaran Hindu terdapat ajaran-ajaran rahasia  yang tidak sembarangan diungkap. Seperti misalnya Ashvini Rahasya,  Tripura Rahasya, dll. Di Bali dikenal dengan istilah ”aja wera” [tidak  boleh dibicarakan]. Tapi karena berbagai pert...imbangan,  Rumah Dharma memutuskan untuk menulis sebagian kecil dari ajaran  rahasia tersebut. Dengan catatan bahwa tidak semua orang akan bisa  tersambung dengan tulisan ini. Hanya bagi mereka yang bathinnya sudah  ”siap” [bathin cukup bersih, tenang, welas asih, baik hati, dll]. &amp;nbsp;  &amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;  Ada tiga faktor yang memunculkan adanya ajaran-ajaran rahasia. Semua  ajaran rahasia mencakup salah satu atau lebih dari ketiga faktor ini : &amp;nbsp;  1. Ajaran rahasia yang terkait pengalaman langsung. Rahasia bukan  karena dirahasiakan, melainkan karena terkait pengalaman bathin yang  tidak bisa diceritakan dengan kata-kata. Setiap penjelasan tidak akan  pernah bisa mewakili secara tepat, hanya bisa dialami sendiri secara  langsung [pratyaksa pramana]. Karena itu faktor ini tidak bisa  dituliskan dan diceritakan. &amp;nbsp; 2. Ajaran rahasia yang dirahasiakan untuk  menghindari kesalah-pahaman publik. Karena ajaran ini bertentangan  dengan logika sebagian besar manusia [note :&amp;nbsp;faktor&amp;nbsp;ini yang akan  dibahas dalam tulisan ini]. &lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; 3. Ajaran rahasia yang dirahasiakan untuk  menghindari penyelewengan ajaran. Umumnya ini terkait ajaran tingkat  tinggi. Seperti misalnya shakti yoga yang dapat membuat seseorang  menjadi siddhi [sangat sakti], laku [praktek spiritual] yang terkait  dengan ketelanjangan, dll. Tapi untuk selebihnya ini tidak akan dibahas  lagi. &amp;nbsp; FAKTOR KEDUA &amp;nbsp; [Yang akan dibahas dalam catatan ini adalah  faktor kedua dalam penjelasan diatas]. &amp;nbsp; Syarat penting bagi seorang  sadhaka untuk dapat diijinkan memasuki jalan rahasia ini adalah ketika  cahaya bathin-nya sudah serupa dengan cahaya matahari dan bulan. &amp;nbsp;  Matahari dan bulan bercahaya menerangi semuanya tanpa memilih. Tidak  memilih orang harus agamanya apa atau tidak beragama sekalipun, tidak  membedakan orang baik atau orang jahat, cantik atau jelek, bodoh atau  cerdas, kaya atau miskin, dll. Semuanya diberikan cahaya terang secara  sama, tanpa syarat. Artinya kapan saja kita bisa bersikap penuh welas  asih dan penuh kebaikan, secara sama, tanpa syarat kepada semua. Kepada  orang yang memuji ataupun menghina, kepada yang baik maupun jahat,  kepada yang menolong maupun yang menyakiti, dll, disana kita dapat  diijinkan memasuki jalan rahasia ini. &amp;nbsp; ** Tugas pertama sadhaka di  jalan rahasia adalah mengurangi penderitaan para mahluk. Dalam  penjelasan sederhana : tidak membalas caci-maki dan hinaan orang lain,  tidak marah pada orang yang memarahi kita, tidak menyakiti orang yang  jahat, tidak melawan pada yang merendahkan kita, dll. Artinya ketika ada  yang menghujat, menyakiti, merugikan, dan yang jelek-jelek lainnya,  kita tidak bereaksi apapun kecuali diam, tersenyum dan memancarkan welas  asih dan kebaikan. Itu semua sudah mengurangi penderitaan orang lain.  Dan bagi para sadhaka dia malah akan memberikan lebih, untuk membuat  mereka berbahagia. &amp;nbsp; ** Tugas kedua sadhaka di jalan rahasia adalah  menjaga keseimbangan alam semesta ini [karena alam semesta ini harus  seimbang]. Dibalik kecenderungan semua manusia yang mengejar bahagia dan  bahagia, untung dan untung, menang dan menang, kaya dan kaya, disana  harus ada yang menderita, sial, kalah dan rugi. Dan para sadhaka di  jalan rahasia, dialah yang mengambil semua yang jelek-jelek itu [agar  alam semesta ini seimbang]. Seluruh hidupnya dia jadikan persembahan  [yajna] bagi mahluk lain dan alam semesta. &amp;nbsp; Misalnya [contoh]  persembahan di jalan rahasia ini : ”Kalau kita dilempar dengan batu,  berikanlah bunga”. &amp;nbsp; Dan jangankan  uang, deposito, kekayaan, harga diri, gengsi, dll, bahkan tubuh dan  nyawa kita-pun di jalan rahasia ini dijadikan persembahan. Seperti kisah  Raja Sibi dalam Maha Bharata. Raja Sibi adalah sadhaka di jalan  rahasia. Raja Sibi memotong dan mengiris-iris dagingnya sendiri sebagai  pengganti kepada burung elang, untuk menyelamatkan kapotha [burung  merpati]. Tubuhnya sendiri dijadikan persembahan [yajna] demi  kebahagiaan mahluk lain. Sadhana&amp;nbsp;Raja Sibi ini di dalam teks-teks Shiva  disebut “Raja Dharma” dan beliau disebut avatara Shiva sebagai  Kapothesvara.&amp;nbsp; &amp;nbsp;  &amp;nbsp; MENGAPA AJARAN  INI DIRAHASIAKAN ? &amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karena para sadhaka di jalan rahasia ini  pedoman-nya, ukuran-nya dan logika-nya terbalik dengan orang kebanyakan  yang duniawi. Dalam logika orang biasa [orang duniawi], hidup adalah  mengejar bahagia dan tidak mau menderita, mencari surga dan tidak mau  neraka, mendapat label benar dan tidak mau mendapat label salah,  mengejar untung dan tidak mau rugi, mengejar menang dan tidak mau kalah,  mengejar kaya dan tidak mau miskin, dll. &amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ajaran ini dirahasiakan  karena pedoman-nya, ukuran-nya dan logika-nya terbalik dengan orang  kebanyakan yang duniawi.&amp;nbsp;Mengajarkan jalan rahasia ini kepada umum,  sangat rawan bisa memicu penolakan, perselisihan, dihujat, disebut gila  dan tidak waras, dibenci, dihajar ramai-ramai dan salah-salah bisa  dibunuh. Seperti misal-nya Mahatma Gandhi yang mati ditembak. Mengapa ?  Karena beliau bertemu orang-orang yang pedoman-nya, ukuran-nya dan  logika-nya terbalik dengan jalan rahasia. &amp;nbsp; Itulah sebabnya jalan  rahasia ini cenderung hanya diajarkan kepada murid-murid pilihan yang  sudah siap memasuki gerbang dharma yang tertinggi [Raja Dharma]. &amp;nbsp;  Contoh lainnya [misalnya] : &amp;nbsp; - Bila sebagian besar manusia mencintai  keramaian dan perayaan, sadhaka yang mulai memasuki wilayah rahasia ini  dia memilih keheningan hutan, tempat yang sepi dan alami. Ada yang  berkelana. Langit laksana atap rumah, bumi laksana lantai. - Bila  sebagian besar manusia mencintai kekayaan dan kemewahan, sadhaka yang  mulai memasuki wilayah rahasia ini dia memilih kesederhanaan. Bahkan ada  diantara sadhaka di jalan ini tidak memiliki apapun, semua miliknya  dijadikan yajna [persembahan] kepada orang lain yang memerlukan. -  Terbalik dengan orang biasa, sementara milyaran manusia berdoa agar  dirinya yang mendapatkan kebahagiaan, para sadhaka ini berdoa agar  dirinya-lah yang menampung penderitaan para mahluk. Karena alam semesta  ini harus seimbang, diantara milyaran manusia yang ingin bahagia, harus  ada yang mengambil penderitaan. Tidak ada siang tanpa malam, tidak ada  kebahagiaan tanpa penderitaan. Sehingga mantra [doa] rahasia para  sadhaka di jalan ini : "Semoga semua penderitaan datang kepada saya,  semoga semua kebahagiaan datang kepada mahluk lain". - Dll. &amp;nbsp; Lihatlah  bahwa pedoman-nya, ukuran-nya dan logika-nya terbalik dengan orang  kebanyakan. Itu sebabnya bagi orang kebanyakan, para sadhaka ini sangat  rawan dianggap sebagai tidak wajar, aneh, menyimpang, gila atau tidak  waras. &amp;nbsp; Jalan rahasia ini diajarkan dan dilaksanakan bagi sangat  sedikit sadhaka pilihan dan tidak diajarkan kepada umum [untuk  menghindari kontroversi]. Tapi ketika ada orang biasa yang bertanya,  akan disampaikan dalam bentuk prosa, bahasa-bahasa puitis dan simbolik.  Dimana pedomannya sederhana, ketika cahaya bathin kita sudah serupa  dengan cahaya matahari dan bulan, disana baru kita bisa memasuki jalan  rahasia ini [matahari dan bulan bercahaya menerangi semuanya tanpa  memilih]. &amp;nbsp; POHON YOGA &amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah melewati sadhana [disiplin spiritual]  yang panjang, puncak perjalanan seorang sadhaka tercapai ketika bathin  mulai hening, sunyi, sepi. Tidak ada ke-aku-an, kemarahan, ketakutan,  kebingungan, keinginan, keserakahan, dll, yang tersisa. Kemudian  memasuki jalan rahasia. Ini sering disimbolikkan sebagai pohon yoga.  Dalam keheningannya terhadap hiruk-pikuk fenomena kehidupan, pohon  bekerja dua puluh empat jam sehari. Dan semua bunga, buah dan oksigen  yang dihasilkannya diperuntukkan bagi mahluk lain. &amp;nbsp;  &amp;nbsp; Para sadhaka di  jalan rahasia mewakili unsur akasha [ruang] dari alam semesta. Karena  ada ruang maka cahaya matahari bisa melaksanakan tugasnya, pohon  bermekaran, sungai mengalir, manusia bisa tumbuh menjadi lebih dewasa,  dll. Ruang merangkul dan menyediakan tempat bagi apa saja dan siapa saja  tanpa membeda-bedakan. Ruang mewakili TIDAK TERHINGGA, TIDAK TERBATAS.  Ke-tidak-terhinggaan keheningan sekaligus ketidakterbatasan kasih  sayang. &amp;nbsp; PENUTUP &amp;nbsp; Inilah sekelumit kecil tentang pengetahuan rahasia.  Semoga tulisan ini berguna. Om Aim Sarasvatye Namaha. Selamat Hari  Sarasvati. &amp;nbsp; Rumah Dharma - Hindu Indonesia 20 April 2011&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1741614431014675042-6509818828153179644?l=peradah-semarang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1741614431014675042/posts/default/6509818828153179644'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1741614431014675042/posts/default/6509818828153179644'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://peradah-semarang.blogspot.com/2011/07/raja-guhya-raja-vidya-raja-dharma.html' title='Raja Guhya, Raja Vidya, Raja Dharma'/><author><name>Peradah Indonesia Kota Semarang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03051917880292458968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_QfiMQ_o3mBM/SVcyOJLGmKI/AAAAAAAAAA8/ofE6lUHNEp4/S220/logo_peradah.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1741614431014675042.post-6798890252361788737</id><published>2011-07-20T20:31:00.001+07:00</published><updated>2011-07-20T20:31:01.962+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><title type='text'>Menjelaskan apa itu fenomena Tuhan. Mengapa ada orang yg bisa melihat satu atau banyak Dewa/dewi tertentu.</title><content type='html'>&lt;h6 class="uiStreamMessage"&gt;&lt;span class="messageBody"&gt;Menjelaskan apa itu fenomena Tuhan. Mengapa ada orang yg bisa melihat satu atau banyak Dewa/dewi tertentu.&lt;/span&gt;&lt;/h6&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="messageBody"&gt;&lt;object width="425" height="344"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/hwyuQbIb0Xs?version=3" /&gt;&lt;param name="allowFullScreen" value="true" /&gt;&lt;param name="allowscriptaccess" value="always" /&gt;&lt;embed type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="344" src="http://www.youtube.com/v/hwyuQbIb0Xs?version=3" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1741614431014675042-6798890252361788737?l=peradah-semarang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1741614431014675042/posts/default/6798890252361788737'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1741614431014675042/posts/default/6798890252361788737'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://peradah-semarang.blogspot.com/2011/07/menjelaskan-apa-itu-fenomena-tuhan.html' title='Menjelaskan apa itu fenomena Tuhan. Mengapa ada orang yg bisa melihat satu atau banyak Dewa/dewi tertentu.'/><author><name>Peradah Indonesia Kota Semarang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03051917880292458968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_QfiMQ_o3mBM/SVcyOJLGmKI/AAAAAAAAAA8/ofE6lUHNEp4/S220/logo_peradah.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1741614431014675042.post-2154551827537374679</id><published>2011-07-20T06:55:00.006+07:00</published><updated>2011-07-21T19:18:04.533+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Alam'/><title type='text'>Krisis Evolusioner</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://a7.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/285381_10150242913473565_711258564_7437677_5147355_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://a7.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/285381_10150242913473565_711258564_7437677_5147355_n.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Dunia sekarang ini dalam krisis. Kita semua bisa merasakan itu. Alam  yang mulai marah, cuaca yang kacau. Satwa tertentu menjadi langka bahkan  punah. Muncul kerawanan pangan. Kelaparan mulai bermunculan di kantong2  miskin. Bencana alam dimana-mana. Sedangkan secara ekonomi di Amerika  sedang dalam lampu merah. Eropa dalam pintu krisis besar. Kebenaran  sistem ekonomi modern dipertanyakan. Benarkah cara hidup kita yang  sekarang ini? Meningkatnya stress dalam kehidupan kita. Orang-orang  bingung kehilangan akar hidupnya krn terlelap oleh teknologi canggih. &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt; Bangsa-bangsa pengekor mengalami kebingungan. Konflik antar kampung,  antar etnis, antar negara, antar agama. Kehidupan manusia saat ini  sedang ditengah sebuah krisis yang besar.Peradaban kita seolah-oleh  telah membuat sebuah kemajuan besar dalam hal teknologi dan informasi,  tetapi planet yg kita huni ini semakin merana kondisi tanah, air dan  udaranya. Spesies manusia telah berkembang tanpa kontrol. Angka  kelahiran bukan lagi linier tetapi eksponensial. Sedangkan sumber daya  alam semakin terbatas. Akibatnya persaingan antar manusia semakin tajam.  Mereka yang berada di papan atas berusaha sekuat tenaga mempertahankan  posisi kemakmurannya dengan jalan mengeksploitasi alam, mengeksploitasi  pertambangan, hutan, hewan, tanaman, bahkan mengeksploitasi wanita dan  anak-anak.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Senyatanya manusia semakin menderita, tetapi  bila dilihat dalam skala yg lebih besar : bumi kita sedang  sekarat.Krisis ini memiliki banyak segi, berlapis-lapis (multilayered)  dan memberikan ancaman dari berbagai macam penjuru. Kita cenderung  melihat permasalahan yg muncul secara sepotong-sepotong tanpa dapat  melihat bahwa ada sesuatu yang sangat fundamental sudah salah. Tidakkah  anda merasakan bahwa jumlah permasalahan yg muncul meningkat melampaui  kemampuan kita mengatasinya -- dari krisis ekonomi, krisis pemerintahan,  krisis moral hingga krisis budaya sampai akhirnya krisis jiwa? Tidakkah  bisa melihat bahwa karena kita telah menghancurkan setiap ekosistem  dalam planet ini sehingga virus dan bakteri merajalela,  penyakit-penyakit baru bermunculan, kelahiran2 anak2 dengan kelainan.  Kita bahkan telah meracuni sendiri sumber air kita, dengan sampah  industri dan polutan2 kimiawi hasil limbah rumah tangga kita.  Sampah-sampah plastik dan logam berat mencemari tanah kita. Jakarta kota  gemerlap yg berdiri diatas sampah, tempat orang-orang kehilangan  kewarasannya. Sekalipun demikian, kita tidak merasa bahwa proses itu  sedang berlangsung. Kita belum menuai buahnya, atau baru sebagian kecil  saja. Sadarilah bahwa kita bagaikan seseorang yang sedang membakar  rumahnya sendiri tetapi tidak sadar akan kebakaran itu karena apinya  belum sampai ke ruangan dimana ia duduk.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Permasalahan ini  tidak dapat hanya diselesaikan dengan praxis ekonomi maupun politis.  Kita tidak dapat menghentikan kehancuran ini hanya dengan menata ulang  penggunaan sumber daya alam, sekalipun itu diperintahkan oleh sebuah  pemerintahan.&lt;b&gt; Kita sedang ditengah-tengah krisis evolusioner  dimana nasib spesies kita -manusia- sedang berada di ujung tanduk. Kita  telah gagal beradaptasi dengan alam.&lt;/b&gt; Sebaliknya kita memaksa  alam utk beradaptasi dengan kita seolah-olah kitalah satu-satunya  spesies yang hidup di muka bumi ini. Tanpa disadari, evolusi manusia  sampai sejauh ini adalah dengan cara menentang alam, bukan dengan yg  seharusnya : bersama alam. Kita telah memaksa alam utk menopang  keinginan-keinginan kita hidup secara artifisial dan segala hal  remeh-temeh yang hanya memuaskan gengsi dan kesombongan kita sebagai  spesies --yg konon-- terunggul.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Krisis evolusioner ini senyatanya bukanlah saja kegagalan utk beradaptasi dengan alam, tetapi lebih mendasar lagi adalah : &lt;b&gt;krisis dalam kesadaran (crisis in consciousness)&lt;/b&gt;  ! Sebuah daya dorong yg diciptakan oleh fatamorgana bahwa alam ini  diciptakan semata-mata utk di"makan" oleh spesies yang satu-satunya  paling mulia.Senyatanya, consciousness dimana kita telah kembangkan saat  ini telah gagal utk memenuhi kebutuhan spesies kita agar dapat langgeng  dalam jangka panjang. Tidak mencukupi utk memberi peran nyata dan  efektif utk menjaga planet kita ini. Tidak mencukupi utk meng-handle  kompleksitas teknologi beserta berbagai macam efek samping sosialnya.  Kita telah gagal memahami hukum alam yang saling bersinambungan dalam  tatatan organik. Kita telah mengikuti bukan path of compassion tetapi  path of consumption, yang artinya menghancurkan bumi kita ini dalam api  kerakusan, keinginan yang tak pernah terpuaskan utk selalu lebih dan  lebih. Spesies kita masih berkhayal utk mencapai perkembangan tak  terbatas dalam bumi sempit yg terbatas ini -- bumi yang seharusnya juga  menjadi milik bagi spesies2 hewan dan tumbuhan lainnya.Bila krisis  evolusioner ini dapat menumbuhkan kesadaran spiritual (spiritual  awakening), maka hal itu akan dapat membantu manusia maju ke tahap  evolusioner yg berikutnya. Mengharmoniskan kemajuan teknologi dengan  kehidupan alamiah yang diterangi oleh cahaya dan kebijaksanaan dari jiwa  yg murni. Tetapi tanpa kebangkitan kesadaran baru yg lebih tinggi ini  (higher awakening) maka bisa dipastikan bahwa akan timbul bencana yang  sangat mengerikan bagi spesies manusia di masa depan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kita  tidak dapat mengingkari lagi kebenaran universal seperti yg dibawakan  oleh padri2 Hindu, Buddhist, Kejawen, Kaharingan,Taoisme--agama-agama  bumi-- yg disebut Dharma. Dharma adalah suatu fondasi etikal terhadap &lt;b&gt;semua&lt;/b&gt;  kehidupan di atas muka bumi ini -- ketergantungan satu dengan yang  lainnya dalam jaring-jarin sinambung antara satu spesies mahluk dengan  mahluk yang lainnya-- dalam sebuah alam semesta yang memiliki kesadaran  (conscious universe). Dengan tidak berjalan sesuai Dharma maka kita  membuat langkah-langkah yang tidak harmonis dengan alam --fisik maupun  mental psikologis-- dengan alam yg hidup itu. Alam sendiri telah  memberikan ruang tempat dan ruang waktu yang sedemikian besar bagi  spesies manusia untuk belajar, utk berkembang dalam proses evolusinya  dalam skema proses evolusi kesadaran semesta yang menyeluruh -- manusia  hanya bagian kecilnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Manusia adalah bagian yang tak  terpisahkan dari bagian-bagian lainnya yg ada di permukaan bumi kita :  dunia mineral, dunia satwa dan fauna, geologi dan atmosfir kita. Tanpa  adanya keseimbangan dan keharmonisan di antara unsur-unsur tersebut maka  muncullah ketidakseimbangan yang mengarah kepada kehancuran. Bumi ini  adalah bagai sapi perahan, dimana kita perah susunya utk kita minum  dengan sangat serakah. Tapi tidakkah berpikir bahwa utk mendapatkan  supplai susu yang langgeng , kita harus merawat sapinya?Bumi dalam  bahasa ini adalah "Gau" yang mana memiliki arti juga sebagai Sapi.  Itulah mengapa orang Hindu mencoba mengajarkan agar orang menghormati  dan memperlakukan sapi dengan baik : karena ia adalah sumber dari semua  kebutuha diary-product manusia : susu, mentega, keju. Ternyata  pengajaran sederhana yg terkesan tahayul tersebut memiliki makna yg  lebih luas, yaitu utk merawat segala sesuatu yang meberikan kita  kehidupan. Dan bumi dipercaya oleh orang Yunani sebagai sesuatu yang  memiliki kehidupan sendiri. Daya hidup itu disebut Gaia. Gau, Gaia,  sebuah kemiripan yang tidak boleh kita abaikan begitu saja.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bila  manusia masih dalam kesadaran bhw hanya spesiesnyalah yg paling patut  hidup dimuka bumi ini tanpa menghargai hak hidup dan kenyamanan spesies  mahluk lain dan alam fisik, maka kehancuran di depan mata. Utk  kelanggengan masa depan manusia, kita dituntut utk meningkatkan taraf  kesadaran (higher awareness), khususnya kesadaran spiritual bahwa  manusia bukanlah bagian yg terpisah dari alam. Bahwa alam memiliki  kehidupannya sendiri dan manusia hanyalah sebagian dari bagian itu.  Sekarang marilah kita pertanyakan ulang : sudah sejauh manakah manusia   belajar hidup menjadi bagian yang menyatu dengan segala sesuatunya yang   ada di atas permukaan bumi kita ini?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;diambil dari tulisan : Daniel Suchamda &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1741614431014675042-2154551827537374679?l=peradah-semarang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1741614431014675042/posts/default/2154551827537374679'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1741614431014675042/posts/default/2154551827537374679'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://peradah-semarang.blogspot.com/2011/07/krisis-evolusioner.html' title='Krisis Evolusioner'/><author><name>Peradah Indonesia Kota Semarang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03051917880292458968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_QfiMQ_o3mBM/SVcyOJLGmKI/AAAAAAAAAA8/ofE6lUHNEp4/S220/logo_peradah.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1741614431014675042.post-2391590260593468479</id><published>2011-07-16T05:39:00.000+07:00</published><updated>2011-07-16T05:39:58.794+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Banten sebagai pengganti mantra</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-BbHiP1uLyeM/TiDBVzQwpLI/AAAAAAAAAJI/PUoiFf8rrsM/s1600/ban.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-BbHiP1uLyeM/TiDBVzQwpLI/AAAAAAAAAJI/PUoiFf8rrsM/s1600/ban.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Banten pada awalnya ketika diajarkan pembuatannya di Desa Puakan  (Kecamatan Tegallalang, Gianyar, Bali) oleh Maha Rsi Markandeya kepada  penduduk setempat di abad ke-8, bernama “Bali” atau “Wali”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama kelamaan tradisi yang diajarkan itu berkembang ke seluruh pulau,  sehingga orang-orang yang bersembahyang menggunakan banten, dinamakan  “Orang Bali” dan pulau kecil inipun bernama Pulau Bali.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;Banten diajarkan kepada penduduk yang buta huruf, karena mereka tidak bisa mengucapkan mantra-mantra dalam persembahyangan.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi fungsi banten yang utama adalah sebagai “pengganti” ucapan mantra  yang kemudian berkembang ke fungsi yang mengikuti, yaitu sebagai simbol  kemahakuasaan Tuhan, wujud bhakti, prasadam, dan sarana pensucian roh.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa jenis banten yang hingga kini digunakan di Bali sebagai pengganti ucapan mantra, misalnya:&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sesayut Saraswati, pengganti mantra Rg Veda 61.4:&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OM PRA NO SARASVATI, VAJEBHIR VAJINIVATI, DHINAM AVINYAVANTU&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan, Sarasvati yang agung dan berkuasa, semoga memberikan pengetahuan dan memelihara kecerdasan kami.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Sesayut Prayascita, pengganti mantra Rg Veda 1.3.10:&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OM PRAVAKANAH SARASVATI, VAJEBHIR VAJINIVATI, YAJNAM VASTU DHIYAVASUH&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan, Sarasvati yang agung dan berkuasa, anugrahilah hamba kesucian dan kecerdasan; terimalah persembahan hamba.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Sesayut Pageh Tuwuh, pengganti mantra Rg Veda VII.66.16:&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OM TACCAKSURA DEVAHITAM SUKRAM UCCARAT, PASYEMA SARADAH SATAM, JIVEMA SARADAH SATAM&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan yang maha kuasa, semoga selama seratus tahun hamba selalu melihat mata-Mu yang bersinar.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Daksina, pengganti Gayatri Mantra:&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OM BHUR BHUVAH SVAH, TAT SAVITUR VARENYAM, BHARGO DEVASYA DIMAHI, DHIYO YO NAH PRACODAYAT&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Beakala Dhurmenggala: pengganti mantra Rg Veda V.82.5:&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OM VISVANI DEVA SAVITAR, DURITANI PARA SUVA, YAD BHADRAM TANNA A SUVA&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan, Yang Maha Esa, Savitri, usirlah jauh-jauh segala kekuatan jahat; berikan hamba yang terbaik.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Sesayut pemapag rare: pengganti mantra Rg Veda IV.53.6:&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OM BRHATSUMNAH PRASAVITA NIVESANO, JAGATAH STHATURUBHAYASYA YO VASI, SA  NO DEVAH SAVITA SARMA YACCHATVASME, KSAYAYA TRIVARUTHAM AMHASAH&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan Yang Maha Pengasih, yang memberi kehidupan dan memelihara, yang  mengatur segala yang bergerak maupun tak bergerak, sebagai Savitar,  berilah anugrah kepada bayi ini agar terhindar dari kekuatan jahat.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Peras Sadampati: pengganti Rg Veda X.85.42.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OM IHA IVA STAM MA VI YAUSTAM, VISVAM AYUR VYASNUTAM, KRIDANTAU PUTRAIR NAPTRBHIH, MODAMANAU SVE GRHE&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan Yang Maha Pengasih, anugrahilah pengantin ini kebahagiaan, tidak  terpisah sepanjang masa, panjang umur dan dianugrahi pula putra-putri  serta cucu-cicit yang utama, serta tinggal di rumah yang penuh  kegembiraan.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Sesayut/ Canang pengrawos: pengganti mantra Rg Veda I.89.1:&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OM A NO BHADRAH KRATTAVO YANTU VISVATAH&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan, semoga pikiran yang baik datang dari segala penjuru.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Sesayut Pageh Urip: pengganti mantra Rg Veda VII.59.12:&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OM TRAYAMBHAKAM YAJAMAHE, SUGANDHIM PUSTI VARADHANAM, URVARUKAM IVA BANDHANAT, MRTYOR MUKSIYA MAMRATAT&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan, kami memuja-Mu sebagai Rudra, yang menyebarkan keharuman dan  membawa kesejahteraan, hindarilah hamba dari kematian tetapi bukan dari  kekekalan.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Sesayut Ngulap-Ngambe: pengganti mantra Rg Veda X.186.1:&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OM VATA A VATU BHESAJAM, SAMBHU MAYOBHU NO HRDE, PRA NA AYUMSI TARISAT&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan Yang Maha Agung, kami memuja-Mu sebagai Hyang Vayu, hembuskanlah  kesehatan dan kesejahteraan serta umur panjang kepada hamba.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh-contoh banten di atas adalah jenis banten yang sehari-hari atau sering dibuat oleh masyarakat Hindu di Bali.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak lagi yang lain yang perlu diteliti, sehingga tercapai tema  pokok, yaitu bila tidak pandai membuat banten, maka Bhakti dapat  diwujudkan dalam ucapan mantra-mantra yang benar dan tepat, walaupun  sarananya hanya dengan Panca Upakara yang sederhana, yaitu terdiri dari  unsur-unsur: air, api, daun, bunga, buah/ biji/ harum-haruman,  sebagaimana dimaksud dalam Bhagavadgita IX.26 dan Manava Dharmasastra  III.76.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Om A no bhadrah krattavo yantu sisvatah.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;http://bali.stitidharma.org/banten-sebagai-pengganti-mantra/&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;ilustrasi : http://dagang-banten.blogspot.com/2011/05/banten.html&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1741614431014675042-2391590260593468479?l=peradah-semarang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1741614431014675042/posts/default/2391590260593468479'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1741614431014675042/posts/default/2391590260593468479'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://peradah-semarang.blogspot.com/2011/07/banten-sebagai-pengganti-mantra.html' title='Banten sebagai pengganti mantra'/><author><name>Peradah Indonesia Kota Semarang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03051917880292458968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_QfiMQ_o3mBM/SVcyOJLGmKI/AAAAAAAAAA8/ofE6lUHNEp4/S220/logo_peradah.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-BbHiP1uLyeM/TiDBVzQwpLI/AAAAAAAAAJI/PUoiFf8rrsM/s72-c/ban.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1741614431014675042.post-5741885490462622712</id><published>2011-07-11T07:01:00.001+07:00</published><updated>2011-07-11T07:03:14.086+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><title type='text'>Makna dan Tata Cara persembahyangan Umat Hindu</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Verdana,sans-serif; margin-top: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-H3x5pbkpyZE/Tho9o_BXBAI/AAAAAAAAAJE/ZVAlr8Fuhuk/s1600/hindu2.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="213" src="http://4.bp.blogspot.com/-H3x5pbkpyZE/Tho9o_BXBAI/AAAAAAAAAJE/ZVAlr8Fuhuk/s320/hindu2.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;Definisi Sembahyang&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Verdana,sans-serif; margin-top: 4pt; text-align: justify; text-indent: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Salah satu hakekat inti ajaran agama adalah sembahyang. Menurut kitab Atharwa Weda XI. 1.1, unsur iman atau Sraddha dalam Agama Hindu meliputi: (1) &lt;i&gt;Satya&lt;/i&gt;, (2) &lt;i&gt;Rta&lt;/i&gt;, (3) &lt;i&gt;Tapa&lt;/i&gt;, (4) &lt;i&gt;Diksa&lt;/i&gt;, (5) &lt;i&gt;Brahma&lt;/i&gt; dan (6) &lt;i&gt;Yajna&lt;/i&gt;. Dari keenam unsur iman di dalam Agama Hindu menurut kitab Atharwa Weda itu, dua ajaran terakhir termasuk ajaran sembahyang (Bajrayasa, Arisufhana &amp;amp; Goda 1981:12).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Verdana,sans-serif; margin-top: 4pt; text-align: justify; text-indent: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sembahyang terdiri atas dua kata, yaitu: (1) Sembah yang berarti sujud atau sungkem yang dilakukan dengan cara-cara tertentu dengan tujuan untuk menyampaikan penghormatan, perasaan hati atau pikiran baik dengan ucapan kata-kata maupun tanpa ucapan, misalnya hanya sikap pikiran. (2) Hyang berarti yang dihormati atau dimuliakan sebagai obyek dalam pemujaan, yaitu Tuhan Yang Maha Esa (Bajrayasa, Arisufhana &amp;amp; Goda 1981:13).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Verdana,sans-serif; margin-top: 4pt; text-align: justify; text-indent: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="height: 40px; left: 165px; margin-left: -8px; margin-top: 204px; position: absolute; top: 435px; width: 36px; z-index: 1;"&gt;&lt;/span&gt;Di dalam bahasa sehari-hari kata sembahyang kadang-kadang disebut “muspa” atau “mebhakti” atau “maturan”. Disebut “muspa” karena dalam persembahyangan itu lazim juga dilakukan dengan persembahan kembang (puspa). Disebut “mebhakti” karena inti dari persembahan itu adalah penyerahan diri setulus hati tanpa pamrih kepada Hyang Widhi. Demikian pula kata “maturan” yang artinya mempersembahkan apa saja yang merupakan hasil karya sesuai dengan kemampuan dengn perasaan yang tulus ikhlas, seperti bunga, buah-buahan, jajanan, minuman dan lain-lain (Bajrayasa, Arisufhana &amp;amp; Goda 1981:13). Mangku Linggih, pemangku di Pura Parahyangan Jagat Kartta Gunung Salak Bogor, menambahkan makna maturan sebagai wujud syukur atas rejeki yang diberikan Hyang Widhi, sehingga kita wajib mempersembahkan/menghaturkan pemberian beliau terlebih dahulu. Setelah sembahyang baru kita “ngelungsur (prasadam)” apa yang telah kita haturkan, seperti canang, buah-buahan, dan sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Verdana,sans-serif; margin-top: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;Manfaat Bersembahyang&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Verdana,sans-serif; margin-top: 4pt; text-align: justify; text-indent: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Menurut Ketut Wiana (2005:49) salah satu manfaat sembahyang adalah untuk memelihara kesehatan. Selain pikiran menjadi jernih, sikap-sikap sembahyang seperti &lt;i&gt;asana&lt;/i&gt; (&lt;i&gt;padmasana, siddhasana, sukhasana, &lt;/i&gt;dan&lt;i&gt; bajrasana&lt;/i&gt;) membuat otot dan pernafasan menjadi bagus.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Verdana,sans-serif; margin-top: 4pt; text-align: justify; text-indent: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Selain untuk kesehatan, bersembahyang dan berdoa juga mendidik kita untuk memiliki sifat ikhlas karena apa yang ada di dalam diri dan di luar diri kita tidak ada yang kekal, cepat lambat akan kita tinggalkan atau berpisah dengan diri kita. Keikhlasan inilah yang dapat meringankan rasa penderitaan yang kita alami karena kita telah paham benar akan kehendak Hyang Widhi. Bersembahyang juga dapat menentramkan jiwa karena adanya keyakinan bahwa Tuhan selalu akan melindungi umatNya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Verdana,sans-serif; margin-top: 4pt; text-align: justify; text-indent: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Perbudakan materi juga dapat diatasi dengan bersembahyang karena orang akan dapat melihat dengan terang bahwa harta benda harus dicari dengan Dharma untuk melaksanakan Dharma. Sembahyang dengan tekun akan dapat menghilangkan rasa benci, marah, dendam, iri hati dan mementingkan diri sendiri, sehingga meningkatkan cinta kasih kepada sesama. Membenci orang lain sama saja dengan membenci diri sendiri karena &lt;i&gt;Jiwatman&lt;/i&gt; yang ada pada semua makhluk adalah satu, bersumber dari Tuhan, seperti yang diajarkan dalam ajaran &lt;i&gt;Tat Twam Asi&lt;/i&gt;. Kemudian dengan sembahyang kita dimotivasi untuk melestarikan alam karena bersembahyang membutuhkan sarana yang berasal dari alam, seperti bunga, daun, buah, sumber mata air, dan sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Verdana,sans-serif; margin-top: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;Persiapan Sembahyang&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Verdana,sans-serif; margin-top: 4pt; text-align: justify; text-indent: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Persiapan sembahyang meliputi persiapan lahir dan persiapan batin. Persiapan lahir seperti pakaian, bunga, dupa, sikap duduk, pengaturan nafas dan sikap tangan. Sedangkan persiapan bathin adalah ketenangan dan kesucian pikiran. Langkah-langkah persiapan dan sarana-sarana sembahyang (Sujana &amp;amp; Susila, 2002:27-28) adalah sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Verdana,sans-serif; margin-left: 12pt; text-align: justify; text-indent: -12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;1.    &lt;span dir="ltr"&gt;&lt;i&gt; Asuci laksana&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;, yaitu membersihkan badan dengan mandi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Verdana,sans-serif; margin-left: 12pt; text-align: justify; text-indent: -12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;2.   &lt;span dir="ltr"&gt;Pakaian, hendaknya memakai pakaian sembahyang yang bersih serta tidak mengganggu ketenangan pikiran dan sesuai dengan &lt;i&gt;Desa Kala Patra&lt;/i&gt; (waktu, tempat dan keadaan).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Verdana,sans-serif; margin-left: 12pt; text-align: justify; text-indent: -12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;3.   &lt;span dir="ltr"&gt;Bunga dan Kawangen, yaitu lambang kesucian sehingga diusahakan memakai bungan yang segar, bersih dan harum. Jika dalam persembahyangan tidak ada kawangen, maka dapat diganti dengan bunga. Menurut Mangku Gede Darsa, pemangku Pura Parahyangan Jagat Kartta Gunung Salak Bogor, kawangen berasal dari kata kewangi (keharuman) yang menunjukkan cinta harum kita kepada Hyang Widhi. Beliau juga menambahkan bahwa kawangen juga menyimbolkan alam bhuana agung, seperti bulan, matahari dan bintang. Bentuknya yang segitiga menunjukkan apa yang kita mohon menuju pada diri kita.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Verdana,sans-serif; margin-left: 12pt; text-align: justify; text-indent: -12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;4.   &lt;span dir="ltr"&gt;Dupa, yaitu simbol Hyang Agni, saksi dan pengantar sembah kita kepada Hyang Widhi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Verdana,sans-serif; margin-left: 12pt; text-align: justify; text-indent: -12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;5. &lt;span dir="ltr"&gt;Tempat duduk hendaknya tidak menggangu ketenangan untuk sembahyang dan diusahakan beralaskan tikar dan sebagainya. Arah duduk adalah menghadap pelinggih.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Verdana,sans-serif; margin-left: 12pt; text-align: justify; text-indent: -12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;6.  &lt;span dir="ltr"&gt;Sikap duduk dapat dipilih sesuai Desa Kala Patra dan tidak mengganggu ketenangan hati. Ada empat yaitu &lt;i&gt;padmasana, siddhasana, sukhasana, &lt;/i&gt;dan&lt;i&gt; bajrasana.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Verdana,sans-serif; margin-left: 12pt; text-align: justify; text-indent: -12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;7.   &lt;span dir="ltr"&gt;Sikap tangan yang baik pada waktu sembahyang adalah “cakupang kara kalih”, yaitu kedua telapak tangan dikatupkan diletakkan di depan ubun-ubun. Bunga atau kawangen dijepit pada ujung jari.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Verdana,sans-serif; margin: 4pt 0cm 0.0001pt 12pt; text-align: justify; text-indent: -12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;Urutan Sembahyang&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Verdana,sans-serif; margin-top: 4pt; text-align: justify; text-indent: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Menurut Mangku Linggih, sebelum kita masuk ke areal Pura hendaknya “melukat” terlebih dahulu dengan memercikkan tirtha kepada diri kita, sebagai simbol menyucikan diri dan mohon ijin secara niskala. Mangku Gede Darsa menambahkan bahwa umat hendaknya masuk ke Pura melalui pintu sebelah kiri dan keluar menuju pintu sebelah kanan karena harus sesuai dengan arah perputaran waktu yang selalu maju.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Verdana,sans-serif; margin-top: 4pt; text-align: justify; text-indent: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="height: 41px; left: 282px; margin-left: 237px; margin-top: 204px; position: absolute; top: 1325px; width: 36px; z-index: 2;"&gt;&lt;/span&gt;Sebelum melaksanakan &lt;i&gt;Panca Kramaning Sembah&lt;/i&gt; hendaknya melaksanakan Puja Trisandya. Mangku Darsana memberi saran, “Dalam melakukan Puja Trisandya baik sendirian maupun berkelompok hendaknya kita berkonsentrasi dengan baik, mengikuti desah nafas kita dengan halus dan pelan. Sepanjang mampu kita bernafas lantunkanlah sloka-sloka tersebut dengan lemah lembut. Kalau kita melantunkan sloka dengan pikiran, maka mantram tersebut seperti terkejar-kejar atau belomba-lomba dan tidak berakhir dengan bersamaan”.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Verdana,sans-serif; margin-top: 4pt; text-align: justify; text-indent: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Setelah melakukan Puja Trisandya, kita lanjutkan dengan melaksanakan Panca Kramaning Sembah yang bermakna (Bajrayasa, Arisufhana &amp;amp; Goda 1981:29) sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Verdana,sans-serif; margin-left: 12pt; text-align: justify; text-indent: -12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;1.    &lt;span dir="ltr"&gt;Sembah pertama dengan tangan kosong (puyung) yang intinya bertujuan untuk memohon kesucian dan memusatkan pikiran.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Verdana,sans-serif; margin-left: 12pt; text-align: justify; text-indent: -12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;2.  &lt;span dir="ltr"&gt;Sembah kedua, ketiga dan keempat dengan memakai bungan dan kawangen dengan tujuan penyampaian rasa hormat kepada Tuhan, penyampaian hormat kepada sifat wujudNya dalam segala manifestasiNya dan kepada para Dewa, serta penyampaian permohonan maaf dan permohonan anugrah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Verdana,sans-serif; margin-left: 12pt; text-align: justify; text-indent: -12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;3.   &lt;span dir="ltr"&gt;Sembah kelima, yaitu sembah tangan kosong yang merupakan sembah penutup sebagai rasa terima kasih atas rahmatNya dan mengantarkan kembali ke alam gaib.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Verdana,sans-serif; margin-top: 4pt; text-align: justify; text-indent: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Setelah melaksanakan persembahyangan, umat dipercikkan tirtha wangsuh Ida Bhatara. Tirta ini dipercikkan 3-7 kali di kepala, 3 kali diminum dan 3 kali mencuci muka (meraup). Hal ini dimaksudkan agar pikiran dan hati umat menjadi bersih dan suci. Kebersihan dan kesucian hati adalah pangkal ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan lahir dan bathin itu sendiri (Sujana &amp;amp; Susila, 2002:31)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Verdana,sans-serif; margin-top: 4pt; text-align: justify; text-indent: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="height: 41px; left: 190px; margin-left: -8px; margin-top: 206px; position: absolute; top: 2010px; width: 36px; z-index: 3;"&gt;&lt;/span&gt;Kemudian mawija atau mabija dilakukan setelah selesai metirtha yang merupakan rangkaian terakhir dari suatu persembahyangan. Wija atau bija adalah biji beras yang dicuci dengan air atau air cendana. Bila dapat diusahakan beras galih, yaitu beras yang utuh tidak patah (aksata). Wija atau bija adalah lambang Kumara, yaitu putra atau wija Bhatara Siwa. Jadi, mewija mengadung makna menumbuh kembangkan benih ke-Siwa-an itu di dalam diri umat (Sujana &amp;amp; Susila, 2002:31-32).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Verdana,sans-serif; margin-top: 4pt; text-align: justify; text-indent: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Mangku Gede Darsa memberi saran dalam melaksanakan Panca Kramaning Sembah yang dipimpin oleh Pinandita, hendaknya umat tidak ikut me-&lt;i&gt;mantram&lt;/i&gt;. Hal ini dianalogikan bahwa Pinandita itu seperti supir bus, sedangkan umat adalah penumpang. Sopir akan mengantarkan penumpangnya sampai tempat tujuan atau terminal. Jika penumpang juga ikut menyetir akan timbul kegaduhan. Sehingga, persembahyangan tidak menjadi tenang dan menggangu umat lain yang ingin mengadu masalah hidup kepada Hyang Widhi dan memohon sinar suci-Nya dan tuntunan-Nya menghadapi masalah. Namun, ikut me-&lt;i&gt;mantram&lt;/i&gt; tidak dilarang karena menurut Mangku Gede Darsa bahwa mungkin umat itu tidak sedang dalam masalah atau ingin belajar menghapalkan mantram tersebut, asal tidak mengganggu konsentrasi umat lain yang sedang sembahyang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Verdana,sans-serif; margin-top: 4pt; text-align: justify; text-indent: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sesungguhnya begitu banyak makna yang terkandung dalam persembahyangan, tidak hanya sekedar “nyakupang tangan” dan “ngelungsur”. Semoga ulasan sederhana mengenai makna dan tata cara persembahyangan umat Hindu dapat bermanfaat bagi umat seDharma.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Verdana,sans-serif; margin-top: 4pt; text-align: justify; text-indent: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Verdana,sans-serif; margin-top: 4pt; text-align: justify; text-indent: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;(sumber : &lt;/span&gt;Makna dan tata cara persembahyangan umat Hindu &lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Oleh: Pande Putu Suryadinata&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;)&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Verdana,sans-serif; margin-top: 4pt; text-align: justify; text-indent: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;ilustrasi gambar : http://foto.detik.com/readfoto&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1741614431014675042-5741885490462622712?l=peradah-semarang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1741614431014675042/posts/default/5741885490462622712'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1741614431014675042/posts/default/5741885490462622712'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://peradah-semarang.blogspot.com/2011/07/makna-dan-tata-cara-persembahyangan.html' title='Makna dan Tata Cara persembahyangan Umat Hindu'/><author><name>Peradah Indonesia Kota Semarang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03051917880292458968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_QfiMQ_o3mBM/SVcyOJLGmKI/AAAAAAAAAA8/ofE6lUHNEp4/S220/logo_peradah.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-H3x5pbkpyZE/Tho9o_BXBAI/AAAAAAAAAJE/ZVAlr8Fuhuk/s72-c/hindu2.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1741614431014675042.post-5120931358537487623</id><published>2011-07-06T05:11:00.001+07:00</published><updated>2011-07-06T05:13:56.240+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><title type='text'>HARI RAYA GALUNGAN LAN KUNINGAN</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-ZLSr6J4gxCc/ThOLyuXqHrI/AAAAAAAAAJA/ZNMaqEDCV44/s1600/gal.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="241" src="http://2.bp.blogspot.com/-ZLSr6J4gxCc/ThOLyuXqHrI/AAAAAAAAAJA/ZNMaqEDCV44/s320/gal.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kata "Galungan" berasal dari bahasa Jawa Kuna yang artinya menang atau  bertarung. Galungan juga sama artinya dengan dungulan, yang juga berarti  menang. Karena itu di Jawa, wuku yang kesebelas disebut Wuku Galungan,  sedangkan di Bali wuku yang kesebelas itu disebut Wuku Dungulan. Namanya  berbeda, tapi artinya sama saja. Seperti halnya di Jawa dalam rincian  pancawara ada sebutan Legi sementara di Bali disebut Umanis, yang  artinya sama: manis.&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Agak sulit untuk memastikan bagaimana  asal-usul Hari Raya Galungan ini. Kapan sebenarnya Galungan dirayakan  pertamakali di Indonesia, terutama di Jawa dan di daerah lain khususnya  di Bali. Drs. I Gusti Agung Gede Putra (mantan Dirjen Bimas Hindu dan  Buddha Departemen Agama RI) memperkirakan, Galungan telah lama dirayakan  umat Hindu di Indonesia sebelum hari raya itu populer dirayakan di  Pulau Bali. Dugaan ini didasarkan pada lontar berbahasa Jawa Kuna yang  bernama Kidung Panji Amalat Rasmi. Tetapi, kapan tepatnya Galungan itu  dirayakan di luar Bali dan apakah namanya juga sama Galungan, masih  belum terjawab dengan pasti.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun di Bali, ada sumber yang memberikan titik terang. Menurut  lontar Purana Bali Dwipa, Galungan pertama kali dirayakan pada hari  Purnama Kapat, Budha Kliwon Dungulan, tahun Saka 804 atau tahun 882  Masehi. Dalam lontar itu disebutkan: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Punang aci Galungan ika ngawit, Bu, Ka, Dungulan sasih kacatur, tanggal 15, isaka 804. Bangun indria Buwana ikang Bali rajya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:  Perayaan (upacara) Hari Raya Galungan itu pertama-tama adalah pada hari  Rabu Kliwon, (Wuku) Dungulan sasih kapat tanggal 15, tahun 804 Saka.  Keadaan Pulau Bali bagaikan Indra Loka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu Galungan terus  dirayakan oleh umat Hindu di Bali secara meriah. Setelah Galungan ini  dirayakan kurang lebih selama tiga abad, tiba-tiba — entah apa dasar  pertimbangannya — pada tahun 1103 Saka perayaan hari raya itu  dihentikan. Itu terjadi keti-ka Raja Sri Ekajaya memegang tampuk  pemerintahan. Galungan juga belum dirayakan ketika tampuk pemerintahan  dipegang Raja Sri Dhanadi. Selama Galungan tidak dirayakan, konon  musibah datang tak henti-henti. Umur para pejabat kerajaan konon menjadi  relatif pendek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Sri Dhanadi mangkat dan digantikan Raja  Sri Jayakasunu pada tahun 1126 Saka, barulah Galungan dirayakan kembali,  setelah sempat terlupakan kurang lebih selama 23 tahun. Keterangan ini  bisa dilihat pada lontar Sri Jayakasunu. Dalam lontar tersebut  diceritakan bahwa Raja Sri Jayakasunu merasa heran mengapa raja dan  pejabat-pejabat raja sebelumnya selalu berumur pendek. Untuk mengetahui  penyebabnya, Raja Sri Jayakasunu mengadakan tapa brata dan samadhi di  Bali yang terkenal dengan istilah Dewa Sraya — artinya mendekatkan diri  pada Dewa. Dewa Sraya itu dilakukan di Pura Dalem Puri, tak jauh dari  Pura Besakih. Karena kesungguhannya melakukan tapa brata, Raja Sri  Jayakasunu mendapatkan pawisik atau "bisikan religius" dari Dewi Durgha,  sakti dari Dewa Siwa. Dalam pawisik itu Dewi Durgha menjelaskan kepada  raja bahwa leluhurnya selalu berumur pendek karena tidak lagi merayakan  Galungan. Karena itu Dewi Durgha meminta kepada Raja Sri Jayakasunu  supaya kembali merayakan Galungan setiap Rabu Kliwon Dungulan sesuai  dengan tradisi yang pernah berlaku. Di samping itu disarankan pula  supaya seluruh umat Hindu memasang penjor pada hari Penampahan Galungan  (sehari sebelum Galungan). Disebutkan pula, inti pokok perayaan hari  Penampahan Galungan adalah melaksanakan byakala yaitu upacara yang  bertujuan untuk melepaskan kekuatan negatif (Buta Kala) dari diri  manusia dan lingkungannya. Semenjak Raja Sri Jayakasunu mendapatkan  bisikan religius itu, Galungan dirayakan lagi dengan hikmat dan meriah  oleh umat Hindu di Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna Filosofis Galungan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Galungan  adalah suatu upacara sakral yang memberikan kekuatan spiritual agar  mampu membedakan mana dorongan hidup yang berasal dari adharma dan mana  dari budhi atma yaitu berupa suara kebenaran (dharma) dalam diri  manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu juga memberi kemampuan untuk membeda-bedakan  kecendrungan keraksasaan (asura sampad) dan kecendrungan kedewaan (dewa  sampad). Harus disadari bahwa hidup yang berbahagia atau ananda adalah  hidup yang memiliki kemampuan untuk menguasai kecenderungan keraksasaan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Galungan adalah juga salah satu upacara agama Hindu untuk  mengingatkan manusia secara ritual dan spiritual agar selalu memenangkan  Dewi Sampad untuk menegakkan dharma melawan adharma. Dalam lontar  Sunarigama, Galungan dan rincian upacaranya dijelaskan dengan mendetail.  Mengenai makna Galungan dalam lontar Sunarigama dijelaskan sebagai  berikut: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budha Kliwon Dungulan Ngaran Galungan patitis ikang janyana samadhi, galang apadang maryakena sarwa byapaning idep &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:  Rabu Kliwon Dungulan namanya Galungan, arahkan ber-satunya rohani  supaya mendapatkan pandangan yang terang untuk melenyapkan segala  kekacauan pikiran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, inti Galungan adalah menyatukan  kekuatan rohani agar mendapat pikiran dan pendirian yang terang.  Bersatunya rohani dan pikiran yang terang inilah wujud dharma dalam  diri. Sedangkan segala kekacauan pikiran itu (byaparaning idep) adalah  wujud adharma. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari konsepsi lontar Sunarigama inilah didapatkan  kesimpulan bahwa hakikat Galungan adalah merayakan me-nangnya dharma  melawan adharma. Untuk memenangkan dharma itu ada serangkaian kegiatan  yang dilakukan sebelum dan setelah Galungan. Sebelum Galungan ada  disebut Sugihan Jawa dan Sugihan Bali. Kata Jawa di sini sama dengan  Jaba, artinya luar. Sugihan Jawa bermakna menyucikan bhuana agung (bumi  ini) di luar dari manusia. Sugihan Jawa dirayakan pada hari Wrhaspati  Wage Wuku Sungsang, enam hari sebelum Galungan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam lontar  Sundarigama disebutkan bahwa pada hari Sugihan Jawa itu merupakan  Pasucian dewa kalinggania pamrastista batara kabeh (Penyucian Dewa,  karena itu hari penyucian semua bhatara). Pelaksanaan upacara ini adalah  dengan membersihkan segala tempat dan peralatan upacara di  masing-masing tempat suci. Sedangkan pada hari Jumat Kliwon Wuku  Sungsang disebutkan: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalinggania amretista raga tawulan (Oleh  karenanya menyucikan badan jasmani masing-masing). Karena itu Sugihan  Bali disebutkan menyucikan diri sendiri. Kata bali dalam bahasa  Sansekerta berarti kekuatan yang ada di dalam diri. Dan itulah yang  disucikan. Pada Redite Paing Wuku Dungulan diceritakan Sang Kala Tiga  Wisesa turun mengganggu manusia. Karena itulah pada hari tersebut  dianjurkan anyekung jñana, artinya: mendiamkan pikiran agar jangan  dimasuki oleh Butha Galungan. Dalam lontar itu juga disebutkan  nirmalakena (orang yang pikirannya selalu suci) tidak akan dimasuki oleh  Butha Galungan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari Senin Pon Dungulan disebut Penyajaan  Galungan. Pada hari ini orang yang paham tentang yoga dan samadhi  melakukan pemujaan. Dalam lontar disebutkan, "Pangastawaning sang  ngamong yoga samadhi." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari Anggara Wage wuku Dungulan  disebutkan Penampahan Galungan. Pada hari inilah dianggap sebagai hari  untuk mengalahkan Butha Galungan dengan upacara pokok yaitu membuat  banten byakala yang disebut pamyakala lara melaradan. Umat kebanyakan  pada hari ini menyembelih babi sebagai binatang korban. Namun makna  sesungguhnya adalah pada hari ini hendaknya membunuh sifat-sifat  kebinatangan yang ada pada diri. Demikian urutan upacara yang mendahului  Galungan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah hari raya Galungan yaitu hari Kamis Umanis  wuku Dungulan disebut Manis Galungan. Pada hari ini umat mengenang  betapa indahnya kemenangan dharma. Umat pada umumnya melam-piaskan  kegembiraan dengan mengunjungi tempat-tempat hiburan terutama panorama  yang indah. Juga mengunjungi sanak saudara sambil bergembira-ria. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari  berikutnya adalah hari Sabtu Pon Dungulan yang disebut hari Pemaridan  Guru. Pada hari ini, dilambangkan dewata kembali ke sorga dan  meninggalkan anugrah berupa kadirghayusaan yaitu hidup sehat panjang  umur. Pada hari ini umat dianjurkan menghaturkan canang meraka dan  matirta gocara. Upacara tersebut barmakna, umat menikmati waranugraha  Dewata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari Jumat Wage Kuningan disebut hari Penampahan  Kuningan. Dalam lontar Sundarigama tidak disebutkan upacara yang mesti  dilangsungkan. Hanya dianjurkan melakukan kegiatan rohani yang dalam  lontar disebutkan Sapuhakena malaning jnyana (lenyapkanlah kekotoran  pikiran). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, Sabtu Kliwon disebut Kuningan. Dalam  lontar Sundarigama disebutkan, upacara menghaturkan sesaji pada hari  ini hendaknya dilaksana-kan pada pagi hari dan hindari menghaturkan  upacara lewat tengah hari. Mengapa? Karena pada tengah hari para Dewata  dan Dewa Pitara "diceritakan" kembali ke Swarga (Dewa mur mwah maring  Swarga). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah makna Galungan dan Kuningan ditinjau dari  sudut pelaksanaan upacaranya. Macam-macam Galungan Meskipun Galungan itu  disebut "Rerahinan Gumi" artinya semua umat wajib melaksanakan, ada  pula perbedaan dalam hal perayaannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan sumber-sumber  kepustakaan lontar dan tradisi yang telah berjalan dari abad ke abad  telah dikenal adanya tiga jenis Galungan yaitu: Galungan (tanpa ada  embel-embel), Galungan Nadi dan Galungan Nara Mangsa. Penjelasannya  adalah sebagai berikut: Galungan Adalah hari raya yang wajib dilakukan  oleh umat Hindu untuk merayakan kemenangan dharma melawan adharma. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan  keterangan lontar Sundarigama disebutkan "Buda Kliwon Dungulan ngaran  Galungan." Artinya, Galungan itu dirayakan setiap Rabu Kliwon wuku  Dungulan. Jadi Galungan itu dirayakan, setiap 210 hari karena yang  dipakai dasar menghitung Galungan adalah Panca Wara, Sapta Wara dan  Wuku. Kalau Panca Waranya Kliwon, Sapta Waranya Rabu, dan wukunya  Dungulan, saat bertemunya ketiga hal itu disebut Hari Raya Galungan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Galungan  Nadi Galungan yang pertama dirayakan oleh umat Hindu di Bali  berdasarkan lontar Purana Bali Dwipa adalah Galungan Nadi yaitu Galungan  yang jatuh pada sasih Kapat (Kartika) tanggal 15 (purnama) tahun 804  Saka (882 Masehi) atau pada bulan Oktober. Disebutkan dalam lontar itu,  bahwa pulau Bali saat dirayakan Galungan pertama itu bagaikan Indra  Loka. Ini menandakan betapa meriahnya perayaan Galungan pada waktu itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaannya  dengan Galungan biasa adalah dari segi besarnya upacara dan  kemeriahannya. Memang merupakan suatu tradisi di kalangan umat Hindu  bahwa kalau upacara agama yang digelar bertepatan dengan bulan purnama  maka mereka akan melakukan upacara lebih semarak. Misalnya upacara  ngotonin atau upacara hari kelahiran berdasarkan wuku, kalau bertepatan  dengan purnama mereka melakukan dengan upacara yang lebih utama dan  lebih meriah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping karena ada keyakinan bahwa hari Purnama  itu adalah hari yang diberkahi oleh Sanghyang Ketu yaitu Dewa  kecemerlangan. Ketu artinya terang (lawan katanya adalah Rau yang  artinya gelap). Karena itu Galungan, yang bertepatan dengan bulan  purnama disebut Galungan Nadi. Galungan Nadi ini datangnya amat jarang  yaitu kurang lebih setiap 10 tahun sekali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Galungan Nara Mangsa &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Galungan  Nara Mangsa jatuh bertepatan dengan tilem sasih Kapitu atau sasih  Kesanga. Dalam lontar Sundarigama disebutkan sebagai berikut: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yan Galungan nuju sasih Kapitu, Tilem Galungan, mwang sasih kesanga, rah 9, tenggek 9, Galungan Nara Mangsa ngaran." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:  Bila Wuku Dungulan bertepatan dengan sasih Kapitu, Tilem Galungannya  dan bila bertepatan dengan sasih Kesanga rah 9, tenggek 9, Galungan Nara  Mangsa namanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam lontar Sanghyang Aji Swamandala ada menyebutkan hal yang hampir sama sebagai berikut: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nihan  Bhatara ring Dalem pamalan dina ring wong Bali, poma haywa lali  elingakna. Yan tekaning sasih Kapitu, anemu wuku Dungulan mwang tilem  ring Galungan ika, tan wenang ngegalung wong Baline, Kala Rau ngaranya  yan mengkana. Tan kawasa mabanten tumpeng. Mwah yan anemu sasih Kesanga,  rah 9 tenggek 9, tunggal kalawan sasih Kapitu, sigug ya mengaba gering  ngaran. Wenang mecaru wong Baline pabanten caru ika, nasi cacahan maoran  keladi, yan tan anuhut ring Bhatara ring Dalem yanya manurung, moga ta  sira kapereg denira Balagadabah". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Inilah petunjuk  Bhatara di Pura Dalem (tentang) kotornya hari (hari buruk) bagi manusia,  semoga tidak lupa, ingatlah. Bila tiba sasih Kapitu bertepatan dengan  wuku Dungulan dan Tilem, pada hari Galungan itu, tidak boleh merayakan  Galungan, Kala Rau namanya, bila demikian tidak dibenarkan menghaturkan  sesajen yang berisi tumpeng. Dan bila bertepatan dengan sasih Kasanga  rah 9, tenggek 9 sama artinya dengan sasih kapitu. Tidak baik itu,  membawa penyakit adanya. Seyogyanya orang mengadakan upacara caru yaitu  sesajen caru, itu nasi cacahan dicampur ubi keladi. Bila tidak mengikuti  petunjuk Bhatara di Pura Dalam (maksudnya bila melanggar) kalian akan  diserbu oleh Balagadabah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah dua sumber pustaka lontar  yang berbahasa Jawa Kuna menjelaskan tentang Galungan Nara Mangsa. Dalam  lontar Sundarigama disebutkan bahwa pada hari Galungan Nara Mangsa  disebutkan "Dewa Mauneb bhuta turun" yang artinya, Dewa tertutup (tapi)  Bhutakala yang hadir. Ini berarti Galungan Nara Mangsa itu adalah  Galungan raksasa, pemakan daging manusia. Oleh karena itu pada hari  Galungan Nara Mangsa tidak dilang-sungkan upacara Galungan sebagaimana  mestinya terutama tidak menghaturkan sesajen "tumpeng Galungan". Pada  Galungan Nara Mangsa justru umat dianjurkan menghaturkan caru, berupa  nasi cacahan bercampur keladi. Demikian pengertian Galungan Nara Mangsa.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Palaksanaan upacara Galungan di Bali biasanya diilustrasikan  dengan cerita Mayadanawa yang diuraikan panjang lebar dalam lontar Usana  Bali sebagai lambang, pertarungan antara aharma melawan adharma. Dharma  dilambangkan sebagai Dewa Indra sedangkan adharma dilambangkan oleh  Mayadanawa. Mayadanawa diceritakan sebagai raja yang tidak percaya pada  adanya Tuhan dan tidak percaya pada keutamaan upacara agama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Galungan di India &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari raya Hindu untuk mengingatkan umat atas pertarungan antara adharma  melawan dharma dilaksanakan juga oleh umat Hindu di India. Bahkan  kemungkinan besar, parayaan hari raya Galungan di Indonesia mendapat  inspirasi atau direkonstruksi dari perayaan upacara Wijaya Dasami di  India. Ini bisa dilihat dari kata "Wijaya" (bahasa Sansekerta) yang  bersinonim dengan kata "Galungan" dalam bahasa Jawa Kuna. Kedua kata itu  artinya "menang". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Raya Wijaya Dasami di India disebut pula  "Hari Raya Dasara". Inti perayaan Wijaya Dasami juga dilakukan sepuluh  hari seperti Galungan dan Kuningan. Sebelum puncak perayaan, selama  sembilan malam umat Hindu di sana melakukan upacara yang disebut Nawa  Ratri (artinya sembilan malam). Upacara Nawa Ratri itu dilakukan dengan  upacara persembahyangan yang sangat khusuk dipimpin oleh pendeta di  rumah-rumah penduduk. Nawa Ratri lebih menekankankan nilai-nilai  spiritual sebagai dasar perjuangan melawan adharma. Pada hari kesepuluh  berulah dirayakan Wijaya Dasami atau Dasara. Wijaya Dasami lebih  menekankan pada rasa kebersamaan, kemeriahan dan kesemarakan untuk  masyarakat luas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perayaan Wijaya Dasami dirayakan dua kali  setahun dengan perhitungan tahun Surya. Perayaan dilakukan pada bulan  Kartika (Oktober) dan bulan Waisaka (April). Perayaan Dasara pada bulan  Waisaka atau April disebut pula Durgha Nawa Ratri. Durgha Nawa Ratri ini  merupakan perayaan untuk kemenangan dharma melawan adharma dengan  ilustrasi cerita kemenangan Dewi Parwati (Dewi Durgha) mengalahkan  raksasa Durgha yang bersembunyi di dalam tubuh Mahasura yaitu lembu  raksasa yang amat sakti. Karena Dewi Parwati menang, maka diberi julukan  Dewi Durgha. Dewi Durgha di India dilukiskan seorang dewi yang amat  cantik menunggang singa. Selain itu diyakini sebagai dewi kasih sayang  dan amat sakti. Pengertian sakti di India adalah kuat, memiliki  kemampuan yang tinggi. Kasih sayang sesungguhnya kasaktian yang paling  tinggi nilainya. Berbeda dengan di Bali. Kata sakti sering diartikan  sebagai kekuatan yang berkonotasi angker, seram, sangat menakutkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parayaan  Durgha Nawa Ratri adalah perjuangan umat untuk meraih kasih sayang  Tuhan. Karunia berupa kasih sayang Tuhan adalah karunia yang paling  tinggi nilainya. Untuk melawan adharma pertama-tama capailah karunia  Tuhan berupa kasih sayang Tuhan. Kasih sayang Tuhanlah merupakan senjata  yang paling ampuh melawan adharma. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan upacara Wijaya  Dasami pada bulan Kartika (Oktober) disebut Rama Nawa Ratri. Pada Rama  Nawa Ratri pemujaan ditujukan pada Sri Rama sebagai Awatara Wisnu.  Selama sembilan malam umat mengadakan kegiatan keagamaan yang lebih  menekankan pada bobot spiritual untuk mendapatkan kemenangan rohani dan  menguasai, keganasan hawa nafsu. Pada hari kesepuluh atau hari Dasara,  umat merayakan Wijaya Dasami atau kemenangan hari kesepuluh. Pada hari  ini, kota menjadi ramai. Di mana-mana, orang menjual panah sebagai  lambang kenenangan. Umumnya umat membuat ogoh-ogoh berbentuk Rahwana,  Kumbakarna atau Surphanaka. Ogoh-ogoh besar dan tinggi itu diarak  keliling beramai-ramai. Di lapangan umum sudah disiapkan pementasan di  mana sudah ada orang yang terpilih untuk memperagakan tokoh Rama, Sita,  Laksmana dan Anoman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puncak dari atraksi perjuangan dharma itu  yakni Sri Rama melepaskan anak panah di atas panggung yang telah  dipersiapkan sebelumnya. Panah itu diatur sedemikian rupa sehingga  begitu ogoh-ogoh Rahwana kena panah Sri Rama, ogoh-ogoh itu langsung  terbakar dan masyarakat penontonpun bersorak-sorai gembira-ria. Orang  yang memperagakan diri sebagai Sri Rama, Dewi Sita, Laksmana dan Anoman  mendapat penghormatan luar biasa dari masyarakat Hindu yang menghadiri  atraksi keagamaan itu. Anak-anak ramai-ramai dibelikan panah-panahan  untuk kebanggaan mereka mengalahkan adharma. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita simak  makna hari raya Wijaya Dasami yang digelar dua kali setahun yaitu pada  bulan April (Waisaka) dan pada bulan Oktober (Kartika) adalah dua  perayaan yang bermakna untuk mendapatkan kasih sayang Tuhan. Kasih  sayang itulah suatu "sakti" atau kekuatan manusia yang maha dahsyat  untuk mengalahkan adharma. Sedangkan pada bulan Oktober atau Kartika  pemujaan ditujukan pada Sri Rama. Sri Rama adalah Awatara Wisnu sebagai  dewa Pengayoman atau pelindung dharma. Jadi dapat disimpulkan bahwa  tujuan filosofi dari hari raya Wijaya Dasami adalah mendapatkan kasih  sayang dan perlindungan Tuhan. Kasih sayang dan perlindungan itulah  merupakan kekuatan yang harus dicapai oleh menusia untuk memenangkan  dharma. Kemenangan dharma adalah terjaminnya kehidupan yang bahagia  lahir batin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemenangan lahir batin atau dharma menundukkan  adharma adalah suatu kebutuhan hidup sehari-hari. Kalau kebutuhan rohani  seperti itu dapat kita wujudkan setiap saat maka hidup yang seperti  itulah hidup yang didambakan oleh setiap orang. Agar orang tidak sampai  lupa maka setiap Budha Kliwon Dungulan, umat diingatkan melalui hari  raya Galungan yang berdemensi ritual dan spiritual. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sumber: Buku "Yadnya dan Bhakti" oleh Ketut Wiana, terbitan Pustaka Manikgeni)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1741614431014675042-5120931358537487623?l=peradah-semarang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1741614431014675042/posts/default/5120931358537487623'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1741614431014675042/posts/default/5120931358537487623'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://peradah-semarang.blogspot.com/2011/07/hari-raya-galungan-lan-kuningan.html' title='HARI RAYA GALUNGAN LAN KUNINGAN'/><author><name>Peradah Indonesia Kota Semarang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03051917880292458968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_QfiMQ_o3mBM/SVcyOJLGmKI/AAAAAAAAAA8/ofE6lUHNEp4/S220/logo_peradah.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-ZLSr6J4gxCc/ThOLyuXqHrI/AAAAAAAAAJA/ZNMaqEDCV44/s72-c/gal.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1741614431014675042.post-3183211237989796594</id><published>2011-06-26T16:52:00.001+07:00</published><updated>2011-06-26T16:54:29.446+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><title type='text'>Makna Filosofis Hari Suci Tilem</title><content type='html'>&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix" style="text-align: justify;"&gt;Rerahinan Tilem  dirayakan ketika bulan mati, maksudnya gelap ( tidak ada sinar bulan di  langit ). Kegelapan pada hari Tilem ini, justru bernuansa religius.  Ditinjau dari pengetahuan Astronomi Bahwa pada bulan tilem itu posisi  bulan berada diantara Matahari dengan Bumi sehingga suasana menjadi  gelap gulita dimalam hari.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-QoaRhKQN30o/TgcBXJkK9sI/AAAAAAAAAI8/Ch8ul1Y0P8E/s1600/bulan-sabit1.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-QoaRhKQN30o/TgcBXJkK9sI/AAAAAAAAAI8/Ch8ul1Y0P8E/s1600/bulan-sabit1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;Hari suci tilem sebenarnya sudah  dirayakan oleh nenek moyang kita sebelum pengaruh Hindu datang ke  Indonesia, dari sumber-sumber yang dapat dipercaya Bahwa hari suci tilem  erat kaitannya dengan keberadaan Dinasty Chandra. Dynasty Chandra  menganggap Bahwa leluhurnya dahulu adalah berasal dari keturunan suci,  yang diturunkan ke bumi sebagai Dewa Chandra atau Dewa Bulan. Sakti atau  istri dari Dewa Chandra adalah Dewi Soma, Dewa Chandra dan Dewi Soma  inilah yang kemudian menurunkan Wangsa Chandra. Dalam kurun waktu yang  berabad-abad keturunan Wangsa dari Dinasty Chandra muncul kepercayaan  bahwa Bulan Tilem adalah sebagai hari suci Wangsa tersebut. Kepercayaan  ini kemudian dipercaya oleh Umat Hindu di Nusantara ini sebagai hari  sucinya.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Pada waktu hari suci tilem umat Hindu berusaha  mendekatkan diri kehadapan Brahman / Ida Sang Hyang Widhi Wasa , dengan  melakukan persembahyangan berupa canang sari. Maksud dan tujuannya  adalah dalam memuja Brahman atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan  bunga-bunga yang menyimbolkan “ Wasana “, secara harfiah kita berserah  diri di hadapanNYA yang merupakan sari dari keberadaan kita yang alami.  Ketika kita mengambil bunga untuk persembahyangan kelima jari-jari  tangan menjuntai ke bawah, hal ini menunjukkan Bahwa manusia masih  terikat oleh keduniawian, dan masih terikat oleh benda-benda material,  serta masih dipengaruhi oleh rasa emosional yang tinggi. Selanjutnya  bunga-bunga tersebut juga dibawa keatas oleh jari-jari tangan yang  tercakup, hal ini menyimbolkan Bahwa seseorang mempersembahkan karma  wasananya ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dengan kata lain  kecenderungan yang mengarah pada hal-hal yang berbau duniawi kini  diarahkan menuju Brahman atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa.&lt;br /&gt;Bulan  tilem juga sering diistilahkan dengan hati atau pikiran manusia yang  sedang menyusut , dengan perumpamaan yang berbasis pada kekuatan kala  atau waktu. Jika pikiran seseorang sedang keruh , dirasuki oleh  sifat-sifat angkara murka , maka diistilahkan dengan bulan yang  dewatanya sedang menyusut menuju pada kegelapan ( Tilem ). Hal ini  hampir dialami oleh setiap orang, sehingga pada bulan tilem banyak orang  yang masih bingung dan meraba-raba dalam kegelapan karena manusia ada  dalam pengaruh maya / kepalsuan. Pengaruh maya / kegelapan disimboliskan  dengan bulan mati / tilem yang selalu bertarung dalam pikiran manusia ,  jika Atma Tatwa yang menang atau lebih dominan maka seseorang akan  menjadi bijaksana , welas asih dan berbudi pekerti yang luhur, jika Maya  Tatwa yang menang atau lebih dominan maka egonya muncul, ingin selalu  lebih unggul, mudah sekali dihinggapi oleh sifat-sifat buruk. Hari suci  tilem dirayakan dengan tujuan untuk menumpas kegelapan tersebut berupa  hawa nafsu jahat yang disebut dengan sad ripu yaitu : kama ( hawa nafsu  ), kroda ( kemarahan ), lobha ( ketamakan ), moha ( keterikatan ), mada (  kesombongan ) dan matsarya ( iri hati / kebencian ).&lt;br /&gt;Sungguh  merupakan suatu keberuntungan bahwasanya umat Hindu banyak mempunyai  hari-hari suci dan tempat-tempat suci. Hal ini menandakan bahwa potensi  untuk menuju kearah perbaikan karakter dan budi pekerti selalu ada,  karena tempat-tempat suci lebih banyak mengandung energi fibrasi  kebaikan , aura kedamaian dan ketenangan. Jika hati dan pikiran sedang  diliputi oleh angkara murka maka seseorang dianjurkan untuk mengunjungi  tempat-tempat suci tersebut. Tilem dirayakan oleh umat Hindu di  Nusantara ini , namun ditiap-tiap daerah terdapat perbedaan dalam  melakukan ritual upacaranya, namun perbedaan itu hanyalah kulit luarnya  saja, karena inti ajarannya atau makna yang terkandung didalamnya tetap  sama. Kenapa perbedaan itu harus ada , kenapa ritual umat Hindu tidak  sama antara daerah yang satu dengan yang lain ?. Masalahnya umat Hindu  sangat menghormati konsep Desa, Kala, Patra ( tempat, waktu, dan budaya/  adat istiadat setempat ). Namun hal ini sebenarnya tidak perlu  dirisaukan dan dipermasalahkan.Para Rsi kita &amp;nbsp;senantiasa menganjurkan  agar jangan melihat perbedaan itu dari sisi luarnya , karena masing  masing pribadi mempunyai pandangan yang berbeda beda. Ketika seseorang  mau menerima perbedaan berarti orang tersebut mau membuka diri terhadap  sesuatu yang ada diluar dirinya . Untuk itu pikiran harus mendapatkan  pencerahan dari budi atau kemampuan untuk membedakan , dan tidak dari  indra indra yang merupakan kekuatan yang membingungkan. Bila keinginan  indrawi menodai pikiran maka mereka tidak akan pernah mendapatkan  kebahagiaan dan kegembiraan., hanya melalui “ Prema “ Tuhan yang imanen  yang sudah menjadi sifatnya sendiri dapat dikenal , kerinduan untuk  mencapai kesempurnaan yang sudah menjadi sifatnya dalam kebenaran .  Untuk itu singkapkanlah awan gelap ketidak tahuan dan egoisme yang  menutupi permukaan , dan Tuhan akan senantiasa dekat, Tuhan akan  senantiasa akan sayang dan senantiasa siap dengan nasehat spiritualnya  yang akan menuju kesempurnaan.&lt;br /&gt;Melaksanakan ritual upacara bagi  umat Hindu adalah identik dengan kesukacitaan , kegembiraan dan nuansa  religius serta keindahan. Pada saat upacara yadnya berlangsung rasa  permusuhan dan dendam terhadap sesama saudara lenyap , yang terlihat  padasaat itu adalah rasa kebersamaan , kerukunan dan kedamaian . Bau  wangi pedupaan, harumnya bunga bungaan, , dentingan bajra sang Pendeta,  syahdunya lagu lagu / kidung kidung pemujaan membuat suasana hati  tentram dan damai.&lt;br /&gt;Bulan yang tadinya bersinar terang tiba tiba  berubah menjadi gelap gulita itu disebut dengan gerhana bulan. Tanda  -tanda alam seperti ini sering dihubung-hubungkan akan terjadinya  peristiwa yang luar biasa dibumi ini , misalnya selang beberapa hari  atau beberapa minggu didaerah tertentu akan terjadi bencana alam , wabah  penyakit , keributan antar masa dan sebagainya . Untuk mengantisipasi  hal tersebut orang-orang bijaksasna yang mengetahui seluk beluk kejadian  alam tanda-tanda alam, sepakat untuk melakukan yoga semadi , untuk  mendoakan agar bumi ini terhindar dari bencana. Gerhana yang  diidentikkan dengan seorang yang yang tadinya riang gembira tiba-tiba  berubah menjadi murung dan sedih , karena ada salah satu anggota  keluarganya yang tertimpa musibah . Orang yang demikian itu dikatakan  hatinya diliputi oleh gerhana. Tradisi khusus di Bali jika terjadi  gerhana bulan , maka orang sibuk membunyikan kentongan yang tujuannya  adalah untuk mengusir Sang Kala Rahu yang menelan bulan .Mitos ini  tertuang dalam Purana yang kemudian menjadi dongeng yang sangat populer .  Kisah ini terjadi ketika para raksasa dan para dewa bekerja sama  mengaduk lautan susu untuk mencari “ Tirta Amerta “ atau Tirta Kamendalu  . Konon siapa saja yang meminum tirta amerta tersebut maka dia akan  abadi ( tidak bisa mati ) . Maka setelah tirta itu didapatkan kemudian  dibagi rata , dan yang bertugas untuk membagi amerta tersebut adalah  Dewa Wisnu yang menyamar menjadi gadis cantik , lemah gemulai. Dalam  kesepakatan diatur Bahwa para Dewa duduk dibarisan depan sedangkan  pararaksasa duduk dibarisan belakang. Kemudian Raksasa yang bernama Sang  Kala Rahu yang menyusup dibarisan para Dewa dengan cara merubah  wujudnya menjadi Dewa. Namun penyamaran itu diketahui oleh Dewa Candra  atau Dewa Bulan . Ketika tiba giliran Sang Kala Rahu mendapatkan “  Tirtha Keabadian “ disitulah Dewa Candra berteriak . Dia itu bukan Dewa,  dia adalah raksasa Kala Rahu . Namun sayang tirtha itu sudah terlanjur  diminum. Tak ayal cakra Dewa Wisnu menebas leher Sang Kala Rahu . Karena  lehernya sudah tersentuh oleh tirtha keabadian sehingga Sang Kala Rahu  tidak tersentuh oleh kematian. Wajahnya tetap hidup melayang- layang di  angkasa . Sedangkan tubuhnya mati karena belum sempat tersentuh oleh  Tirtha Kamendalu / Tirtha Amerta. Sejak saat itu itulah dendamnya Sang  Kala Rahu terhadap Dewa Bulan tak pernah putus. Dia selalu mengincar dan  menelan Dewa Bulan, tetai karena tubuhnya tidak ada maka rembulan  muncul kembali ke permukaan , begitulah setiap Sang Kala Rahu menelan  Dewa Bulan terjadilah Gerhana. Makna yang terkandung dalam mitos ini  adalah Bahwa jika seseorang belum bisa melepaskan sifat- sifat  keraksasaannya , maka dia itu belum boleh mendapatkan keabadian. Sang  Kala Rahu yang tidak sabar menunggu giliran akhirnya harus kehilangan  tubuhnya , sedangkan Dewa Candra yang menjadi sasaran kemarahan Sang  Kala Rahu . Jika terjadi gerhana , maka dunia akan mengalami bencana  atau musibah . Untuk menanggulangi hal ini hendaknya seseorang selalu  eling dan waspada . Setelah terjadinya Gerhana orang – orang wikan  membuat sesajen tertentu untuk mencegah sebelum bencana itu terjadi .  Gerhana lebih banyak disoroti oleh para ilmuwan modern sebagai peristiwa  alam biasa dan tidak perlu dibesar – besarkan . Namun bagi kalangan  supra natural gerhana bulan tetap harus diwaspadai . Dengan kata lain  hendaknya masyarakat berhati – hati karena peristiwa buruk sangat rawan  terjadi.&lt;br /&gt;Meskipun kepercayaan akan adanya peristiwa yang tidak  diharapkan tetapi tetap harus diwaspadai . Tilem memberi kesempatan yang  seluas – luasnya kepada umat Hindu untuk melakukan ritual pemujaan .  Hendaknya hari suci tilem dimanfaatkan untuk memupuk nilai – nilai  keimanan dalam diri setiap orang . Musnahkanlah sifat – sifat raksasa  dalam diri , orang yang berilmu pengetahuan herndaknya seperti bulan  yang memberi kesejukan dan penerangan bagi semuanya . Tilem , hari yang  identik dengan kesucian , keharmonisan, dan kegembiraan. Tekadkan niat  untuk selalu berada di jalan yang lurus, percaya Bahwa Ida Sang Hyang  Widhi Wasa akan senantiasa membimbing umatNYA, menuju kealam yang  sunyata atau alam yang sesungguhnya . Alam yang tidak ada konplik , alam  kebebasan , alam kebahagiaan yang abadi. Lakukanlah pemujaan yang  setulus – tulusnya , perlihatkanlah Bahwa semakin hari semakin menyusut  ego bhaktanya , jadi bukan kebijaksanaannya yang menyusut , melainkan  keangkuhannya , kesombongannya dan keserakahannya .&lt;br /&gt;Dia yang  dipuja turut memuja, mem,berkati dengan rahmatNYA , dengan senyum  manisNYA , dengan kasih sayangNYA . Dia yang tulus , meluluskan  permohonaNYA dengan karunia kebijaksanaan. Dia yang berbakti ,  terberkati dengan karunia yang berlimpah . Dia yang menghibur, terhibur  oleh alunan musik surgawi dan kedamaian. Dia yang mendoakan kidung  perdamaian , memperoleh anugrah shanti dihatinya dan kasih sayang yang  tulus. Seperti ada salah satu sloka dalam Mahabharata :&lt;br /&gt;Sarwa bhawantu sukhinah&lt;br /&gt;Sarwa santu niramayah&lt;br /&gt;Sarwa Bhadrani pasyantu&lt;br /&gt;Ma kascid dukha bag bhavet&lt;br /&gt;Semoga semua bahagia&lt;br /&gt;Semoga semua sehat dan jujur&lt;br /&gt;Semoga semua menjumpai kebahagiaan&lt;br /&gt;Semoga tidak ada yang sengsara.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1741614431014675042-3183211237989796594?l=peradah-semarang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1741614431014675042/posts/default/3183211237989796594'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1741614431014675042/posts/default/3183211237989796594'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://peradah-semarang.blogspot.com/2011/06/makna-filosofis-hari-suci-tilem.html' title='Makna Filosofis Hari Suci Tilem'/><author><name>Peradah Indonesia Kota Semarang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03051917880292458968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_QfiMQ_o3mBM/SVcyOJLGmKI/AAAAAAAAAA8/ofE6lUHNEp4/S220/logo_peradah.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-QoaRhKQN30o/TgcBXJkK9sI/AAAAAAAAAI8/Ch8ul1Y0P8E/s72-c/bulan-sabit1.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1741614431014675042.post-40848729937804743</id><published>2011-06-21T05:43:00.001+07:00</published><updated>2011-07-06T05:17:48.236+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Drona</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; font-family: Verdana,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-JR5FtjmtGIY/Tf_MIFkxLoI/AAAAAAAAAI4/uTqlK8HR4FM/s1600/durna1.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://3.bp.blogspot.com/-JR5FtjmtGIY/Tf_MIFkxLoI/AAAAAAAAAI4/uTqlK8HR4FM/s400/durna1.jpg" width="300" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;Bhagawan Wraspati&lt;/b&gt; mempunyai putra bernama Baradwaja yang pernah memerintah di &lt;b&gt;Negeri Antasangin&lt;/b&gt;.  Tatkala memasuki masa wanaprastha ia melaksanakan tapa sebagai Brahmana  Pandita di tengah hutan, berita ini terdengar oleh sahabatnya, &lt;b&gt;Raja Pancala&lt;/b&gt;.  Ia begitu terharu, karena ia tahu, sahabatnya masih mempunyai putra  yang masih bocah bernama Kanwa dan Kumbayana. Akhirnya, ia putuskan  untuk menitipkan putra mahkotanya, Sucitra, yang juga masih usia  kanak-kanak padanya. Untuk diberikan pendidikan ilmu kawisesan. &lt;b&gt;Sucitra&lt;/b&gt;, sangat senang berguru pada Rsi Baradwaja. Di mata Sucitra, &lt;b&gt;Baradwaja&lt;/b&gt;  adalah sosok ayah yang penuh perhatian. Begitu pula Kanwa dan Kumbayana  sahabat kecilnya, selalu mengalah dan memanjakannya. Terlebih-lebih  Kumbayana, ia merasakan adanya rasa melebihi sosok saudara.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sucitra  mewarisi ilmu kepemimpinan dari Baradwaja. Sedangkan Kumbayana yang  rajin berlatih kanuragan mewarisi ilmu memanah dari orangtuanya. Sekian  tahun, mereka bersama. Akhirnya, tiba saatnya mereka berpisah. Raja  Pancala menjemput putranya.&lt;br /&gt;Kedua  remaja itu berpelukan. Tak tahan, airmata mereka menetes, meliuk  membuat sungai kecil di pipi. Mengharukan sekali. Sucitra kemudian  membuat usulan. &lt;b&gt;Kumbayana&lt;/b&gt; membisu. Ia tak bisa menolak ajakan Sucitra.&lt;br /&gt;“Baiklah,  ku takbisa memaksa, kelak ketika dewasa datanglah ke istanaku, kita  kendalikan bersama kerajaan Pancala. Aku janji, demi Dewata, ku takakan  menyia-nyiakan kamu….&lt;b&gt;datanglah ke istanaku&lt;/b&gt;.”&lt;br /&gt;“Baiklah, Sucitra. Aku percaya padamu. Aku janji, suatu hari nanti kuakan mencarimu.”&lt;br /&gt;Hidup  semakin redup sejak Sucitra pergi. Keceriaan Kumbayana berubah, ia tak  lagi senang bermain kesana-kemari. Ia lebih senang diam di pertapaan,  membaca sastra menemani Rsi Baradwaja.&lt;br /&gt;Seiring  waktu bertambah sekian jilid buku dilahapnya. Vedanta yang paling  sulitpun dipelajarinya. Akhirnya, di masa dewasa ia tumbuh menjadi  pemuda cerdas. Selain sakti mandraguna, ia sangat tahan uji, dan  menjungjung tinggi &lt;b&gt;nilai-nilai satyawacana&lt;/b&gt; (setia pada janji). Ia  sangat membenci pada moral orang yang senang ingkar pada janji. Karena,  ingkar pada janji akan menyebabkan kepribadian orang terpuruk pada  lembah yang paling nista. Keyakinan itu, membawa Kumbayana pada  keinginan yang menggebu-gebu utnuk menemui sahabatnya Sucitra.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Rsi Baradwaja&lt;/b&gt;,  yang mengetahui keinginan putranya, rela hati melepaskannya. Apalagi  secara nyata, Kumbayana mampu menunjukkan kemampuan menguasai ilmu  filsafat Vedanta dan strategi perang yang tertinggi. “Pergilah, Nanda.  Temui sahabatmu Sucitra, kurestui perjalananmu. Kini namamu Drona, yang  berarti engkau telah lulus dalam upaya mencapai kepribadian tertinggi.”&lt;br /&gt;Pagi  cerah, mentari melumuri pepohonan dengan sinarnya yang sejuk.  Perjalanan yang cukup jauh, sampai akhirnya ia harus tertambat pada laut  yang luas. Ia berdiri dibatu karang. &lt;b&gt;Ombak menghantam garang&lt;/b&gt;.  Drona kecewa. Supaya mencapai Pancala. Ia sedapat mungkin, harus mampu  berenang melintasi luasnya samudra. Ia menggeleng, pasrah. Pupus harapan  bertemu sahabat lama. Dalam hati ia merutuki nasibnya. Berhari-hari ia  tak makan, merenung melaksanakan darana, dyana, semadhi. Mulutnya  kering, hanya air laut yang dikirim buih lidah ombak melumuri celah  bibirnya. Ia bertekad, kalau tak mampu mencari solusi, biar saja, ia  terkubur bersama keinginannya yang menggebu. Akhirnya di puncak  ketiadaberdayaan, ia pun bersumpah.&lt;br /&gt;“kalau  saja ada yang mampu menyebrangkan diriku, andaikan lelaki akan  kujadikan saudara tertua dan menghormatinya seumur hidup. Jika wanita  kuperistri….” Sumpahnya.&lt;br /&gt;Sumpah Drona didengar Hyang Guru di &lt;b&gt;Swarga Loka&lt;/b&gt;.  Beliau, lantas mengutus seorang bidadari bernama Dewi Wilutama. Turun  ke dunia untuk menggoda Drona. Dewi Wilutama menyamar menjadi seekor  kuda betina.&lt;br /&gt;Saat  Drona sedang berusaha menekan keinginan bertemu dengan Sucitra, seekor  kuda betina menghampirinya. Uniknya, kuda itu tidak seliar kuda lainnya.  Ia datang, lalu mengendus dan menjilati punggung Drona. Saat mata sang  kuda bertemu mata Drona. Terjadilah keajaiban, dalam pikiran Drona  terangkai kata-kata yang indah. Dan ia terpesona. “Siapakah yang  merangkai kata-kata ini ?”&lt;br /&gt;“Aku ? “&lt;br /&gt;Drona celingukan mencari-cari orang yang berkata dalam pikirannya.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;“Tataplah mata kuda dihadapanmu&lt;/b&gt;. Dan, mohonlah sesuatu.”&lt;br /&gt;“Tak  mungkin, aku mengulang suatu permintaan. Pernah kunyatakan, siapaun  yang mampu menyebrangkan aku je Negeri Pancala maka kalau ia lelaki akan  kuangkat saudara, kalau perempuan kujadikan istri.”&lt;br /&gt;“Ya, aku mampu menyebrangkan dirimu menuju Pancala. Naiklah ke punggungku.”&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Drona yang putus asa&lt;/b&gt;,  akhirnya menunggang punggung kuda betina. Dan, ajaib, kuda itu melesat  tanpa rasa takut menyebrangi laut yang luas. Lawaknya, ia mengendarai  kuda di darat. Sehari, semalam. Kuda berenang. Sampai akhirnya mereka  menemukan daratan. Awalnya, mata Drona menangkap puncak-puncak karang  bermunculan pertanda daratan tak jauh lagi. Saat kaki mereka menginjak  pasir. Drona nampak murung, ia teringat kata-katanya. Terbayang  sumpahnya. Ia harus menepati semua janji-janjinya. Itulah, &lt;b&gt;naursot (penebus janji) &lt;/b&gt;yang  harus dilaksanakan. Ia harus mengawini kuda betina itu, untuk menebus  janji-janjinya. Karena, kuda itulah yang mampu menyebrangkan dirinya. Di  tengah hati yang membuncah, galau. Drona hanya bisa diam merenung.  Sementara, ia tak melanjutkan perjalanan. Ia hanya duduk menghabiskan  hari di pantai itu, menjawab pertanyaan yang memenuhi ruang logikanya.  “Akankan aku harus mempersunting kuda ? &lt;b&gt;Gila, adakah moral dimataku !&lt;/b&gt;  Aku bernama Drona, Vedanta tertinggi telah kuraih !! Alhasil. Semua  pertanyaan sulit mampu kujawab. Siapapun ahli Vedanta di pelosok negeri  akan menyerah padaku….&lt;br /&gt;Kenyataannya  kuharus mempersunting kuda. Mengawini layaknya anak manusia. Ah! Lalu  aku harus bagaimana ? Andaikata seorang yang diinisiasi menguasai Weda &lt;b&gt;tidak satyawacana&lt;/b&gt;. Tidak menepati janjinya ? Kematian yang pantas dipersembahkan padanya ? Atau ia harus dipermalukan seumur hidupnya.&lt;br /&gt;Pertanyaan-pertanyaan  Drona mengalir bagaikan air bah menghantam sendi-sendi kepasrahannya.  Ia harus segera memutuskan, mana yang harus dipilih. Menghindar ? atau  menebus janjinya (&lt;b&gt;naursot&lt;/b&gt;). Akhirnya, ia memilih mengawini kuda betina itu. Langit pun terasa aneh, menyaksikan pernikahan unik yang tak lazim.&lt;br /&gt;Berbulan-bulan  mereka menghabiskan hari di pantai Pancala. Kuda betina itu hamil.  Semakin hari, semakin nampak buntingnya. Drona semakin setress. Saat ia  berjalan, tanpa sengaja seorang nelayan memergokinya. Rupanya, dari  dulu, ia sudah diamati. Hanya tak berani menegur. Karena dianggapnya  Drona manusia gila. Bagaimana tidak ? Seorang manusia bermesraan dengan  seekor kuda. Manakala Drona sendirian, baru nelayan itu berani menyapa.  Diajaknya Drona ke pondoknya, diberinya makan serta pakaian layak. Drona  tersentuh dan tiada sengaja ia curahkan seluruh isi hatinya. Mengenai  perjalanannya menuju Pancala, sampai akhirnya harus menikahi seekor kuda  betina. Nelayan itu, manggut-manggut. Ia tak mampu meringankan beban  penderitaan Drona. Ia hanya bisa prihatin.&lt;br /&gt;Dari  sinilah, cerita ini berawal. Penderitaan Drona, sampai ke telinga Patih  Gandamana, lalu ke telinga Sucitra, yang kini bernama &lt;b&gt;Drupada&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;“Beristri kuda ?”&lt;br /&gt;“Ya, Tuan……”&lt;br /&gt;“Dimana moral manusia seperti itu ? Perbuatan salahtimpal hukumannya berat. &lt;b&gt;Perbuatan asusila&lt;/b&gt;  yang mencemari desa. Harus diadakan ruwat dengan upacara kurban kalau  masyarakat nelayan itu mau selamat, “ kata Drupada, penuh kemuakan.&lt;br /&gt;Suatu  hari, Drona sangat panik. Tiba-tiba saja, kuda betina itu rebah.  Mengerang, menahan sakit. Rupanya hendak melahirkan. Tiada lama,  terdengarlah suara menyayat hati. Tangisan seorang bayi. Drona memungut  lalu memangku orok yang terdampar di tumpukan ilalang. Dirangkulnya  Drona, bayi itu menangis sejadi-jadinya. Drona hanya bisa bingung.  Setelah diperhatikan ternyata si jabang bay sangat mirip dengannya.  Lantas, mulut bayi didekatkan pada tetek kuda yang sedang rebah. Bayi  itu pun menyusu.&lt;br /&gt;Semakin  hari bertambah, bayi itu semakin montok dan sehat. Kemana-mana Drona  pergi, kuda itu menyertai. Pada suatu hari, ia hendak menghadap ke  istana Sucitra. Kendati dilarang, kuda itu justru membangkang mau ikut  jua. Akhirnya, Drona putus asa. Ia mengambil anak panahnya. Dan,  membentangkan pada busurnya. Rencananya, sih menakut-nakuti, namun setan  apa yang menyebabkan tangannya lalai, anak panah melesat. Prash..!!  Tepat menembus jantung kuda betina. Saat sekarat, meregang nyawa, kuda  itu lenyap. Dan, berubah menjadi sosok seorang Dewi yang cantik sekali.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;“Wahai Drona, namaku Dewi Wilutama ,” katanya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;“Aku  seorang bidadari. Aku diutus Hyang Guru untuk menggodamu. Kini,  pengabdianku telah berakhir. Aku akan kembali ke Swarga Loka. Namun,  sebelum aku pergi. Kutitip anak kita padamu. Rawatlah anak kita, agar  menjadi manusia berguna. Anak ini, tadinya belum punya nama. Maka,  kuberi nama &lt;b&gt;Aswatama&lt;/b&gt;.”&lt;br /&gt;Setelah menyerahkan Aswatama, Dewi Wilutama kembali ke kahyangan. Hanya tinggal Drona dan Aswatama yang merana diguyur sunyi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kumpulan Dongeng Hindu olih Putu Sugih Arta&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.google
